Sabtu, 20 Januari 2024

Cara Membangun dan Melaksanakan Kegiatan Komunitas Belajar dalam Sekolah

Saat ini sudah mulai dirasakan kebutuhan komunitas belajar, apa lagi dengan adanya Program Merdeka Belajar berupa Implementasi Kurikulum Merdeka, Rapor Pendidikan sampai pada Pengelolaan Kinerja pada Plattform Merdeka Mengajar. Guru, kepala sekolah, dan pengawas satuan Pendidikan harus bersinergi dalam bentuk kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang akan berdampak pada hasil belajar peserta didik.

Kompetisi membuat kita (bekerja) lebih cepat, kolaborasi membuat kita (bekerja) lebih baik

-unknown-

Kolaborasi adalah keterampilan bekerja sama secara koperatif untuk mencapai tujuan bersama. Keterampilan ini adalah salah satu keterampilan abad 21 yang harus dimiliki semua orang termasuk Guru dan Kepala Sekolah. Kolaborasi akan membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien untuk sampai ke tujuan karena pengetahuan, keterampilan dan sumber daya dibagi bersama para kolaborator.

Menurut Surat Edaran Dirjen GTK Kemendikbudristek No. 4263/B/HK.04.01/2023 tentang Optimalisasi Komnuitas Belajar: “Setiap satuan pendidikan harus memiliki komunitas belajar dalam sekolah yang berpusat pada pembelajaran murid dengan siklus inkuiri”. Kemudian juga dalam surat edaran ini disampaikan bahwa satuan pendidikan perlu melakukan belajar bersama di dalam komunitas belajar antar sekolah yang berfokus pada pembelajaran murid dengan siklus inkuiri dan komunitas belajar dalam dan antar sekolah dapat berbagi praktik baik melalui webinar pada tautan yang tersedia dalam Platform Merdeka Mengajar (PMM).

Oleh karena itu para guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah perlu meningkatkan kualitas praktik pembelajaran di satuan pendidikan dengan meningkatkan kompetensi secara berkala yang dapat dilakukan melalui komunitas belajar.

Apa itu Komunitas Belajar?

Menurut SE Dirjen GTK Kemendikbudristek No. 4263/B/HK.04.01/2023 tentang Optimalisasi Komunitas Belajar, “Komunitas belajar merupakan wadah bagi guru dan tenaga kependidikan untuk belajar bersama dan berkolaborasi secara rutin, memiliki tujuan yang jelas dan terukur dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajar murid”.

Komunitas belajar sangat penting karena komunitas belajar menjadi wadah untuk merealisasikan terjadinya kolaborasi antar GTK. GTK dapat belajar bersama (tidak terisolasi), dan bersepakat bahwa pendidikan semua murid adalah tanggung jawab kolektif. Dengan adanya komunitas belajar, ketimpangan kompetensi antar GTK, khususnya guru baru dapat diminimalisir, sehingga murid memperoleh pengalaman belajar dengan kualitas yang sama siapapun pendidiknya. Selain itu, semua guru memiliki kesempatan untuk belajar, dan hasil belajar dalam komunitas dapat segera dipraktikkan di kelas masing-masing untuk memfasilitasi pembelajaran yang berkualitas dan meningkatkan hasil belajar murid.

Apa tujuan dari komunitas belajar dalam sekolah?

Komunitas belajar dalam sekolah diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pendidik dan membangun budaya belajar bersama yang berkelanjutan, sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar peserta didik.

Mengapa komunitas belajar dalam sekolah sangat penting?

Komunitas belajar dalam sekolah sangat penting karena komunitas belajar menjadi wadah untuk merealisasikan terjadinya kolaborasi antar pendidik. Pendidik belajar bersama (tidak terisolasi), pendidik bersepakat tentang standar umum seperti pembelajaran yang efektif, rubrik/indikator penilaian, pendidik bersepakat bahwa pendidikan semua peserta didik adalah tanggung jawab kolektif.

