Minggu, 04 Januari 2026

Bukan Sekadar Kerja Kelompok: 7 Kebenaran Mengejutkan Tentang Belajar Aktif yang Wajib Guru Tahu

Anggap saja teknik-teknik dalam pembelajaran aktif sebagai 'stetoskop' bagi pengajar; mereka memungkinkan diagnosis pemahaman kelas secara real-time, sehingga 'resep' pengajaran dapat disesuaikan sebelum 'penyakit' kebingungan menjadi kronis. Ini adalah lingkaran umpan balik yang dinamis dan responsif.

Pendahuluan: Mengapa Belajar yang Membosankan Harus Jadi Masa Lalu?

Pernahkah Anda duduk di ruang kelas, menatap guru yang sedang bersemangat menjelaskan, namun pikiran Anda melayang entah ke mana? Anda mencatat atau hanya duduk, mengangguk, tetapi tidak ada satu pun materi yang benar-benar meresap. Pengalaman ini adalah gejala klasik dari pembelajaran pasif sebuah model di mana siswa hanyalah bejana kosong yang menunggu untuk diisi.

Namun, ada sebuah filosofi pendidikan yang membalikkan keadaan ini: active learning atau pembelajaran aktif. Ini bukan sekadar metode, melainkan pergeseran pola pikir yang fundamental. Pembelajaran aktif mengubah siswa dari penerima pasif menjadi partisipan yang bertanggung jawab atas proses belajar mereka sendiri.

Apa Arti Pembelajaran Aktif?

Agar peserta didik dapat memahami informasi dan ide baru, mereka perlu menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah ada, sehingga mereka dapat memproses dan kemudian memahami materi baru. Proses pemahaman ini merupakan proses aktif yang dapat berlangsung selama berbagai kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dibedakan dengan pendekatan pasif dalam pembelajaran di mana guru terutama berbicara 'kepada' siswa dan hanya berasumsi bahwa mereka akan memahami apa yang dikatakan tanpa perlu memeriksa.

Pembelajaran aktif mengharuskan siswa untuk berpikir keras dan berlatih menggunakan pengetahuan dan keterampilan baru untuk mengembangkan daya ingat jangka panjang dan pemahaman yang lebih dalam. Pemahaman yang lebih dalam ini juga akan memungkinkan peserta didik untuk menghubungkan berbagai ide dan berpikir kreatif, setelah basis pengetahuan awal telah kokoh.

Apa Teori di Balik Pembelajaran Aktif?

1.    Pembelajaran aktif didasarkan pada teori pembelajaran yang disebut konstruktivisme, yang menekankan fakta bahwa peserta didik membangun pemahaman mereka. Jean Piaget (1896–1980), seorang psikolog dan pendiri konstruktivisme, meneliti perkembangan kognitif anak-anak, mengamati bahwa pengetahuan mereka dibangun secara individual, sedikit demi sedikit. Dalam proses pembuatan makna, anak-anak mengganti atau menyesuaikan pengetahuan dan pemahaman mereka yang ada dengan tingkat pemahaman yang lebih dalam.

2.  Pembelajaran terjadi ketika pengetahuan berpindah dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang dan dimasukkan ke dalam model mental yang semakin detail dan canggih yang disebut skema atau schemata. Skema dapat dianggap sebagai kategori yang kita gunakan untuk mengklasifikasikan informasi yang masuk (Wadsworth, 1996, hlm. 16).

3.    Teori konstruktivisme sosial menyatakan bahwa pembelajaran terutama terjadi melalui interaksi sosial dengan orang lain, seperti guru atau teman sebaya pelajar. Salah satu tokoh konstruktivis sosial terkemuka, Lev Vygotsky (1896–1934), menggambarkan zona perkembangan proksimal (ZPD). Ini adalah area di mana aktivitas pembelajaran harus difokuskan, terletak di antara apa yang dapat dicapai pelajar secara mandiri dan apa yang dapat dicapai pelajar dengan bimbingan ahli.

