Anggap saja teknik-teknik
dalam pembelajaran aktif sebagai 'stetoskop' bagi pengajar; mereka
memungkinkan diagnosis pemahaman kelas secara real-time, sehingga 'resep'
pengajaran dapat disesuaikan sebelum 'penyakit' kebingungan menjadi
kronis. Ini adalah lingkaran umpan balik yang dinamis dan responsif.
Pendahuluan: Mengapa Belajar yang Membosankan Harus
Jadi Masa Lalu?
Pernahkah
Anda duduk di ruang kelas, menatap guru yang sedang bersemangat menjelaskan,
namun pikiran Anda melayang entah ke mana? Anda mencatat atau hanya duduk,
mengangguk, tetapi tidak ada satu pun materi yang benar-benar meresap.
Pengalaman ini adalah gejala klasik dari pembelajaran pasif sebuah model di
mana siswa hanyalah bejana kosong yang menunggu untuk diisi.
Namun, ada
sebuah filosofi pendidikan yang membalikkan keadaan ini: active learning
atau pembelajaran aktif. Ini bukan sekadar metode, melainkan pergeseran pola
pikir yang fundamental. Pembelajaran aktif mengubah siswa dari penerima pasif menjadi
partisipan yang bertanggung jawab atas proses belajar mereka sendiri.
Apa Arti Pembelajaran Aktif?
Agar peserta didik dapat memahami
informasi dan ide baru, mereka perlu menghubungkannya dengan pengetahuan yang
sudah ada, sehingga mereka dapat memproses dan kemudian memahami materi baru.
Proses pemahaman ini merupakan proses aktif yang dapat berlangsung selama
berbagai kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dibedakan dengan pendekatan pasif
dalam pembelajaran di mana guru terutama berbicara 'kepada' siswa dan hanya
berasumsi bahwa mereka akan memahami apa yang dikatakan tanpa perlu memeriksa.
Pembelajaran aktif mengharuskan
siswa untuk berpikir keras dan berlatih menggunakan pengetahuan dan
keterampilan baru untuk mengembangkan daya ingat jangka panjang dan pemahaman
yang lebih dalam.
Pemahaman yang lebih dalam ini juga akan memungkinkan peserta didik untuk
menghubungkan berbagai ide dan berpikir kreatif, setelah basis pengetahuan awal
telah kokoh.
Apa Teori di Balik Pembelajaran Aktif?
1. Pembelajaran aktif didasarkan
pada teori pembelajaran yang disebut konstruktivisme, yang menekankan
fakta bahwa peserta didik membangun pemahaman mereka. Jean Piaget
(1896–1980), seorang psikolog dan pendiri konstruktivisme, meneliti
perkembangan kognitif anak-anak, mengamati bahwa pengetahuan mereka dibangun
secara individual, sedikit demi sedikit. Dalam proses pembuatan makna,
anak-anak mengganti atau menyesuaikan pengetahuan dan pemahaman mereka yang ada
dengan tingkat pemahaman yang lebih dalam.
2. Pembelajaran terjadi ketika pengetahuan
berpindah dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang dan dimasukkan
ke dalam model mental yang semakin detail dan canggih yang disebut skema atau
schemata. Skema dapat dianggap sebagai kategori yang kita gunakan untuk
mengklasifikasikan informasi yang masuk (Wadsworth, 1996, hlm. 16).
3. Teori konstruktivisme sosial menyatakan bahwa pembelajaran
terutama terjadi melalui interaksi sosial dengan orang lain, seperti guru atau
teman sebaya pelajar. Salah satu tokoh konstruktivis sosial terkemuka, Lev
Vygotsky (1896–1934), menggambarkan zona perkembangan proksimal (ZPD). Ini
adalah area di mana aktivitas pembelajaran harus difokuskan, terletak di antara
apa yang dapat dicapai pelajar secara mandiri dan apa yang dapat dicapai
pelajar dengan bimbingan ahli.