Dengan adanya komunitas belajar dalam sekolah, ketimpangan kompetensi antar pendidik dapat diminimalisir, sehingga peserta didik memeroleh pengalaman belajar dengan kualitas yang sama siapapun pendidiknya. Proses belajar dalam komunitas yang terjadi secara berkelanjutan akan membentuk ekosistem dan budaya belajar yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

Apa yang menjadi acuan dalam mengelola komunitas belajar?

Acuan dalam mengelola komunitas belajar merujuk pada DuFour, et al. (2021) tentang Professional Learning Community. Terdapat 3 (tiga) ide besar untuk mengoptimalkan terbangunnya komunitas belajar yang berpusat pada pembelajaran peserta didik.


1. Fokus pada Pembelajaran

Ketika belajar bersama di dalam komunitas, pendidik diharapkan berfokus pada pembelajaran peserta didik. Empat pertanyaan kunci menjadi acuan pendidik supaya fokus belajar dan diskusi dalam komunitas belajar adalah pembelajaran peserta didik.

Berikut 4 (empat) pertanyaan kunci tersebut.

·  Apa yang harus dipelajari peserta didik? Apakah tujuan pembelajaran yang harus dicapai peserta didik?

·  Bagaimana mengetahui bahwa peserta didik telah belajar? Bagaimana cara memantau pembelajaran peserta didik?

·    Apa yang harus dilakukan pendidik jika beberapa peserta didik tidak belajar? Dukungan seperti apa yang diberikan kepada mereka?

·   Apa yang harus dilakukan pendidik jika beberapa peserta didik telah belajar? Pengayaan seperti apa yang akan diberikan kepada mereka?

2. Membudayakan Kolaborasi dan Tanggung Jawab Kolektif

Pendidik perlu membangun budaya kolaboratif untuk bekerja bersama dan memikul tanggung jawab kolektif demi membantu peserta didik mengoptimalkan proses belajarnya. Kualitas belajar peserta didik yang optimal sulit tercapai jika pendidik bekerja secara individual (terisolasi). Kolaborasi yang dilakukan pendidik di satuan pendidikan diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan berdiskusi dan berbagi praktik baik pengajaran, namun berlanjut sampai pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di kelasnya masing-masing. Oleh karenanya sikap saling membantu, memiliki pemikiran terbuka, dan senang memecahkan masalah bersama perlu menjadi kebiasaan sehari-hari. Perkembangan belajar peserta didik tidak lagi menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing pendidik, namun menjadi tanggung jawab bersama yang perlu diupayakan secara berkelanjutan.

3. Berorientasi pada Hasil Belajar Peserta Didik

Menggeser fokus dari mengajar menjadi belajar diharapkan akan membantu pendidik agar tidak hanya memastikan bahwa ia telah mengajar tetapi juga memastikan peserta didiknya belajar. Cara untuk memastikan peserta didik belajar adalah dengan melakukan asesmen yang berkelanjutan dan mendapatkan bukti bahwa peserta didik telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Oleh karenanya, output serta acuan terbangunnya komunitas belajar di satuan pendidikan yang efektif bukan pada seberapa baiknya rencana yang telah disusun dan dilaksanakan, tapi pada seberapa berdampaknya hal tersebut pada peningkatan hasil belajar peserta didik.

Hasil belajar peserta didik dalam konteks pembahasan ini bukan berupa nilai angka yang menunjukkan kemampuan kognisi semata, namun berupa tercapainya kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam prosesnya, satuan pendidikan harus secara sistematis memantau pembelajaran peserta didik dan menggunakan bukti pencapaian untuk segera membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dan mendorong perbaikan berkelanjutan. Dengan mengoptimalkan bantuan dalam proses pembelajaran, diharapkan hasil belajar peserta didik dapat terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Seperti apa siklus belajar dalam komunitas belajar?