4.  Scaffolding menggambarkan dukungan yang diterima seorang siswa atau kelompok siswa saat mereka berupaya mencapai tujuan pembelajaran. Gagasan scaffolding dikembangkan oleh psikolog kognitif Jerome Bruner (1915–2016) yang meneliti pemerolehan bahasa lisan pada anak-anak. Berdasarkan konstruktivisme sosial, proses scaffolding 'memungkinkan seorang anak atau pemula untuk memecahkan masalah, melaksanakan tugas, atau mencapai tujuan yang akan melampaui upaya mereka tanpa bantuan' (Wood, Bruner & Ross, 1976, hlm. 90). Pembelajaran scaffolding penting untuk memperoleh pengetahuan dan/atau keterampilan baru, tetapi dukungan juga harus ditarik dari waktu ke waktu dan, jika sesuai, untuk memungkinkan siswa mengembangkan kemandirian.

5.     Taksonomi Bloom yang direvisi (Anderson, Krathwohl et al, 2001) menawarkan klasifikasi jenis pengetahuan dan proses kognitif yang digunakan siswa untuk belajar. Pendekatan pembelajaran aktif akan membantu siswa berkembang di setiap tahap Taksonomi Bloom; hal ini akan memungkinkan peserta didik untuk terlibat dengan proses kognitif yang lebih kompleks seperti mengevaluasi dan menciptakan, serta membangun basis pengetahuan yang dimulai dengan, tetapi tidak terbatas pada, pengetahuan faktual. Misalnya, untuk mengembangkan pengetahuan metakognitif, siswa perlu terlibat aktif dan menyadari pembelajaran mereka sendiri.

Istilah Lain Apa yang Terkait dengan Pembelajaran Aktif?

Pendekatan dan terminologi lain yang terkait dengan pembelajaran aktif meliputi yang tercantum di bawah ini. Ide-ide ini dipengaruhi oleh para pendidik di awal abad ke-20 seperti John Dewey (1859–1952) dan Maria Montessori (1870–1952) yang menganjurkan pendekatan yang berpusat pada anak. Perlu dicatat bahwa terdapat variasi dalam definisi dan penggunaan istilah oleh penulis yang berbeda dan beberapa aspek mungkin bertentangan:

1.  Pembelajaran yang berpusat pada siswa, atau berpusat pada pembelajar, di mana siswa memainkan peran aktif dalam pembelajaran mereka, dengan guru sebagai penggerak pembelajaran, bukan sebagai instruktur.

2.     Pembelajaran berbasis penyelidikan, berbasis masalah, atau penemuan, di mana peserta didik belajar dengan membahas dan mengajukan pertanyaan, menganalisis bukti, menghubungkan bukti tersebut dengan pengetahuan yang sudah ada, menarik kesimpulan, dan merefleksikan temuan mereka.

3.  Pembelajaran pengalaman, yang secara luas menggambarkan seseorang belajar dari pengalaman langsung.

Sebagai seorang praktisi pendidikan, saya telah melihat bahwa kesalahpahaman terbesar tentang pembelajaran aktif justru terletak pada hal-hal yang paling mendasar. Secara sederhana, pembelajaran aktif adalah tentang belajar dengan melakukan, bukan sekadar mendengar. Namun, di balik konsep yang tampaknya sederhana ini, tersimpan beberapa kebenaran yang sering disalahpahami, bahkan oleh para pendidik sekalipun.

Apa Pentingnya Pembelajaran Aktif?

Pembelajaran aktif sangat penting karena mengubah peran siswa dari penerima informasi pasif menjadi pembangun pemahaman yang giat. Berdasarkan sumber yang Anda berikan, berikut adalah alasan utama mengapa pendekatan ini krusial untuk pembelajaran mendalam:

1. Membangun Pemahaman Mendalam (Deep Learning): Siswa dituntut untuk "berpikir keras" dan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki, sehingga menciptakan pemahaman yang bermakna, bukan sekadar hafalan singkat.

