Minggu, 05 Agustus 2018

CARA MEMBUAT RPP BERKARAKTER DAN KECAKAPAN ABAD 21 EDISI TAHUN 2018 BESERTA CONTOH UNTUK 31 MATA PELAJARAN

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di dalam kurikulum 2013 selalu mengalami pembaharuan yang bersifat untuk menyempurnakan. Maka pada tahun 2018 ini tetap ada pembaharuan dengan mengedepankan pelaksanaan keterampilan abad 21 dan karakter di dalam pembelajarannya. Untuk menyusun RPP yang benar Anda dapat mempelajari hakikat, prinsip dan langkah-langkah penyusunan RPP seperti yang salah satunya tertera pada Permendikbud No 22 Tentang Standar Proses Tahun 2016. Sedangkan untuk penilaian Permendikbud No 23 Tahun 2016 tentang standar penilaian dan panduan penilaian terbaru Tahun 2017 sebelum keluar yang baru Tahun 2018 ini.
Dalam RPP perlu kita mengitegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didalam pembelajaran. Karakter yang diperkuat terutama 5 karakter, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Selain PPK pada pembelajaran perlu juga diintegrasikan literasi; keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative); dan HOTS (Higher Order Thinking Skill.
Gerakan PPK perlu mengintegrasikan, memperdalam, memperluas, dan sekaligus menyelaraskan berbagai program dan kegiatan pendidikan karakter yang sudah dilaksanakan sampai sekarang. Dalam hubungan ini pengintegrasian dapat berupa pemaduan kegiatan kelas, luar kelas di sekolah, dan luar sekolah (masyarakat/komunitas); pemaduan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler; pelibatan secara serempak warga sekolah, keluarga, dan masyarakat; perdalaman dan perluasan dapat berupa penambahan dan pengintensifan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada pengembangan karakter siswa, penambahan dan penajaman kegiatan belajar siswa, dan pengaturan ulang waktu belajar siswa di sekolah atau luar sekolah; kemudian penyelerasan dapat berupa penyesuaian tugas pokok guru, Manajemen Berbasis Sekolah, dan fungsi Komite Sekolah dengan kebutuhan Gerakan PPK.
Pengertian Literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Literasi dapat dijabarkan menjadi Literasi Dasar (Basic Literacy), Literasi Perpustakaan (Library Literacy), Literasi Media (Media Literacy), Literasi Teknologi (Technology Literacy), Literasi Visual (Visual Literacy).
 Keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation). Inilah yang sesungguhnya ingin kita tuju dengan K-13, bukan sekadar transfer materi. Tetapi pembentukan 4C. Sebenarnya kata ini tidak terlalu baru untuk kita. Di berbagai kesempatan, kita sudah sering mendengar beberapa pakar menjelaskan pentingnya penguasaan 4C sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di Abad 21, abad di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis. Penguasaan keterampilan abad 21 sangat penting, 4 C adalah  jenis softskill yang pada implementasi keseharian, jauh lebih bermanfaat ketimbang sekadar pengusaan hardskill.
 Higher Order of Thinking Skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kurikulum 2013 juga menuntut materi pembelajarannya sampai metakognitif yang mensyaratkan peserta didik mampu untuk memprediksi, mendesain, dan memperkirakan. Sejalan dengan itu ranah dari HOTS yaitu analisis yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi aspek-aspek/elemen dari sebuah konteks tertentu; evaluasi merupakan kemampuan berpikir dalam mengambil keputusan berdasarkan fakta/informasi; dan mengkreasi meruapakan kemampuan berpikir dalam membangun gagasan/ide-ide.
Sehingga di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang kita buat agar muncul empat macam hal tersebut (PPK, Literasi, 4C, dan HOTS) maka perlu kreatifitas guru dalam meramunya. Maka tidak mungkin lagi menggunakan model/metode/strategi/pendekatan yang berpusat kepada guru, namun kita perlu mengaktifkan siswa dalam pembelajaran (Active Learning).
Pada tulisan ini dilengkapi uraian tentang komponen RPP serta contoh RPP untuk beberapa mata pelajaran yang telah mengalami perbaikan dengan mengintegrasikan  PPK, Literasi, 4C, dan HOTS. Namun contoh RPP menggunakan balon (caption) di bawah ini hanya untuk memudahkan dalam menjelaskan komponen pengeintegrasiannya, pada RPP sebenarnya balon (caption) ini TIDAK ADA dan tetap seperti biasa dalam bentuk narasi.. Selanjutnya pada akhir tulisan ini terdapat tautan untuk mengunduh RPP inspirasi untuk 31 mata pelajaran yang ada di SMA dan ini hanya sebagai contoh dan belum tentu sudah sesuai dengan panduan RPP yang terbaru. Selain itu juga ada panduan untuk membuat RPP. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.
        