Siklus belajar dalam komunitas belajar rnenunjukkan bahwa kegiatan belajar dalam komunitas merupakan proses utuh dan berkelanjutan mulai dari refleksi awal sampai kembali lagi ke refleksi awal. Siklus ini memastikan hasil belajar dalam komunitas diimplementasikan dalarn pembelajaran, dan refleksi dari implementasi pembelajaran menjadi bahan pembicaraan dalam komunitas agar terjadi perbaikan pembelajaran.

Refleksi Awal: Refleksi awal dibuat berdasarkan catatan hasil evaluasi. Berdasarkan pengalaman mengelola komunitas belajar, refleksi yang dilakukan fokus pada permasalahan yang dihadapi anggota saat melakukan proses pembelajaran. 

Selain itu, juga terkait dengan penerapan yang akan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan bersama-sama. Pada alur ini akan dihasilkan catatan refleksi yang menjadi acuan dan dasar dalam merencanakan. 

Perencanaan: Perencanaan pembelajaran disusun berdasarkan hasil refleksi bersama dalam komunitas belajar. Aktivitas yang dilakukan adalah melakukan perbaikan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Intinya adalah pada alur ini komunitas belajar menyusun rencana pembelajaran secara kolaboratif melalui diskusi.  

Tahap perencanaan dalam siklus komunitas belajar di sekolah adalah langkah kritis di mana anggota komunitas merumuskan rencana tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama. Hal-hal yang dapat dilakukan saat perencanaan yaitu Klarifikasi Tujuan Pembelajaran, Penetapan Prioritas, Penyusunan Rencana Aksi, Pembentukan Tim Kerja atau Kelompok Tugas, Penyusunan Rencana Pengembangan Profesional, Identifikasi Sumber Daya yang Diperlukan, Pengembangan Alat Evaluasi, Komunikasi dan Keterlibatan Pihak-pihak Terkait, Penyusunan Jadwal dan Rencana Pelaksanaan, Pengembangan Strategi Komunikasi dan Kolaborasi, Pengukuran dan Pemantauan Kemajuan.

Dengan merinci rencana aksi ini, komunitas belajar di sekolah dapat memastikan bahwa semua langkah yang diambil sesuai dengan visi dan tujuan pembelajaran bersama. Tahap perencanaan juga memungkinkan komunitas untuk bersiap mengatasi potensi hambatan dan mengoptimalkan peluang untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.

Implementasi: Pada alur implementasi, guru sebagai anggota komunitas menerapkan rencana pembelajaran di kelas. Rencana pembelajaran yang digunakan sebagai panduan proses pembelajaran adalah yang telah mendapatkan umpan balik dan masukan perbaikan dari sesama anggota. Proses pembelajaran berjalan sesuai perencanaan sebagai panduan. Namun, tetap menyesuaikan dengan strategi masing-masing guru. Guru diberikan kemerdekaan memodifikasi rencana pembelajaran secara teknis di lapangan dengan batasan tetap sesuai tujuan pembelajaran yang disepakati bersama.  

Tahap implementasi dalam siklus komunitas belajar di sekolah adalah langkah di mana rencana aksi yang telah dirancang diterapkan dan dilaksanakan. Langkah-langkah dalam tahap implementasi antara lain yaitu Sosialisasi Rencana Aksi, Pengorganisasian Tim atau Kelompok Kerja, Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran, Pemantauan dan Evaluasi Terus-menerus, Kolaborasi dan Keterlibatan Aktif, Dukungan dan Bimbingan, Adaptasi dan Perbaikan, Fasilitasi Diskusi dan Refleksi, Penggunaan Teknologi Dukung, Peningkatan Keterlibatan Orang Tua, Pelaporan dan Dokumentasi.

Tahap implementasi adalah saat di mana konsep-konsep teoritis dan rencana aksi diuji dalam konteks nyata. Pada akhir tahap ini, komunitas belajar dapat melihat sejauh mana pencapaian tujuan pembelajaran dan mempersiapkan diri untuk tahap refleksi lebih lanjut dalam siklus pembelajaran.