2.  Meningkatkan Retensi Jangka Panjang: Dengan terlibat langsung dalam proses konstruksi pengetahuan, siswa mampu menyimpan informasi dalam memori jangka panjang dengan lebih baik dibandingkan hanya mendengarkan ceramah.

3. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS): Aktivitas ini melatih kemampuan analisis, evaluasi, dan sintesis, serta kemampuan metakognisi—yaitu kesadaran siswa akan proses belajar mereka sendiri.

4. Meningkatkan Motivasi dan Kemandirian: Memberikan tanggung jawab dan kontrol kepada siswa atas pembelajaran mereka meningkatkan rasa memiliki (ownership), kepuasan personal, dan mempersiapkan mereka untuk belajar sepanjang hayat.

5.  Kemampuan Transfer Pengetahuan: Siswa belajar bagaimana menerapkan fakta dan ide ke dalam konteks baru atau masalah dunia nyata, yang sangat dihargai oleh universitas dan pemberi kerja

Beberapa Miskonsepsi Tentang Pembelajaran Aktif

Berdasarkan beberapa sumber yang tersedia, terdapat beberapa miskonsepsi utama mengenai pembelajaran aktif:

1.  Salah Menafsirkan Peran Guru: Ada anggapan bahwa siswa harus belajar sendiri tanpa intervensi guru. Faktanya, guru harus berperan sebagai "aktivator" yang memimpin strategi, memberikan instruksi langsung, dan menyediakan scaffolding (dukungan terstruktur), bukan sekadar menjadi fasilitator pasif.

2.  Bentuk Aktivitas Fisik: Banyak yang mengira pembelajaran aktif harus melibatkan siswa bergerak di dalam kelas atau selalu bekerja dalam kelompok. Padahal, pembelajaran aktif terjadi selama siswa "berpikir keras" dan menghubungkan ide baru dengan pengetahuan yang sudah ada, bahkan bisa melalui instruksi langsung yang melibatkan interaksi seluruh kelas.

3.  Keseragaman Kebutuhan Siswa: Anggapan bahwa semua siswa memerlukan pendekatan yang sama di waktu yang sama adalah keliru. Kebutuhan siswa di dalam satu kelas sangat beragam, sehingga aktivitas harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan mereka agar semua siswa mengalami kemajuan.

4.  Kemudahan Menilai Hasil Belajar: Seringkali dianggap mudah untuk mengetahui apa yang telah dipelajari siswa. Namun, karena belajar terjadi di dalam pikiran, guru seringkali sulit mendeteksi pemahaman yang salah (miskonsepsi) akibat adanya "bias konfirmasi" pada siswa.


Selanjutnya berhubungan dengan pembelajaran aktif juga ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru. Anda dapat meminimalkan dan bahkan mungkin menghilangkan penolakan siswa terhadap pembelajaran aktif dengan meluangkan sedikit waktu pada hari pertama kelas untuk menjelaskan apa yang akan Anda lakukan, mengapa Anda akan melakukannya, dan apa manfaatnya bagi siswa. Selanjutnya Anda harus menghindari jebakan dalam pelaksanaan pembelajaran aktif yang dijelaskan dalam tabel di bawah ini.

Enam Kesalahan Umum dalam Pembelajaran Aktif

No

Kesalahan

Cara Menghindari Kesalahan

1

Langsung terjun ke pembelajaran aktif tanpa penjelasan.

Pertama, jelaskan apa yang akan Anda lakukan dan mengapa hal itu demi kepentingan terbaik siswa.

2

Mengharapkan semua siswa untuk dengan antusias membentuk kelompok pada pertama kali Anda meminta mereka.

Bersikap proaktif dengan siswa yang enggan dalam beberapa aktivitas kelompok pertama yang Anda lakukan.