4. Scaffolding menggambarkan dukungan yang
diterima seorang siswa atau kelompok siswa saat mereka berupaya mencapai tujuan
pembelajaran. Gagasan scaffolding dikembangkan oleh psikolog kognitif
Jerome Bruner (1915–2016) yang meneliti pemerolehan bahasa lisan pada
anak-anak. Berdasarkan konstruktivisme sosial, proses scaffolding 'memungkinkan
seorang anak atau pemula untuk memecahkan masalah, melaksanakan tugas, atau
mencapai tujuan yang akan melampaui upaya mereka tanpa bantuan' (Wood,
Bruner & Ross, 1976, hlm. 90). Pembelajaran scaffolding penting untuk
memperoleh pengetahuan dan/atau keterampilan baru, tetapi dukungan juga harus
ditarik dari waktu ke waktu dan, jika sesuai, untuk memungkinkan siswa
mengembangkan kemandirian.
5. Taksonomi Bloom yang direvisi (Anderson, Krathwohl et al,
2001) menawarkan klasifikasi jenis pengetahuan dan proses kognitif yang
digunakan siswa untuk belajar. Pendekatan pembelajaran aktif akan membantu
siswa berkembang di setiap tahap Taksonomi Bloom; hal ini akan memungkinkan
peserta didik untuk terlibat dengan proses kognitif yang lebih kompleks seperti
mengevaluasi dan menciptakan, serta membangun basis pengetahuan yang dimulai
dengan, tetapi tidak terbatas pada, pengetahuan faktual. Misalnya, untuk
mengembangkan pengetahuan metakognitif, siswa perlu terlibat aktif dan
menyadari pembelajaran mereka sendiri.
Istilah Lain Apa yang Terkait
dengan Pembelajaran Aktif?
Pendekatan dan terminologi lain
yang terkait dengan pembelajaran aktif meliputi yang tercantum di bawah ini.
Ide-ide ini dipengaruhi oleh para pendidik di awal abad ke-20 seperti John
Dewey (1859–1952) dan Maria Montessori (1870–1952) yang menganjurkan
pendekatan yang berpusat pada anak. Perlu dicatat bahwa terdapat variasi
dalam definisi dan penggunaan istilah oleh penulis yang berbeda dan beberapa
aspek mungkin bertentangan:
1. Pembelajaran yang berpusat pada
siswa, atau
berpusat pada pembelajar, di mana siswa memainkan peran aktif dalam
pembelajaran mereka, dengan guru sebagai penggerak pembelajaran, bukan sebagai
instruktur.
2. Pembelajaran berbasis
penyelidikan, berbasis
masalah, atau penemuan, di mana peserta didik belajar dengan membahas dan
mengajukan pertanyaan, menganalisis bukti, menghubungkan bukti tersebut dengan
pengetahuan yang sudah ada, menarik kesimpulan, dan merefleksikan temuan
mereka.
3. Pembelajaran pengalaman, yang secara luas menggambarkan
seseorang belajar dari pengalaman langsung.
Sebagai seorang
praktisi pendidikan, saya telah melihat bahwa kesalahpahaman terbesar tentang
pembelajaran aktif justru terletak pada hal-hal yang paling mendasar. Secara
sederhana, pembelajaran aktif adalah tentang belajar dengan melakukan,
bukan sekadar mendengar. Namun, di balik konsep yang tampaknya sederhana
ini, tersimpan beberapa kebenaran yang sering disalahpahami, bahkan oleh para
pendidik sekalipun.
Apa
Pentingnya Pembelajaran Aktif?
Pembelajaran
aktif sangat penting karena mengubah peran siswa dari penerima
informasi pasif menjadi pembangun pemahaman yang giat. Berdasarkan
sumber yang Anda berikan, berikut adalah alasan utama mengapa pendekatan ini
krusial untuk pembelajaran mendalam:
1. Membangun Pemahaman Mendalam (Deep Learning): Siswa dituntut untuk "berpikir keras"
dan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki,
sehingga menciptakan pemahaman yang bermakna, bukan sekadar hafalan singkat.