Evaluasi : Alur evaluasi dilaksanakan setelah implementasi rencana pembelajaran. Pada alur ini guru berbagi cerita terkait kendala atau permasalahan yang dihadapi selama proses pembelajaran. Melalui diskusi, guru lain sebagai anggota komunitas belajar saling memberikan umpan balik dan masukan. Sebelum evaluasi dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pemberian apresiasi atas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru. Contoh konkret di sekolah terkait evaluasi yang telah dilakukan, yaitu melalui pertemuan yang dilakukan sebelum dilanjutkan refleksi awal. Hasil evaluasi bersama ini akan menjadi dasar dan acuan dalam melakukan refleksi awal siklus berikutnya. Demikian siklus inkuiri komunitas belajar yang dapat diterapkan guru sebagai anggota di sekolah masing-masing. 

Tahap evaluasi dalam siklus komunitas belajar di sekolah adalah saat di mana anggota komunitas belajar merenungkan hasil dan dampak dari upaya pembelajaran bersama yang telah dilakukan. Berikut adalah beberapa langkah dan pertimbangan yang dapat membantu dalam tahap evaluasi antara lain Pengumpulan Data Hasil Pembelajaran, Survei dan Umpan Balik dari Anggota Komunitas, Evaluasi Proses Pembelajaran, Pemantauan Partisipasi, Analisis Data Kuantitatif dan Kualitatif, Penilaian Dampak Jangka Panjang, Perbandingan dengan Tujuan Awal, Identifikasi Pembelajaran dan Prestasi, Penghargaan dan Pengakuan Prestasi, Refleksi Bersama, Penyesuaian Rencana Aksi, Rencana untuk Siklus Selanjutnya. 

Tahap evaluasi adalah momen penting untuk mengukur dampak dan efektivitas komunitas belajar, serta untuk membuat perbaikan yang diperlukan. Evaluasi yang cermat dan reflektif membantu memastikan bahwa komunitas belajar terus berkembang dan memberikan kontribusi positif terhadap pembelajaran di sekolah.

Bagaimana Membangun Komunitas Belajar dalam Sekolah?

Komunitas belajar dalam sekolah terdiri atas sekelornpok guru mata pelajaran, atau guru kelas, atau lintas kelas/Iintas mata pelajaran atau tenaga kependidikan atau guru bersama tenaga kependidikan. Penjelasan komunitas belajar dalam sekolah pada panduan ini akan berfokus pada komunitas belajar guru mata pelajaran/kelas/lintas, belum pada tenaga kependidikan sekolah.

Komunitas belajar dalam sekolah terdiri dari para pendidik yang ada pada satu sekolah. Sekolah dapat menyesuaikan strategi penyelenggaraan komunitas belajar dalam sekolah sesuai dengan karakteristik/kondisi sekolahnya masing-masing.

Komunitas belajar dalam sekolah dimungkinkan untuk dibuatkan menjadi klaster/kelompok-kelompok berdasarkan mata pelajaran (untuk jenjang SMP/SMA/SMK), kelas rendah dan kelas tinggi (untuk jenjang SD), ataupun pengelompokkan lainnya. Pengelompokkan ini biasanya disebut MGMP mata pelajaran ataupun KKG mini di sekolah. Disarankan MGMP/KKG (komunitas belajar dalam sekolah) ini tidak lebih dari 10 (sepuluh) orang agar kolaborasi pendidik dapat lebih efektif dan fokus. Pendidik yang tergabung di komunitas belajar dalam sekolah membahas secara mendalam perangkat ajar, fasilitasi dan asesmen pembelajaran peserta didik. Mereka juga dapat saling mengamati pembelajaran di kelas dan melakukan refleksi bersama. Pertemuan pendidik di komunitas belajar dalam sekolah dilakukan secara rutin, umumnya setiap minggu minimal 1 (satu) jam terjadwal dan terstruktur.