3

Membuat aktivitas terlalu mudah.

Buat tugas pembelajaran aktif cukup menantang untuk membenarkan waktu yang dibutuhkan untuk melakukannya.

4

Membuat aktivitas terlalu panjang, seperti memberikan seluruh masalah dalam satu aktivitas.

Jaga agar aktivitas tetap singkat dan terfokus (lima detik hingga tiga menit). Bagi masalah besar menjadi bagian-bagian kecil.

5

Meminta sukarelawan setelah

setiap aktivitas.

Setelah beberapa aktivitas, panggil secara acak individu atau kelompok untuk melaporkan hasil mereka.

6

Terjebak dalam rutinitas yang dapat diprediksi.

Variasikan format dan durasi aktivitas serta interval di antara aktivitas tersebut.

Baca Juga: 228 Teknik Pembelajaran Interaktif untuk Mengaktifkan Peserta Didik dalamKelas

Berikut dipaparkan tujuh kebenaran tentang pembelajaran aktif dan beberapa di antaranya mungkin terasa berlawanan dengan intuisi bukanlah sekadar teknik, melainkan pilar-pilar yang saling terkait untuk membangun ekosistem pembelajaran di mana siswa menjadi arsitek pengetahuannya sendiri. Namun sebelum itu kita bahas dulu kenapa pembelajaran aktif itu penting bagi siswa.

7 Daftar Kebenaran Mengejutkan Tentang Pembelajaran Aktif

1.  "Aktif" Bukan Berarti Sibuk, Tapi Bertanggung Jawab

Miskonsepsi paling umum tentang pembelajaran aktif adalah ia harus selalu riuh, penuh aktivitas fisik, atau kerja kelompok yang bising. Kenyataannya, esensi dari pembelajaran aktif bukanlah kesibukan fisik, melainkan keterlibatan mental.

Inti dari pembelajaran aktif adalah saat siswa mengambil "lebih banyak tanggung jawab dalam pembelajaran mereka sendiri". Ini adalah tentang proses internal di mana siswa secara sadar memproses, mempertanyakan, dan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Aktivitas yang tampak "pasif" seperti menyalin catatan tanpa berpikir tidak bisa dianggap sebagai pembelajaran aktif.

...jika siswa menyalin apa yang tertulis di papan tulis atau slide ke dalam buku catatan mereka... kita tidak bisa mengatakan bahwa pembelajaran aktif sedang berlangsung.

Contoh teknik pembelajaran aktif yang menekankan pemrosesan mental dan tanggung jawab pribadi antara lain One-Sentence Summary, di mana siswa ditantang untuk merangkum seluruh topik kompleks ke dalam satu kalimat kreatif, atau Directed Paraphrasing, di mana mereka harus menjelaskan kembali sebuah konsep untuk audiens yang spesifik. Keduanya adalah aktivitas hening yang memaksa otak untuk bekerja keras.

2.  Peran Guru Justru Semakin Berat, Bukan Menjadi Lebih Ringan

Ada anggapan keliru bahwa dengan membuat siswa lebih aktif, beban kerja guru menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya. Pendekatan ini menuntut lebih banyak persiapan, perencanaan, dan fleksibilitas dari seorang pengajar. Beban ini bertambah berat justru karena tujuan utamanya adalah untuk secara bertahap mengalihkan tanggung jawab kognitif kepada siswa (seperti yang dibahas pada Poin 1).

Peran guru bergeser dari "sage on the stage" (orang bijak di atas panggung) yang hanya mentransfer informasi, menjadi seorang fasilitator, perencana, dan motivator. Mereka harus merancang skenario pembelajaran yang matang, mengantisipasi berbagai respons siswa, dan siap memandu diskusi tanpa mendominasi.

...meskipun mereka (guru) tampak kurang terlibat dibandingkan dengan pendekatan tradisional, tanggung jawab dan komitmen yang lebih besar dituntut dari mereka, tetapi hasilnya sepadan dengan usaha ekstra dan profesionalisme.

