Bulan Ramadhan sudah masuk, tapi
jujur deh, banyak siswa yang menganggap Pesantren Kilat (Sanlat) cuma momen
"pindah tidur" massal. Bayangkan: perut kosong, cuaca panas, lalu
dijejali ceramah kaku berjam-jam di aula atau masjid. Hasilnya? Mata berat,
materi lewat, dan suasana jadi garing parah.
Sebagai pendidik, kita harus sadar bahwa Sanlat punya potensi besar untuk menjadi spiritual level-up bagi para remaja. Masalahnya, kalau metodenya masih "gitu-gitu aja," kita bakal kalah saing dengan konten hiburan di gadget mereka. Kita perlu merumuskan ulang Sanlat agar tidak sekadar menjadi rutinitas "gugur kewajiban," tapi menjadi pengalaman yang benar-benar dirindukan.
Tulisan ini membahas 7 hal yang
berhubungan dengan mendesain kegiatan pesantren kilat agar lebih menarik dan
bermakna bagi siswa yang merupakan anak remaja. Semoga bermanfaat.