Selain pertemuan rutin yang terstruktur seperti itu, diskusi dan refleksi informal tentang pembelajaran peserta didik dapat dilakukan di ruang pendidik atau di lingkungan sekolah. Untuk mendukung hal tersebut, disarankan untuk mendekatkan tempat duduk para pendidik dalam satu komunitas belajar yang sama.

Untuk mendukung komunitas belajar dalam sekolah, semua pendidik dalam sekolah dapat dikumpulkan lintas kelas/mata pelajaran untuk mendapatkan pembekalan ataupun penyegaran materi baru tentang kurikulum ataupun transformasi pembelajaran, atau berbagi praktik baik, dan agenda lainnya. Pertemuan ini dilakukan di dalam sekolah secara periodik misalnya satu minggu, satu bulan atau dua bulan sekali untuk mempelajari materi baru.


Di tahap awal membangun komunitas belajar dalam sekolah, disarankan

melakukan langkah-langkah sederhana tetapi bermakna. Penjelasan dari

setiap langkah diuraikan sebagai berikut.

1.   Membentuk tim kecil

Kepala sekolah mengawali komunitas belajar dalam sekolah dengan membentuk tim kecil yang akan membantu kepala sekolah merealisasikan jalannya komunitas belajar dalam sekolah. Tim ini terdiri atas tim manajemen dan guru yang memiliki 3 potensi, yaitu:

·     menggerakkan rekan sesama guru,

·     memiliki komitmen tinggi, dan

·     keterampilan dalam memfasilitasi kegiatan komunitas belajar.

Tim komunitas belajar ini dapat saja terdiri dari koordinator, bendahara, sekretaris, tim konten/program, tim logistik, dan tim dokumentasi. Dapat juga minimal seperti pada contoh di bawah ini.

2.   Telaah data hasil belajar murid

Kepala sekolah bersama dengan tim kecil melakukan telah data hasil belajar murid dengan mencermati dan merefleksikan rapor pendidikan, dan hasil belajar murid lainnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui kondisi belajar murid sebagai dasar penentuan fokus dan prioritas belajar guru di satuan pendidikan tersebut.

Namun dapat juga dilakukan analisis kebutuhan belajar guru dan tenaga kependidikan dengan melakukan berbagai cara, antara lain:

3.   Melakukan sosialisasi dan penguatan tentang pentingnya komunitas belajar kepada seluruh warga sekolah, membuat komitmen bersama, dan menyepakati tata nilai

Strategi sosialisasi dan penguatan menyesuaikan dengan konteks sekolah masing-rnasing, khususnya jumlah GTK di sekolah tersebut. Misalnya, jika jumlahnya tidak banyak, maka kepala sekolah bersama tim kecil dapat Iangsung melakukan penguatan secara Iangsung dengan semua GTK. Namun, jika jumlah GTK banyak, tim kecil dapat melakukan penguatan di timnya masing-masing.

Pada tahap ini, ada 3 target yang akan dicapai, yaitu

·     Penguatan pentingnya komunitas belajar.

·     Pembuatan komitmen bersama.

·     Penyepakatan tata nilai

Setelah memahami pentingnya komunitas belajar dalam sekolah bagi pendidik, peningkatan kualitas pembelajaran murid dan pencapaian visi sekolah, kepala sekolah bersama seluruh GTK membuat komitmen bersama dan tata nilai dalam menjalankan komunitas belajar. Komitmen dan tata nilai sangat penting karena akan digunakan sebagai acuan GTK dalam berperilaku ketika belajar dalarn komunitas. Contoh komitmen bersama dan tata nilai komunitas belajar dalam sekolah dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

4.   Memasukkan jam efektif guru di sekolah

Belajar bersama di luar jam kerja terkesan memberatkan guru. Memasukkan minimal jam belajar di komunitas sebagai bagian dari jam kerja guru di sekolah, diharapkan menumbuhkan kesadaran bahwa belajar rnerupakan bagian dari pekerjaan seorang guru, dan tidak bias dipisahkan dari mengajar. Dengan adanya rutinitas ini, akan tumbuh pembiasaan guru untuk berdiskusi di komunitas belajar yang berpusat pada pembelajaran murid sehingga tercipta budaya belajar di dalam satuan pendidikan. Bagi sekolah yang ingin menarnbahkan kegiatan belajar dalam komunitas di luar jam kerja guru, diserahkan kepada kebijakan pihak sekolah masing-masing.