Teknik seperti Jigsaw (Group Experts), di mana guru harus secara strategis menanam "ahli" di setiap kelompok baru, atau Case Studies, yang menuntut persiapan skenario yang mendalam dan relevan, adalah bukti bahwa peran guru dalam pembelajaran aktif jauh lebih kompleks dan menantang.

Silakan simak juga video di bawah ini yang membahas tentang 15 teknik termasuk Jigsaw yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran.

3.  Momen Hening Adalah Salah Satu Senjata Paling Ampuh

Di tengah hiruk pikuk diskusi dan aktivitas, salah satu alat pembelajaran aktif yang paling kuat justru adalah keheningan. Jeda yang disengaja dan strategis dapat menciptakan ruang bagi pemahaman yang lebih dalam.

Teknik spesifik seperti Think Break, di mana guru mengajukan pertanyaan retoris lalu memberikan jeda 20 detik bagi siswa untuk berpikir sebelum melanjutkan penjelasan mendorong partisipasi mental bahkan saat diskusi tidak memungkinkan. Ada pula Strategic Pausing, yaitu jeda yang disengaja setelah menyampaikan poin penting atau konsep kunci.

Mengapa ini efektif? Jeda hening memberikan siswa waktu yang sangat berharga untuk memproses informasi, merenungkan implikasinya, dan menghubungkan ide-ide baru dengan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya. Dalam keheningan inilah otak mendapatkan kesempatan krusial untuk melakukan 'pengkabelan ulang' menghubungkan informasi baru ke jaringan pengetahuan yang sudah ada, sebuah proses yang mustahil dilakukan di tengah rentetan informasi verbal yang tak henti.

4.  Menukar Hafalan Luas dengan Pemahaman Mendalam

Salah satu kritik yang sering dilontarkan terhadap pembelajaran aktif adalah metode ini "memakan waktu", sehingga cakupan materi yang bisa dibahas menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan metode ceramah tradisional. Kritik ini ada benarnya, tetapi ia melewatkan poin utamanya.

Ini bukan kompromi, melainkan investasi strategis. Pembelajaran aktif berinvestasi pada 'daya transfer' (transferability) yaitu kemampuan siswa untuk menerapkan konsep di situasi baru yang jauh lebih berharga daripada sekadar 'daya ingat' (recall) fakta yang terisolasi.

Sisi terbaik dari pembelajaran aktif adalah melibatkan siswa dalam menemukan/membangun pengetahuan daripada menghafal.

Teknik seperti Application to Major, yang meminta siswa menghubungkan materi pelajaran dengan bidang studi utama mereka, atau Process Analysis, di mana siswa melacak dan mengomentari langkah-langkah mental mereka dalam menyelesaikan sebuah tugas, adalah contoh sempurna dari fokus pada pemahaman mendalam ini.

5.  Umpan Balik Bukan Jalan Satu Arah, Tapi Dialog Real-Time

Dalam kelas tradisional, umpan balik sering kali bersifat satu arah (dari guru ke siswa) dan datang di akhir (saat ujian atau tugas besar). Pembelajaran aktif mengubah ini menjadi dialog dua arah yang terjadi secara real-time.

Banyak teknik pembelajaran aktif yang pada dasarnya adalah alat "penilaian formatif". Tujuannya bukan untuk memberi nilai pada siswa, tetapi untuk memberi informasi kepada pengajar tentang tingkat pemahaman kelas saat itu juga. Teknik seperti Muddiest Point, di mana siswa menuliskan poin yang paling membingungkan dari sebuah pelajaran, atau One-Minute Papers, di mana mereka merangkum hal terpenting yang baru dipelajari, adalah contohnya.