       Format RPP
Secara lebih jelas komponen-komponen RPP secara operasional diwujudkan dalam bentuk format berikut ini.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN  
(RPP)
Sekolah                      :   SMA Negeri 21 Batam
Mata pelajaran           :   Kimia
            Materi Pokok              :   Reaksi Redoks
Kelas/Semester          :    X/1
 Alokasi Waktu           :   2 x 45 Menit (1 x Pertemuan)
A.     Kompetensi Inti (KI)

           Kompetensi sikap:
  (untuk mata pelajaran agama dan PPKn dituliskan KI 1 dan KI 2 sedangkan untuk mata     pelajaran yang lain dibuat dalam satu deskripsi. Hal ini bertujuan agar dalam pembelajaran guru selain PABP dan PPKn juga membelajarkan sikap biarpun di dalam pembelajaran tidak langsung dengan penilaian menggunakan jurnal. KI ini terdapat dalam permendikbud No 21 Tahun 2016)

KI-3 :……………….
KI-4 :………………                                                     
      Contoh:

Sabtu, 09 Juni 2018

Bentuk Kegiatan dan Strategi Pelaksanaan Tahap-Tahap Literasi di Sekolah

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Gerakan Literasi di sekolah merupakan suatu kegiatan yang wajib kita laksanakan dalam rangka implementasi kurikulum 2013. Namun masih banyak sekolah yang belum melaksanakannya secara maksimal. Antara lain masalahnya adalah pemahaman terhadap gerakan literasi ini sendiri. Tulisan ini menjelaskan tahap-tahap implementasi gerakan literasi tersebut yang dimulai penyiapan sarana dan prasarana yang sesuai dengan tahap-tahap pelaksanaannya. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.

Bentuk Kegiatan Literasi di Sekolah
 Tekhnis Konsep Literasi (Harian, Mingguan, Bulanan, Per Semester/enam bulanan) Sekolah :
1.      Kegiatan Harian
a.       Membaca buku-buku (budi pekerti, novel, biografi, pengembangan diri, dll) 15 menit sebelum pelajaran  dimulai di kelas masing-masing.
b.      Menyediakan Pojok Literasi di perpustakaan, taman, atau lokasi manapun yang nyaman di lingkungan sekolah
c.        Menjadwalkan kegiatan literasi (membaca, menulis, mendongeng, bermain drama, menggambar,  kerajinan tangan, dst) bagi setiap kelas di Pojok Literasi
d.      Membuat Majalah Dinding di perpustakaan sekolah sebagai media apresiasi karya anak
e.       Mengaitkan setiap mata pelajaran dengan buku-buku yang mengandung nilai-nilai budi pekerti  luhur
f.       Mengarahkan hukuman siswa (yang bolos, tawuran, tdk mengerjakan tugas, dll) dengan menyumbang buku anak untuk sekolah, membuat rangkuman, dan esai
g.      Membuat form observasi untuk menilai kemajuan anak dalam hal literasi.
h.      Memposting gambar/cerita kegiatan literasi di media sosial (facebook dan whatsap)