2. Meningkatkan Retensi Jangka Panjang: Dengan terlibat langsung dalam proses konstruksi
pengetahuan, siswa mampu menyimpan informasi dalam memori jangka panjang dengan
lebih baik dibandingkan hanya mendengarkan ceramah.
3. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi
(HOTS): Aktivitas
ini melatih kemampuan analisis, evaluasi, dan sintesis, serta kemampuan
metakognisi—yaitu kesadaran siswa akan proses belajar mereka sendiri.
4. Meningkatkan Motivasi dan Kemandirian: Memberikan tanggung jawab dan kontrol kepada siswa
atas pembelajaran mereka meningkatkan rasa memiliki (ownership), kepuasan
personal, dan mempersiapkan mereka untuk belajar sepanjang hayat.
5. Kemampuan Transfer Pengetahuan: Siswa belajar bagaimana menerapkan fakta dan ide
ke dalam konteks baru atau masalah dunia nyata, yang sangat dihargai oleh
universitas dan pemberi kerja
Beberapa Miskonsepsi Tentang Pembelajaran Aktif
Berdasarkan beberapa sumber yang tersedia, terdapat
beberapa miskonsepsi utama mengenai pembelajaran aktif:
1. Salah Menafsirkan Peran Guru: Ada anggapan bahwa siswa harus belajar sendiri
tanpa intervensi guru. Faktanya, guru harus berperan sebagai
"aktivator" yang memimpin strategi, memberikan instruksi langsung,
dan menyediakan scaffolding (dukungan terstruktur), bukan sekadar
menjadi fasilitator pasif.
2. Bentuk Aktivitas Fisik: Banyak yang mengira pembelajaran aktif harus
melibatkan siswa bergerak di dalam kelas atau selalu bekerja dalam kelompok.
Padahal, pembelajaran aktif terjadi selama siswa "berpikir keras" dan
menghubungkan ide baru dengan pengetahuan yang sudah ada, bahkan bisa melalui
instruksi langsung yang melibatkan interaksi seluruh kelas.
3. Keseragaman Kebutuhan Siswa: Anggapan bahwa semua siswa memerlukan pendekatan
yang sama di waktu yang sama adalah keliru. Kebutuhan siswa di dalam satu kelas
sangat beragam, sehingga aktivitas harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan
mereka agar semua siswa mengalami kemajuan.
4. Kemudahan Menilai Hasil Belajar: Seringkali dianggap mudah untuk mengetahui apa
yang telah dipelajari siswa. Namun, karena belajar terjadi di dalam pikiran,
guru seringkali sulit mendeteksi pemahaman yang salah (miskonsepsi) akibat
adanya "bias konfirmasi" pada siswa.
Selanjutnya berhubungan dengan
pembelajaran aktif juga ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru.
Anda dapat meminimalkan dan bahkan mungkin menghilangkan penolakan siswa
terhadap pembelajaran aktif dengan meluangkan sedikit waktu pada hari
pertama kelas untuk menjelaskan apa yang akan Anda lakukan, mengapa Anda
akan melakukannya, dan apa manfaatnya bagi siswa. Selanjutnya Anda harus menghindari
jebakan dalam pelaksanaan pembelajaran aktif yang dijelaskan dalam tabel di
bawah ini.
Enam Kesalahan
Umum dalam Pembelajaran Aktif
|
No |
Kesalahan |
Cara
Menghindari Kesalahan |
|
1 |
Langsung
terjun ke pembelajaran aktif tanpa penjelasan. |
Pertama,
jelaskan apa yang akan Anda lakukan dan mengapa hal itu demi kepentingan
terbaik siswa. |
|
2 |
Mengharapkan
semua siswa untuk dengan antusias membentuk kelompok pada pertama kali Anda
meminta mereka. |
Bersikap
proaktif dengan siswa yang enggan dalam beberapa aktivitas kelompok pertama
yang Anda lakukan. |
|
3 |
Membuat
aktivitas terlalu mudah. |
Buat
tugas pembelajaran aktif cukup menantang untuk membenarkan waktu yang
dibutuhkan untuk melakukannya. |
|
4 |
Membuat
aktivitas terlalu panjang, seperti memberikan seluruh masalah dalam satu
aktivitas. |
Jaga
agar aktivitas tetap singkat dan terfokus (lima detik hingga tiga menit).