Anggap saja teknik-teknik dalam pembelajaran aktif sebagai 'stetoskop' bagi pengajar; mereka memungkinkan diagnosis pemahaman kelas secara real-time, sehingga 'resep' pengajaran dapat disesuaikan sebelum 'penyakit' kebingungan menjadi kronis. Ini adalah lingkaran umpan balik yang dinamis dan responsif.

6.  Siswa Bisa (dan Seharusnya) Ikut Membuat Instrumen Asesmen Sendiri

Salah satu manifestasi tertinggi dari pembelajaran aktif adalah ketika siswa tidak lagi hanya menjawab soal ujian, membuat sesuatu, atau melakukan sesuatu tetapi juga ikut merancangnya asesmennya. Teknik yang dikenal sebagai Student Generated Assessment ini adalah bentuk tertinggi dari keterlibatan siswa.

Alasannya sangat kuat. Aktivitas ini "mendorong mereka untuk berpikir lebih dalam tentang materi pelajaran dan untuk mengeksplorasi tema-tema utama, perbandingan pandangan, aplikasi, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi lainnya." Untuk bisa membuat soal ujian atau instrumen asesmen yang baik, seorang siswa harus benar-benar menguasai materi dari sudut pandang seorang pengajar.

Aktivitas ini secara fundamental mengubah dinamika penilaian. Ujian atau asesmen tidak lagi menjadi sesuatu yang "dilakukan terhadap" siswa, melainkan sebuah proses di mana siswa berpartisipasi secara aktif. Mereka menjadi mitra dalam proses evaluasi pembelajaran mereka sendiri.

7.  Semua Ini Bukan Hanya untuk Kelas Fisik, Tapi Juga Kelas Daring

Banyak yang mengira pembelajaran aktif hanya efektif di ruang kelas fisik. Ini adalah mitos. Prinsip-prinsip pembelajaran aktif sangat fleksibel dan mudah diadaptasi ke dalam lingkungan belajar daring, baik secara sinkron (langsung) maupun asinkron (tidak langsung).

Fleksibilitas teknologi modern justru membuka lebih banyak peluang untuk pembelajaran aktif:

  • Contoh 1 (Asinkron): Teknik klasik One-Minute Paper dapat dengan mudah diubah menjadi tugas singkat di forum diskusi platform seperti Canvas, yang harus diisi siswa setelah menonton video pembelajaran.
  • Contoh 2 (Sinkron): Fitur polling di aplikasi konferensi video seperti Zoom adalah pengganti sempurna untuk Finger Signals (sinyal jari untuk menjawab ya/tidak), yang memungkinkan guru memeriksa pemahaman seluruh kelas dalam sekejap.
  • Contoh 3 (Kerja Kelompok): Aktivitas Cooperative Groups in Class dapat diimplementasikan dengan mulus menggunakan fitur breakout rooms, yang memungkinkan diskusi kelompok kecil yang terfokus dalam sesi kelas daring yang besar.

Kemampuan beradaptasi ini menjadikan pembelajaran aktif bukan hanya relevan, tetapi juga semakin krusial di era pendidikan hibrida yang memadukan pembelajaran tatap muka dan daring.

Setelah kita membahas 7 hal mengenai belajar aktif, maka di bawah ini terdapat strategi pembelajaran aktif dengan metodologi kerangka kerja 5E yang berdasarkan model inkuiri 5E. Metodologi kerangka kerja inkuiri 5E ini dapat juga kita kelompokkan sesuai dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Fase atau tahap Terlibat, Menjelajahi, dan Menjelaskan merupakan pengalaman belajar Memahami; tahap Mengembangkan merupakan Mengaplikasi; dan tahap Mengevaluasi merupakan pengalaman belajar Merefleksi.