2.      Mingguan
a.       Mengadakan quis atau perlombaan kegiatan literasi (lomba membaca, mendongeng, berpuisi, drama cerita rakyat, menari, dst) yang menyenangkan
b.      Meminta dan memotivasi  anak untuk berkunjung ke Perpustakaan atau Taman yang merupakan kegiatan mingguan Perpustakaan
c.       Mendorong dan mendampingi anak untuk membuat karya (mengarang, pusi, gambar, dll) untuk dimuat di media massa
d.      Melakukan Evaluasi dan Observasi terhadap pelaksanaan kegiatan literasi di akhir pekan

3.      Bulanan
a.       Mengadakan kegiatan kunjungan ke pusat-pusat Literasi (toko buku, museum, rumah adat, tokoh masyarakat, dinas Pariwisata, dan seterusnya)
b.      Mengadakan Lomba Karya Literasi Antar Kelas. Lomba Karya Literasi antar kelas juga bisa menjadi salah satu program gerakan literasi sekolah yang menarik. Lombanya bisa berupa lomba mading antar kelas, lomba poster antar kelas, lomba membuat pohon literasi antar kelas, dan lain-lain.
c.       Diskusi Hasil Resensi Buku. Peserta didik membaca buku, buku tersebut diresensi kemudian didiskusikan dalam acara diskusi bulanan.
d.      Lomba Perpustakaan Kelas. Setiap kelas membuat perpustakaan diisi sendiri oleh peserta didik sendiri dan dinilai setiap bulan.
e.       Tantangan membaca. Sekolah membuat tantangan kepada  peserta didik yang berhasil membaca 10 buku dalam satu bulan.

4.      Semester
a.       Memberi reward kepada siswa yang mendapatkan nilai terbaik dalam bidang literasi (reading award dan writing award)
b.      Mendorong orang tua siswa untuk menjadi penyumbang buku anak di akhir semester.
c.       Mengadakan Lomba Duta Literasi Sekolah. Agenda Lomba Duta Literasi sekolah merupakan salah satu program alternatif untuk memotivasi anak dalam ber-literasi. Beberapa kriteria untuk menjadi Duta Literasi Sekolah antara lain adalah siapa peminjam buku perpustakaan terbanyak dalam 1 semester/siapa yang berhasil menyelesaikan banyak buku untuk dibaca dalam 1 semester, dan lain-lain.

Sabtu, 17 Maret 2018

Gambar dan Video untuk Sosialisasi Gerakan Literasi di Sekolah



Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia. Literasi pada awalnya dimaknai 'keberaksaraan' dan selanjutnya dimaknai 'melek' atau 'keterpahaman'. Pada langkah awal, “melek baca dan tulis" ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal.
Komunitas sekolah akan terus berproses untuk menjadi individu ataupun sekolah yang literat. Untuk itu, implementasi GLS pun merupakan sebuah proses agar siswa menjadi literat, warga sekolah menjadi literat, yang akhirnya literat menjadi kultur atau budaya yang dimiliki individu atau sekolah tersebut. Saat ini kegiatan di sekolah ditengarai belum optimal mengembangkan kemampuan literasi warga sekolah khususnya guru dan siswa.
Hal ini disebabkan antara lain oleh minimnya pemahaman warga sekolah terhadap pentingnya kemampuan literasi dalam kehidupan mereka serta minimnya penggunaan buku-buku di sekolah selain buku-teks pelajaran. Kegiatan membaca di sekolah masih terbatas pada pembacaan buku teks pelajaran dan belum melibatkan jenis bacaan lain.
Gambar dan Video di bawah ini dapat dijadikan bahan untuk menjelaskan atau mensosialisasikan Gerakan Literasi Sekolah.
Gambar
Gambar 1. Empat Cara Membaca
Gambar 2. Kelas Kaya Literasi
Gambar 3. Memilih Buku Bacaan yang Baik