5. Merealisasikan Belajar Bersama dan Berbagi Praktik dan Menciptakan lingkungan belajar yang ramah guru

Setelah guru memahami pentingnya belajar di komunitas dan menyepakati komitmen bersama serta tata nilai dalam menjalankan komunitas belajar, segera lakukan belajar bersama di dalam komunitas.

Kepala sekolah bersama tim kecil merumuskan pengelompokkan komunitas belajar dalam sekolah sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan. Komunitas belajar dapat dikelompokkan dalam mata pelajaran, kelas, dan lintas mata pelajaran/kelas.

Setiap guru akan dapat belajar secara maksimal jika lingkungan belajarnya mendukung pembelajaran mereka. Setiap guru mendapatkan hak untuk berpendapat dan didengarkan pendapatnya dengan baik oleh anggota lainnya. Di dalam komunitas belajar diciptakan rasa saling membutuhkan antar guru. Dengan belajar bersama, pekerjaan mereka akan semakin ringan. Guru dapat meningkatkan pernahaman mereka dan dapat menjalankan peran mereka secara lebih baik.

Untuk menciptakan lingkungan belajar yang ramah guru, kepala sekolah bersama tim dapat melakukan berbagai strategi untuk menciptakan komunitas belajar yang ramah guru. Ragam strategi yang dapat dilakukan antara lain:

· selalu mengingatkan nilai-nilai yang telah disepakati pada pertemuan-perternuan komunitas belajar;

·   memberikan umpan balik secara santun dan membangun pada guru yang belum mengirnplementasikan nilai yang disepakati;

· tim kecil dan kepala sekolah menjadi role model (contoh) dalam mengimplementasikan nilai yang disepakati;

· membuka ruang untuk guru rnenyampaikan keresahannya; dan mendiskusikan secara terbuka dengan anggota komunitas bagaimana aktivitas di kornunitas belajar bisa lebih nyaman untuk guru.

Anggota tim kecil juga berperan mengamati interaksi antar guru dan merasakan suasana dan dinamika belajar guru. Hasil pengamatan disampaikan dan didiskusikan bersama di komunitas tim kecil untuk merumuskan langkah perbaikan lingkungan belajar yang ramah guru. Selanjutnya hasil diskusi disampaikan ke kepala sekolah.

Pelaksanaan Kegiatan Komunitas Belajar dalam Sekolah

Guru belajar di dalam komunitas belajar menggunakan siklus inkuiri sebagai acuan mereka untuk belajar secara berkelanjutan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan murid di sekolah. Adapun siklus yang digunakan yaitu refleksi awal, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Berikut elaborasi dari setiap tahapan siklus inkuirinya.

Refleksi Awal

Guru berdiskusi mengenai analisis hasil belajar murid yang bersumber dari beragam data murid pada mapel/kelas tersebut, seperti hasil asesmen, hasil penilaian pembelajaran, atau data lain yang relevan.

Berdasarkan hasil diskusi ini, guru melakukan reļ¬‚eksi dan menentukan agenda atau topik prioritas yang ingin mereka diskusikan di komunitas belajarnya. Mereka juga menentukan tujuan dan target belajar yang dikaitkan dengan peningkatan pembelajaran murid.

Perencanaan

Pada tahap ini, guru dapat berkolaborasi mengembangkan perencanaan pembelajaran atau mereview perencanaan pembelajaran yang sudah ada sebelum digunakan di kelas masing-masing ataupun di kelas guru model. Empat Pertanyaan Kunci dapat digunakan guru ketika mendiskusikan perencanaan pembelajaran, yaitu:

·     apakah hal ini yang kita ingin murid capai?;

·     bagaimana kita mengetahui bahwa murid sudah mencapai hal tersebut?;

·    jika murid belum mencapai tujuan pembelajaran apa yang akan kita lakukan?; dan

·   jika murid sudah mencapai tujuan pembelajaran, pengayaan apa yang harus kita lakukan?.