Bagi masalah besar menjadi bagian-bagian kecil. |
|
5 |
Meminta
sukarelawan setelah setiap
aktivitas. |
Setelah
beberapa aktivitas, panggil secara acak individu atau kelompok untuk
melaporkan hasil mereka. |
|
6 |
Terjebak
dalam rutinitas yang dapat diprediksi. |
Variasikan
format dan durasi aktivitas serta interval di antara aktivitas tersebut. |
Baca Juga: 228 Teknik Pembelajaran Interaktif untuk Mengaktifkan Peserta Didik dalamKelas
Berikut
dipaparkan tujuh kebenaran tentang pembelajaran aktif dan beberapa di
antaranya mungkin terasa berlawanan dengan intuisi bukanlah sekadar teknik,
melainkan pilar-pilar yang saling terkait untuk membangun ekosistem
pembelajaran di mana siswa menjadi arsitek pengetahuannya sendiri. Namun
sebelum itu kita bahas dulu kenapa pembelajaran aktif itu penting bagi siswa.
7 Daftar Kebenaran Mengejutkan Tentang Pembelajaran
Aktif
1. "Aktif" Bukan Berarti Sibuk, Tapi
Bertanggung Jawab
Miskonsepsi paling umum tentang pembelajaran aktif adalah ia harus
selalu riuh, penuh aktivitas fisik, atau kerja kelompok yang bising.
Kenyataannya, esensi dari pembelajaran aktif bukanlah kesibukan fisik,
melainkan keterlibatan mental.
Inti dari pembelajaran aktif adalah saat siswa mengambil "lebih
banyak tanggung jawab dalam pembelajaran mereka sendiri". Ini adalah
tentang proses internal di mana siswa secara sadar memproses, mempertanyakan,
dan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Aktivitas
yang tampak "pasif" seperti menyalin catatan tanpa berpikir tidak
bisa dianggap sebagai pembelajaran aktif.
...jika siswa menyalin apa yang tertulis di papan tulis atau slide ke
dalam buku catatan mereka... kita tidak bisa mengatakan bahwa pembelajaran
aktif sedang berlangsung.
Contoh teknik pembelajaran aktif yang menekankan pemrosesan mental dan
tanggung jawab pribadi antara lain One-Sentence Summary, di mana
siswa ditantang untuk merangkum seluruh topik kompleks ke dalam satu kalimat
kreatif, atau Directed Paraphrasing, di mana mereka harus
menjelaskan kembali sebuah konsep untuk audiens yang spesifik. Keduanya adalah
aktivitas hening yang memaksa otak untuk bekerja keras.
2. Peran Guru Justru Semakin Berat, Bukan Menjadi
Lebih Ringan
Ada anggapan keliru bahwa dengan membuat siswa lebih aktif, beban kerja
guru menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya. Pendekatan ini menuntut lebih
banyak persiapan, perencanaan, dan fleksibilitas dari seorang pengajar. Beban
ini bertambah berat justru karena tujuan utamanya adalah untuk secara
bertahap mengalihkan tanggung jawab kognitif kepada siswa (seperti yang dibahas
pada Poin 1).
Peran guru bergeser dari "sage on the stage"
(orang bijak di atas panggung) yang hanya mentransfer informasi, menjadi
seorang fasilitator, perencana, dan motivator. Mereka harus merancang skenario
pembelajaran yang matang, mengantisipasi berbagai respons siswa, dan siap
memandu diskusi tanpa mendominasi.
...meskipun mereka (guru) tampak kurang terlibat dibandingkan dengan
pendekatan tradisional, tanggung jawab dan komitmen yang lebih besar dituntut
dari mereka, tetapi hasilnya sepadan dengan usaha ekstra dan profesionalisme.