Contoh Strategi Pembelajaran Aktif dengan Kerangka Kerja 5E

Kerangka kerja 5E adalah sebuah metodologi inkuiri yang dirancang agar siswa dapat membangun dan mempertahankan pengetahuan melalui rangkaian pengalaman yang terstruktur oleh pengajar. Kerangka ini memastikan siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi secara aktif memprosesnya melalui pengalaman dan refleksi. Banyak strategi pembelajaran aktif dapat digunakan dalam satu atau lebih bagian kerangka kerja.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai lima fase tersebut:

1. Engage (Terlibat): Fokus fase ini adalah menarik minat mental siswa dengan memberikan "hook" atau pemicu yang menangkap perhatian mereka. Tujuannya adalah membuat hubungan eksplisit antara pengetahuan awal siswa dengan ide-ide baru, serta memberikan kerangka pengorganisasi bagi informasi yang akan dipelajari selanjutnya. Strategi yang bisa digunakan meliputi pemutaran video kontroversial, peta pikiran (mind mapping), atau kuis awal (pre-quiz).

 

2. Explore (Menjelajahi): Pada fase ini, guru memfasilitasi aktivitas yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi konsep atau keterampilan secara langsung. Siswa didorong untuk terlibat dengan masalah, mendeskripsikannya dengan kata-kata mereka sendiri, dan berbagi pengalaman umum dengan rekan sejawat mereka. Teknik yang efektif di sini antara lain adalah jigsaw, brainstorming, dan think-pair-share.

 

3. Explain (Menjelaskan): Fase ini dilakukan setelah siswa memiliki pengalaman eksplorasi, di mana pengajar mulai memperkenalkan konsep dan istilah teknis untuk membantu siswa mengembangkan penjelasan atas fenomena yang telah mereka alami. Penjelasan selalu mengikuti pengalaman fisik atau mental siswa. Siswa bekerja untuk mengartikulasikan pemikiran mereka melalui presentasi, diskusi atau peer tutoring.


4. Elaborate (Mengembangkan): Siswa menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang baru didapat untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam atau demonstrasi keterampilan yang lebih baik. Pada tahap ini, siswa harus mendiskusikan dan membandingkan ide untuk melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi. Teknik yang berdampak besar untuk pembelajaran mendalam di fase ini meliputi studi kasus (case studies), debat kritis, dan proyek kolaboratif.

 

5. Evaluate (Mengevaluasi): Fokus fase terakhir ini adalah meninjau dan merefleksikan pembelajaran serta pemahaman baru yang telah dicapai. Siswa diharapkan memberikan bukti nyata atas hasil belajar mereka melalui berbagai bentuk penilaian. Aktivitasnya mencakup penggunaan rubrik evaluasi mandiri, one-minute papers, atau refleksi terhadap tujuan pembelajaran awal.


Tips Praktis: Bagaimana sekolah dapat memanfaatkan pembelajaran aktif sebaik-baiknya?

1.     Prioritaskan pengembangan profesional dalam pembelajaran aktif. Dorong guru untuk bekerja sama dan berbagi praktik yang mendorong pengembangan pembelajaran aktif di kelas. Misalnya, sebuah kelompok dapat bertemu secara teratur untuk merefleksikan bacaan tentang pembelajaran aktif atau untuk berbagi pengalaman mereka dalam menerapkan strategi baru. Penting juga untuk mendorong guru untuk memperbarui pengetahuan mata pelajaran dan pengetahuan konten pedagogis mereka sesuai dengan kelompok usia yang mereka ajar (Coe et al, 2014; Rowe et al, 2012).

2. Saat ujian semakin dekat, mungkin akan tergoda untuk beralih dari pendekatan pembelajaran aktif. Namun, sekadar menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik tidak akan sepenuhnya mempersiapkan mereka untuk tuntutan ujian. Mengembangkan etos sekolah yang berfokus pada pembelajaran siswa di seluruh kurikulum yang luas sangat penting untuk menumbuhkan pemahaman, kenikmatan, dan kepemilikan siswa atas pembelajaran mereka sendiri, serta hasil ujian yang baik.