Namun, keempat pertanyaan ini tidak harus digunakan semua pada satu sesi belajar di komunitas.

Implementasi

Setelah kolaborasi dalam perencanaan pembelajaran, para guru mempraktikkan perencanaan pembelajaran tadi di kelasnya masing-masing. Saat memfasilitasi pembelajaran murid, guru melakukan asesmen formatif untuk mengetahui perkembangan belajar murid.

Implementasi perencanaan pembelajaran dapat juga dilakukan pada salah satu kelas guru model, guru lainnya melakukan observasi proses pembelajaran di kelas tersebut dengan fokus yang telah disepakati sebelumnya.

Evaluasi

Setelah implementasi pembelajaran di kelas masing-masing atau di kelas guru model, para guru kembali ke komunitas belajar untuk mendiskusikan hasil pembelajaran di kelas. Setiap anggota komunitas belajar melakukan refleksi bersama tentang apa yang sudah berjalan efektif dan apa yang berjalan kurang efektif untuk perbaikan di tahap selanjutnya. Apresiasi dilakukan pada capaian-capaian dan perilaku-perilaku efektif yang sudah dilakukan oleh anggota komunitas.

Semua tahapan siklus ini dilaksanakan dengan mengintegrasikan Tiga lde Besar yang rnenggunakan Empat Pertanyaan Kunci. Durasi satu siklus inkuiri disesuaikan dengan kebutuhan para pendidik. Hal yang dibicarakan pada komunitas belajar dalam sekolah adalan pembelajaran rnuricl. Semua kesepakatan pada komunitas belajar mernpertirnbangkan nal yang terbaik untuk pembelajaran murid.

Komunitas belajar dalam sekolah rnerupakan salah satu strategi untuk meningkatkan kompetensi guru. Strategi peningkatan kompetensi guru di dalam satuan penolidikan dapat juga dilakukan melalui in-House Training (IHT), workshop, pendampingan, mentoring, coaching, dan lainnya.

Bagaimana membentuk komunitas belajar dalam sekolah?

Untuk memulai komunitas belajar dibutuhkan komitmen dari semua anggota komunitas belajar dalam sekolah. Kepala sekolah diharapkan memahami bagaimana membangun komunitas belajar dalam sekolah. Kepala sekolah memberikan dukungan, menjadi teladan dalam belajar dan berperilaku, serta ikut terlibat belajar dalam komunitas walaupun tidak pada setiap pertemuan. Sebelum proses belajar dalam komunitas dilakukan, diperlukan persiapan-persiapan untuk menyiapkan komunitas belajar beraktivitas. Aktivitas tersebut termasuk dalam menentukan narasumber untuk kegiatan. Ada pun cara untuk mencari narasumber dapat dilakukan antara lain seperti pada penjelasan di bawah ini.

Persiapan Pelaksanaan Komunitas Belajar dalam Sekolah

1. Kepala sekolah mengumpulkan para pendidik di sekolah untuk berdiskusi dan menyamakan persepsi tentang pentingnya komunitas belajar dalam sekolah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik

2. Pendidik di dalam setiap komunitas belajar dalam sekolah menyepakati norma komunitas belajar (misalnya hadir tepat waktu, mendengarkan ketika rekan pendidik sedang berbicara, membuka hati untuk mendengarkan pendapat rekan pendidik, transparan/jujur terhadap masalah pengajaran dan pembelajaran yang sedang dihadapi, toleransi terhadap praktik yang belum berhasil, selebrasi keberhasilan, dan lain-lain)

3. Kepala sekolah dan pendidik bersama-sama menentukan tujuan yang ingin dicapai bersama dalam kurun waktu tertentu.

4. Kepala sekolah dan pendidik bersama-sama menyusun agenda dan jadwal kegiatan komunitas belajar setiap minggu.

Pelaksanaan Pembelajaran dalam Komunitas Belajar dalam Sekolah

Pendidik dalam kelompok kecilnya dapat melakukan berbagai aktivitas. Namun perlu diingat, aktivitas ini haruslah berfokus pada pembelajaran peserta didik. 3 (tiga) ide besar dan 4 (empat) pertanyaan kunci di atas menjadi pegangan pendidik dalam beraktivitas di komunitas belajar dalam sekolah.