Teknik seperti Jigsaw (Group Experts), di mana guru harus secara
strategis menanam "ahli" di setiap kelompok baru, atau Case
Studies, yang menuntut persiapan skenario yang mendalam dan relevan, adalah
bukti bahwa peran guru dalam pembelajaran aktif jauh lebih kompleks dan
menantang.
Silakan simak juga video di bawah ini yang membahas tentang 15 teknik termasuk Jigsaw yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran.
3. Momen Hening Adalah Salah Satu Senjata Paling Ampuh
Di tengah hiruk pikuk diskusi dan aktivitas, salah satu alat
pembelajaran aktif yang paling kuat justru adalah keheningan. Jeda yang
disengaja dan strategis dapat menciptakan ruang bagi pemahaman yang lebih
dalam.
Teknik spesifik seperti Think Break, di mana guru
mengajukan pertanyaan retoris lalu memberikan jeda 20 detik bagi siswa untuk
berpikir sebelum melanjutkan penjelasan mendorong partisipasi mental bahkan
saat diskusi tidak memungkinkan. Ada pula Strategic Pausing,
yaitu jeda yang disengaja setelah menyampaikan poin penting atau konsep kunci.
Mengapa ini efektif? Jeda hening memberikan siswa waktu yang sangat
berharga untuk memproses informasi, merenungkan implikasinya, dan menghubungkan
ide-ide baru dengan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya. Dalam
keheningan inilah otak mendapatkan kesempatan krusial untuk melakukan 'pengkabelan
ulang' menghubungkan informasi baru ke jaringan pengetahuan yang sudah ada,
sebuah proses yang mustahil dilakukan di tengah rentetan informasi verbal yang
tak henti.
4. Menukar Hafalan Luas dengan Pemahaman Mendalam
Salah satu kritik yang sering dilontarkan terhadap pembelajaran aktif
adalah metode ini "memakan waktu", sehingga cakupan materi
yang bisa dibahas menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan metode ceramah
tradisional. Kritik ini ada benarnya, tetapi ia melewatkan poin utamanya.
Ini bukan kompromi, melainkan investasi strategis. Pembelajaran aktif
berinvestasi pada 'daya transfer' (transferability) yaitu kemampuan
siswa untuk menerapkan konsep di situasi baru yang jauh lebih berharga daripada
sekadar 'daya ingat' (recall) fakta yang terisolasi.
Sisi terbaik dari pembelajaran aktif adalah melibatkan siswa dalam
menemukan/membangun pengetahuan daripada menghafal.
Teknik seperti Application to Major, yang meminta siswa
menghubungkan materi pelajaran dengan bidang studi utama mereka, atau Process
Analysis, di mana siswa melacak dan mengomentari langkah-langkah mental
mereka dalam menyelesaikan sebuah tugas, adalah contoh sempurna dari fokus pada
pemahaman mendalam ini.
5. Umpan Balik Bukan Jalan Satu Arah, Tapi Dialog Real-Time
Dalam kelas tradisional, umpan balik sering kali bersifat satu arah
(dari guru ke siswa) dan datang di akhir (saat ujian atau tugas besar). Pembelajaran
aktif mengubah ini menjadi dialog dua arah yang terjadi secara real-time.
Banyak teknik pembelajaran aktif yang pada dasarnya adalah alat "penilaian
formatif". Tujuannya bukan untuk memberi nilai pada siswa, tetapi
untuk memberi informasi kepada pengajar tentang tingkat pemahaman kelas saat
itu juga. Teknik seperti Muddiest Point, di mana siswa menuliskan
poin yang paling membingungkan dari sebuah pelajaran, atau One-Minute Papers,
di mana mereka merangkum hal terpenting yang baru dipelajari, adalah contohnya.
Anggap saja teknik-teknik dalam pembelajaran aktif sebagai 'stetoskop'
bagi pengajar; mereka memungkinkan diagnosis pemahaman kelas secara real-time,
sehingga 'resep' pengajaran dapat disesuaikan sebelum 'penyakit'
kebingungan menjadi kronis. Ini adalah lingkaran umpan balik yang
dinamis dan responsif.