3.   Mengevaluasi dampak strategi baru yang diimplementasikan, baik yang dicoba di seluruh sekolah atau oleh guru atau departemen tertentu, dan membagikan temuannya (lihat Memulai Evaluasi Dampak).

Bagaimana guru dapat memanfaatkan pembelajaran aktif secara optimal?

1.  Guru harus meninjau dan mengaktifkan pembelajaran siswa sebelumnya, dan membantu mereka menghubungkan materi baru. Mereka harus terus-menerus meminta umpan balik tentang pembelajaran semua siswa melalui penggunaan pertanyaan yang efektif, termasuk sistem respons seluruh siswa. Umpan balik tentang pembelajaran siswa ini harus digunakan untuk mengkonfirmasi atau menyesuaikan rencana pengajaran di masa mendatang.

2.    Pengetahuan baru harus disajikan secara bertahap, dengan kesempatan untuk latihan dan peninjauan yang terstruktur dengan baik (Rosenshine, 2012), misalnya, pengujian berisiko rendah pada interval waktu tertentu telah terbukti meningkatkan daya ingat (EEF, 2014). Ini bukan berarti pendekatan berbasis penyelidikan yang lebih terbuka tidak memiliki tempatnya. Memang, Mourshed et al (2017) menyarankan bahwa pendekatan berbasis inkuiri yang digunakan dengan baik dapat meningkatkan prestasi secara signifikan, tetapi hanya jika pendekatan tersebut digunakan secara hemat dan diintegrasikan dalam konteks yang lebih luas dari pembelajaran berkualitas tinggi yang dipimpin oleh guru (Mourshed et al, 2017).

3.   Peserta didik membutuhkan waktu yang cukup untuk memproses informasi baru. Siswa umumnya perlu terlibat dengan konten yang dijelaskan secara lengkap setidaknya tiga kali, dan dengan cara yang berbeda (bukan hanya pengulangan konten), sebelum mereka dapat mengingatnya (Nuthall, 2007).

4.     Guru harus mendorong peserta didik untuk sadar dan strategis dalam strategi kognitif yang mereka gunakan. Mereka harus didukung dalam mengembangkan keterampilan perencanaan, pemantauan, dan evaluasi pembelajaran mereka (lihat Education Brief: Metacognition, EEF 2019b).

5.     Mengingat bahwa peserta didik membangun pengetahuan melalui media bahasa (Edwards & Mercer, 1995), guru harus memungkinkan peserta didik untuk membangun pengetahuan melalui berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis. Penggunaan dialog yang terfokus dan berkualitas tinggi, diskusi berpasangan, dan kerja kelompok penting dalam memproses pembelajaran baru dan menumbuhkan pemahaman.

Kesimpulan: Satu Langkah Kecil Menuju Pembelajaran yang Lebih Baik

Pembelajaran aktif bukanlah sekadar kumpulan teknik atau aktivitas yang "seru". Ia adalah sebuah pergeseran fundamental dalam pola pikir tentang bagaimana belajar itu terjadi. Ia memberdayakan siswa untuk menjadi pemilik proses belajar mereka dan mengubah peran guru menjadi fasilitator pembelajaran yang lebih dinamis.

Peran guru yang lebih berat (Poin 2) menjadi fondasi yang diperlukan agar siswa dapat mengambil tanggung jawab kognitif (Poin 1). Mekanisme seperti dialog umpan balik real-time (Poin 5) dan pelibatan siswa dalam membuat soal ujian (Poin 6) adalah alat untuk mentransfer kepemilikan proses belajar tersebut. Kebenaran-kebenaran ini menunjukkan bahwa pembelajaran aktif lebih dalam, lebih menantang, dan jauh lebih fleksibel daripada yang sering kita bayangkan.

Setelah mengetahui semua ini, satu langkah kecil apa yang bisa Anda terapkan besok untuk menjadikan proses belajar Anda (atau siswa Anda) lebih aktif dan bermakna?

0 comments:

Posting Komentar