Komunitas belajar dalam sekolah wajib memastikan terjadinya 5 hal sebagai berikut:

·  Tim bekerja secara kolaboratif dan mengambil peran dan tanggung jawab bersama.

·     Menerapkan kurikulum pada setiap tahapannya.

·     Memantau pembelajaran siswa dengan proses penilaian berkelanjutan.

· Menggunakan hasil penilaian umum untuk melatih anggota komunitas, membangun kapasitas tim komunitas, memperluas pembelajaran dengan memfokuskan pada peningkatan hasil belajar siswa.

·     Memberikan intervensi dan pengayaan yang sistematis.

Berikut ini ragam aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan di komunitas belajar dalam sekolah:

1. Bersama-sama menyiapkan dan mereviu RPP/Modul Ajar yang telah disusun. Empat pertanyaan kunci dijadikan acuan untuk melihat apakah RPP yang telah susun sudah berpusat pada peserta didik. Empat pertanyaan kunci yang dapat ditanyakan para pendidik dalam komunitas belajar ketika berdiskusi mereviu RPP/modul ajar sebagai berikut.

·               Apakah tujuan pembelajaran ini yang ingin dicapai peserta didik?

·         Apakah langkah- langkah pembelajaran ini sudah optimal melayani peserta didik   dengan keragaman mereka?

·           Jika ada peserta yang belum belajar apa saja yang dapat dilakukan?

·     Jika sudah belajar, supaya tidak bosan, apa saja yang harus diberikan kepada   peserta didik?

·         Apakah asesmen yang ditulis sudah sesuai dengan pencapaian tujuan pembelajaran?

2. Mendiskusikan rubrik penilaian bersama sehingga memiliki persepsi yang sama dalam menginterpretasikan rubrik.

3.Berbagi masalah pembelajaran yang dihadapi peserta didik, dan mendiskusikan alternatif pemecahan masalah bersama-sama.

4. Bertukar menilai hasil belajar peserta didik

5.Saling mengobservasi pembelajaran di kelas masing-masing dan melakukan refleksi hasil observasi bersama-sama (misalnya seperti pada Lesson Study)

6. Berbagi praktik baik yang telah dilakukan.

7. Melakukan riset bersama terhadap masalah pembelajaran yang dihadapi

8. Selebrasi keberhasilan komunitas belajar

Bahan yang dapat diunduh:

1. Panduan Optimalisasi Komunitas Belajar

2. Belajar di Komunitas Praktisi

3. Buku Saku Penggerak Komunitas Belajar

4. Petunjuk Awal Membangun Komunitas Belajar dalam Sekolah

5. Surat Edaran Dirjen GTK Tentang Optimalisasi Komunitas Belajar

Sumber:

Kemendikburistek. 2023. Panduan Optimalisasi Komunitas Belajar. Jakarta: Dirjen GTK Kemendikbudristek.

Kemendikburistek. 2022. Petunjuk Awal Membangun Komunitas Belajar Dalam Sekolah. Jakarta: Dirjen GTK Kemendikbudristek.

https://www.linkedin.com/advice/1/how-do-you-create-learning-communities-your

https://www.kompasiana.com/izatul03711/6589875cde948f4f1f05d815/komunitas-belajar-di-sekolah-sebuah-upaya-transformasi-pembelajaran-bagi-peserta-didik?page=3&page_images=1

0 comments:

Posting Komentar