6. Siswa Bisa (dan Seharusnya) Ikut Membuat Instrumen
Asesmen Sendiri
Salah satu manifestasi tertinggi dari pembelajaran aktif adalah ketika
siswa tidak lagi hanya menjawab soal ujian, membuat sesuatu, atau melakukan
sesuatu tetapi juga ikut merancangnya asesmennya. Teknik yang dikenal sebagai Student
Generated Assessment ini adalah bentuk tertinggi dari keterlibatan
siswa.
Alasannya sangat kuat. Aktivitas ini "mendorong mereka untuk
berpikir lebih dalam tentang materi pelajaran dan untuk mengeksplorasi
tema-tema utama, perbandingan pandangan, aplikasi, dan keterampilan berpikir
tingkat tinggi lainnya." Untuk bisa membuat soal ujian atau instrumen
asesmen yang baik, seorang siswa harus benar-benar menguasai materi dari sudut
pandang seorang pengajar.
Aktivitas ini secara fundamental mengubah dinamika penilaian. Ujian atau
asesmen tidak lagi menjadi sesuatu yang "dilakukan terhadap"
siswa, melainkan sebuah proses di mana siswa berpartisipasi secara aktif. Mereka
menjadi mitra dalam proses evaluasi pembelajaran mereka sendiri.
7. Semua Ini Bukan Hanya untuk Kelas Fisik, Tapi Juga
Kelas Daring
Banyak yang mengira pembelajaran aktif hanya efektif di ruang kelas
fisik. Ini adalah mitos. Prinsip-prinsip pembelajaran aktif sangat fleksibel
dan mudah diadaptasi ke dalam lingkungan belajar daring, baik secara sinkron (langsung)
maupun asinkron (tidak langsung).
Fleksibilitas teknologi modern justru membuka lebih banyak peluang untuk
pembelajaran aktif:
- Contoh
1 (Asinkron):
Teknik klasik One-Minute Paper dapat dengan mudah diubah
menjadi tugas singkat di forum diskusi platform seperti Canvas, yang harus
diisi siswa setelah menonton video pembelajaran.
- Contoh
2 (Sinkron): Fitur
polling di aplikasi konferensi video seperti Zoom adalah pengganti
sempurna untuk Finger Signals (sinyal jari untuk menjawab ya/tidak),
yang memungkinkan guru memeriksa pemahaman seluruh kelas dalam sekejap.
- Contoh
3 (Kerja Kelompok):
Aktivitas Cooperative Groups in Class dapat
diimplementasikan dengan mulus menggunakan fitur breakout rooms,
yang memungkinkan diskusi kelompok kecil yang terfokus dalam sesi kelas
daring yang besar.
Kemampuan
beradaptasi ini menjadikan pembelajaran aktif bukan hanya relevan, tetapi juga
semakin krusial di era pendidikan hibrida yang memadukan pembelajaran tatap
muka dan daring.
Setelah
kita membahas 7 hal mengenai belajar aktif, maka di bawah ini terdapat strategi
pembelajaran aktif dengan metodologi kerangka kerja 5E yang berdasarkan model
inkuiri 5E. Metodologi kerangka kerja inkuiri 5E ini dapat juga kita
kelompokkan sesuai dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Fase atau tahap Terlibat,
Menjelajahi, dan Menjelaskan merupakan pengalaman belajar Memahami; tahap Mengembangkan
merupakan Mengaplikasi; dan tahap Mengevaluasi merupakan pengalaman belajar
Merefleksi.
Contoh
Strategi Pembelajaran Aktif dengan Kerangka Kerja 5E
Kerangka kerja 5E adalah sebuah metodologi inkuiri yang dirancang agar siswa dapat membangun dan mempertahankan pengetahuan melalui rangkaian pengalaman yang terstruktur oleh pengajar. Kerangka ini memastikan siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi secara aktif memprosesnya melalui pengalaman dan refleksi. Banyak strategi pembelajaran aktif dapat digunakan dalam satu atau lebih bagian kerangka kerja.
