Supervisi pendidikan dalam
paradigma lama seringkali diidentikkan dengan kunjungan mendadak, penilaian,
dan pencarian kesalahan. Supervisi diidentikkan dengan penilaian dan inspeksi
pengawas kepada guru. Karena munculnya stigma negatif terlebih dahulu dimana
supervisi dianggap sebagai sebuah inspeksi dalam rangka “mencari-cari” kesalahan,
maka aktivitas supervisi tidak dianggap sebagai sebuah momentum untuk melakukan
perbaikan. Dari perspektif objek yang disupervisi, kegiatan ini tidak dimaknai
secara substantif, namun dianggap sebagai upaya mencari kekurangan yang tidak
substansial dan hanya bersifat formalitas administratif saja. Inilah yang menyebabkan
kualitas supervisi menjadi tidak maksimal sehingga menghasilkan rekomendasi dan
output yang tidak maksimal juga. Seharusnya, budaya kerja yang berorientasi
pada mutu menjadi pemahaman bersama sekaligus standar yang harus dipegang dalam
melaksanakan supervisi.
Tampilkan postingan dengan label Kepala Sekkolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepala Sekkolah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 18 Januari 2026
Panduan Supervisi Klinis untuk Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru
By adisaputra 16.00
guru, Kepala Sekkolah, Panduan Supervisi Klinis, Pengawas, Supervisi, Supervisi Klinis No comments