Senin, 15 Januari 2018

SISTEM KREDIT SEMESTER UNTUK SMA TERBARU

Tulisan ini memaparkan tentang penerapan Sistem Kredit Semester (SKS) di tingkat sekolah menengah atas (SMA). SKS ini merupakan salah satu sistem pembelajaran selain sistem pembelajaran sistem paket. Pada sistem ini peserta didik belajar sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing dan pendekatan pembelajarannya berdasarkan pembelajaran individual. Untuk melayani peserta didik yang cepat dalam belajarnya maka sekolah perlu menyediakan unit pembelajaran yang dapat berupa modul atau sekarang diistilahkan dengan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM). Pada akhir tulisan ini juga dilengkapi dengan bahan-bahan yang bisa Anda download seperti bahan presentasi sampai RPP dan UKBM untuk semua pelajaran. Semoga bermanfaat.
A.     Pengertian Sistem Kredit Semester (SKS)
Dalam Permendikbud Nomor 158 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester pada Pendidikan Dasar dan menengah Pasal 1 menyebutkan bahwa Sistem Kredit Semester selanjutnya disebut SKS adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan yang peserta didiknya menyepakati  jumlah beban belajar yang diikuti  dan/atau strategi belajar setiap semester pada satuan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajarnya. SKS diselenggarakan melalui pengorganisasian pembelajaran bervariasi dan pengelolaan waktu belajar yang fleksibel. Pengorganisasian pembelajaran bervariasi dilakukan melalui penyediaan unit-unit pembelajaran utuh setiap mata pelajaran yang dapat diikuti oleh peserta didik. Pengelolaan waktu belajar yang fleksibel dilakukan melalui pengambilan beban belajar untuk unit-unit pembelajaran utuh setiap mata pelajaran oleh peserta didik sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing.Unitpembelajaran utuh disebut juga dengan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM). Unit Kegiatan Belajar merupakan satuan pelajaran yang kecil yang disusun secara berurutan dari yang mudah sampai ke yang sukar.Satuan pelajaran tersebut merupakan pelabelan penguasaan belajar peserta didik terhadap pengetahuan dan keterampilan yang disusun menjadi unit-unit kegiatan belajar yang melibatkan satuan waktu belajar, misalnya 2x45 menit (90 menit). UKBM tersebut memuat Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD)serta strategi pembelajaran individual untuk mencapai ketuntasan beban belajar yang telah ditentukan. Dalam UKBM di samping sebagai pelabelan penguasaan peserta didik terhadap pengetahuan dan keterampilan diharapkan juga memberikan dampak pengiring terbangunnya karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan abad 21 seperti berpikir kritis, bertindak kreatif, bekerjasama, berkomunikasi, dan lain-lain.

Minggu, 12 November 2017

7 Lembaga Pendidikan Kerjasama Kementerian Pendidikan ASEAN (SEAMEO) di Indonesia



SEAMEO adalah singkatan dari Southeast Asian Ministers of Education Organization yang merupakan organisasi para Menteri Pendidikan  se Asia Tenggara yang didirikan pada tanggal 30 November 1965, keanggotaan SEAMEO terdiri 10 negara ASEAN dan ditambah Timor Leste. Lembaga-Lembaga SEAMEO berjumlah 22 buah yang tersebar di negara-negara anggota ASEAN dan di Indonesia terdapat 7 buah. Lembaga-lembaga ini dapat dimanfatkan oleh sekolah atau lembaga pendidikan termasuk dinas pendidikan dalam rangka peningkatan mutu. Uraian di bawah ini akan menjelaskan lembaga SEAMEO yang terdapat di Indonesia.