Berikut
adalah penjelasan mendalam mengenai lima fase tersebut:
1. Engage (Terlibat): Fokus fase
ini adalah menarik minat mental siswa dengan memberikan "hook"
atau pemicu yang menangkap perhatian mereka. Tujuannya adalah membuat
hubungan eksplisit antara pengetahuan awal siswa dengan ide-ide baru, serta
memberikan kerangka pengorganisasi bagi informasi yang akan dipelajari
selanjutnya. Strategi yang bisa digunakan meliputi pemutaran video
kontroversial, peta pikiran (mind mapping), atau kuis awal (pre-quiz).
2. Explore (Menjelajahi): Pada fase
ini, guru memfasilitasi aktivitas yang memberikan kesempatan bagi siswa
untuk mengeksplorasi konsep atau keterampilan secara langsung. Siswa
didorong untuk terlibat dengan masalah, mendeskripsikannya dengan kata-kata
mereka sendiri, dan berbagi pengalaman umum dengan rekan sejawat mereka. Teknik
yang efektif di sini antara lain adalah jigsaw, brainstorming,
dan think-pair-share.
3. Explain (Menjelaskan): Fase ini
dilakukan setelah siswa memiliki pengalaman eksplorasi, di mana pengajar
mulai memperkenalkan konsep dan istilah teknis untuk membantu siswa
mengembangkan penjelasan atas fenomena yang telah mereka alami. Penjelasan
selalu mengikuti pengalaman fisik atau mental siswa. Siswa bekerja untuk
mengartikulasikan pemikiran mereka melalui presentasi, diskusi atau peer
tutoring.
4. Elaborate (Mengembangkan): Siswa menerapkan
pengetahuan atau keterampilan yang baru didapat untuk mengembangkan pemahaman
yang lebih dalam atau demonstrasi keterampilan yang lebih baik. Pada tahap
ini, siswa harus mendiskusikan dan membandingkan ide untuk melatih keterampilan
berpikir tingkat tinggi. Teknik yang berdampak besar untuk pembelajaran
mendalam di fase ini meliputi studi kasus (case studies), debat
kritis, dan proyek kolaboratif.
5. Evaluate (Mengevaluasi): Fokus fase terakhir ini adalah meninjau dan
merefleksikan pembelajaran serta pemahaman baru yang telah dicapai. Siswa
diharapkan memberikan bukti nyata atas hasil belajar mereka melalui berbagai
bentuk penilaian. Aktivitasnya mencakup penggunaan rubrik evaluasi mandiri, one-minute
papers, atau refleksi terhadap tujuan pembelajaran awal.
Tips Praktis: Bagaimana sekolah
dapat memanfaatkan pembelajaran aktif sebaik-baiknya?
1. Prioritaskan pengembangan
profesional dalam pembelajaran aktif.
Dorong guru untuk bekerja sama dan berbagi praktik yang mendorong
pengembangan pembelajaran aktif di kelas. Misalnya, sebuah kelompok dapat
bertemu secara teratur untuk merefleksikan bacaan tentang pembelajaran aktif
atau untuk berbagi pengalaman mereka dalam menerapkan strategi baru. Penting
juga untuk mendorong guru untuk memperbarui pengetahuan mata pelajaran dan
pengetahuan konten pedagogis mereka sesuai dengan kelompok usia yang mereka
ajar (Coe et al, 2014; Rowe et al, 2012).
2. Saat ujian semakin dekat, mungkin
akan tergoda untuk beralih dari pendekatan pembelajaran aktif. Namun, sekadar menyampaikan
pengetahuan kepada peserta didik tidak akan sepenuhnya mempersiapkan mereka
untuk tuntutan ujian. Mengembangkan etos sekolah yang berfokus pada
pembelajaran siswa di seluruh kurikulum yang luas sangat penting untuk
menumbuhkan pemahaman, kenikmatan, dan kepemilikan siswa atas pembelajaran
mereka sendiri, serta hasil ujian yang baik.