1.        SEAMEO Regional Centre for Tropical Biology (BIOTROP)
Terletak di Bogor dan didirikan tahun 1968. Tujuannya untuk mengembangkan biologi tropis, terutama terkait dengan pembangunan berkelanjutan bagi ekosistem tropis. Programnya antara lain adalah sebagai berikut :
a.     Berbagai program terkait biodiversity dan konservasi, bioteknologi dan lingkungan.
b.    Beasiswa Master of Science in Information Technology for Natural Resources Management.
c.    Diseminasi karya ilmiah pada Jurnal “Biotropia” (ter-indeks SCOPUS)  
Alamat Website : http://www.biotrop.org

2.        SEAMEO Regional Centre for Quality Improvement of Teachers and Education 
Personnel (QITEP) in Mathematics (SEAMEO QITEP in Mathematics) SEAQIM.
Bertempat di Yogyakarta, Indonesia (2009). Mengembangkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di bidang matematika. Programnya antara lain menawarkan pelatihan regular, pelatihan dalam negeri dan customized Course untuk mengembangkan kualitas guru dan tenaga kependidikan dalam bidang  matematika. 
Alamat Website : http://www.qitepinmath.org/

3.   SEAMEO Regional Centre for Quality Improvement of Teacher and Education Personnel (QITEP) in Languange (SEAMEO QITEP in Languange) SEAQIL.
Bertempat di Jakarta, Indonesia (2009). Lembaga ini merupakan pusat SEAMEO untuk bidang pelatihan, pengembangan dan peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di bidang Bahasa.
Programnya antara lain menawarkan program pelatihan, penelitian, serta workshop untuk meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan dalam bidang Bahasa.

4. SEAMEO Regional Centre for Quality Improvement of Teachers and Education Personnel (QITEP) in Science (SEAMEO QITEP in Science) SEAQIS.
Berlokasi di Bandung, Indonesia (2009) dengan lokasi yang sama dengan P4TK IPA. SEAQIS bertujuan untuk mengembangkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di bidang sains. Programnya antara lain adalah menawarkan pelatihan, penelitian, serta workshop untuk meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan dalam bidang sains. Kegiatannya berupa : pengembangan profesional guru IPA;  pengembangan sumber-sumber pembelajaran; pelayanan pada komunitas pembelajar dan professional (misalnya: KKG/MGMP/MKKS/Pusat Belajar, dll.)

5.        SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO REFCON). 
Bertempat di Jakarta, Indonesia (2010). Lembaga ini bertujuan untuk mambantu negara anggota SEAMEO terkait pengembangan makanan dan nutrisi. Programnya antara lain menawarkan program pelatihan, konsultasi, dan penelitian untuk meningkatkan mutu gizi dan pangan masyarakat. Program unggulan NGTS Nutrition Goes to School (SD, SMP, SMA dan yang sederajat) dan ECCE Early Chilhood Care and Education (Posyandu, PAUD, TK, daycare).

6.        SEAMEO Regional Open Learning Centre (SEAMEO SEAMOLEC). 
Bertempat di Ciputat, Indonesia (1997). Pusat SEAMEO untuk bidang pendidikan jarak jauh dan terbuka. Programnya antara lain berbagai program bidang ICT, multimedia, web-based, kursus, tutorial untuk pendidikan jarak jauh dan terbuka serta pengembangan  materi pembelajaran mandiri. Kegiatannya berupa sistem informasi pendukung pendidikan jarak jauh di Jawa Barat pada SMA Terbuka dan SMK PJJ; Pelatihan Daring (Online Training) dengan MOOC SEAMOLEC; Twinning English Digital Class; dan Webinar/Online Seminar dengan Video Conference.
Alamat Sumber Belajar : www.sumberbelajar.seamolec.org/
Alamat Massive Open Online Course : www.mooc.seamolec.org
Alamat Website : http://www.seamolec.org
 
7.     SEAMEO Regional Centre for Early Childhood Education Care and Education and Parenting (SEAMEO CECCEP).
Bertempat di Bandung, Indonesia (2017). Bertujuan mendorong pengembangan pendidikan anak usia dini dan pendidikan keluarga di kawasan ASEAN. Lembaga ini merupakan lembaga SEAMEO yang terbaru.