3. Mengevaluasi dampak strategi baru
yang diimplementasikan,
baik yang dicoba di seluruh sekolah atau oleh guru atau departemen tertentu,
dan membagikan temuannya (lihat Memulai Evaluasi Dampak).
Bagaimana guru dapat memanfaatkan
pembelajaran aktif secara optimal?
1. Guru
harus meninjau dan mengaktifkan pembelajaran siswa sebelumnya, dan membantu
mereka menghubungkan materi baru.
Mereka harus terus-menerus meminta umpan balik tentang pembelajaran semua siswa
melalui penggunaan pertanyaan yang efektif, termasuk sistem respons seluruh
siswa. Umpan balik tentang pembelajaran siswa ini harus digunakan untuk
mengkonfirmasi atau menyesuaikan rencana pengajaran di masa mendatang.
2. Pengetahuan
baru harus disajikan secara bertahap,
dengan kesempatan untuk latihan dan peninjauan yang terstruktur dengan baik
(Rosenshine, 2012), misalnya, pengujian berisiko rendah pada interval waktu
tertentu telah terbukti meningkatkan daya ingat (EEF, 2014). Ini bukan berarti
pendekatan berbasis penyelidikan yang lebih terbuka tidak memiliki tempatnya.
Memang, Mourshed et al (2017) menyarankan bahwa pendekatan berbasis inkuiri
yang digunakan dengan baik dapat meningkatkan prestasi secara signifikan,
tetapi hanya jika pendekatan tersebut digunakan secara hemat dan diintegrasikan
dalam konteks yang lebih luas dari pembelajaran berkualitas tinggi yang dipimpin
oleh guru (Mourshed et al, 2017).
3. Peserta
didik membutuhkan waktu yang cukup untuk memproses informasi baru. Siswa umumnya perlu terlibat
dengan konten yang dijelaskan secara lengkap setidaknya tiga kali, dan dengan
cara yang berbeda (bukan hanya pengulangan konten), sebelum mereka dapat
mengingatnya (Nuthall, 2007).
4.
Guru
harus mendorong peserta didik untuk sadar dan strategis dalam strategi kognitif
yang mereka gunakan.
Mereka harus didukung dalam mengembangkan keterampilan perencanaan, pemantauan,
dan evaluasi pembelajaran mereka (lihat Education Brief: Metacognition, EEF
2019b).
5.
Mengingat
bahwa peserta didik membangun pengetahuan melalui media bahasa (Edwards
& Mercer, 1995), guru harus memungkinkan peserta didik untuk membangun
pengetahuan melalui berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis.
Penggunaan dialog yang terfokus dan berkualitas tinggi, diskusi berpasangan,
dan kerja kelompok penting dalam memproses pembelajaran baru dan menumbuhkan
pemahaman.
Kesimpulan: Satu Langkah Kecil Menuju Pembelajaran
yang Lebih Baik
Pembelajaran
aktif bukanlah sekadar kumpulan teknik atau aktivitas yang "seru". Ia
adalah sebuah pergeseran fundamental dalam pola pikir tentang bagaimana belajar
itu terjadi. Ia memberdayakan siswa untuk menjadi pemilik proses belajar mereka
dan mengubah peran guru menjadi fasilitator pembelajaran yang lebih dinamis.
Peran guru
yang lebih berat (Poin 2) menjadi fondasi yang diperlukan agar siswa dapat
mengambil tanggung jawab kognitif (Poin 1). Mekanisme seperti dialog umpan
balik real-time (Poin 5) dan pelibatan siswa dalam membuat soal ujian
(Poin 6) adalah alat untuk mentransfer kepemilikan proses belajar tersebut.
Kebenaran-kebenaran ini menunjukkan bahwa pembelajaran aktif lebih dalam, lebih
menantang, dan jauh lebih fleksibel daripada yang sering kita bayangkan.
Setelah mengetahui semua ini, satu langkah kecil apa yang bisa Anda terapkan besok untuk menjadikan proses belajar Anda (atau siswa Anda) lebih aktif dan bermakna?
















0 comments:
Posting Komentar