Pernahkah
Anda bertanya-tanya mengapa remaja yang cerdas bisa tiba-tiba membuat
keputusan yang sangat ceroboh? Atau mengapa drama emosional karena hal
sepele bisa berakhir dengan bantingan pintu? Sering kali, kita sebagai
orang dewasa dengan cepat menyalahkan "hormon" atau menganggap
mereka sedang dalam fase malas dan membangkang.
Namun,
sebagai seorang praktisi neuropsikologi, saya ingin mengajak Anda melihat lebih
dalam. Apa yang kita anggap sebagai perilaku "sulit" sebenarnya
adalah manifestasi dari transformasi biologis yang luar biasa. Remaja tidak
sedang "rusak"; otak mereka sedang dalam proses renovasi
besar-besaran. Otak mereka sedang bertransisi dari mesin yang dirancang untuk absorpsi
(menyerap informasi) menjadi mesin yang dioptimalkan untuk pemahaman
mendalam (understanding) dan efisiensi. Ini adalah masa transisi dari otak
anak yang bertanya "apa" menjadi otak dewasa yang memahami "mengapa".
Sampai baru-baru
ini diasumsikan bahwa hanya sedikit perkembangan lebih lanjut yang terjadi di
otak setelah berakhirnya masa kanak-kanak. Namun sekarang kita tahu bahwa otak
terus berubah dan berkembang sepanjang masa remaja. Bahkan, ada lebih banyak
perubahan di otak selama masa remaja daripada pada waktu lain dalam
perkembangan manusia selain tiga tahun pertama kehidupan.
Ini berarti
bahwa masa remaja adalah periode kritis. Apa yang terjadi selama periode ini
memiliki implikasi besar bagi perkembangan selanjutnya. Tentu saja otak tidak
berkembang secara terisolasi. Otak dan lingkungan berinteraksi, masing-masing
memengaruhi yang lain.
Silakan
simak video berikut bagi remaja untuk memahami seperti apa otak remaja itu
bekerja!
Dalam pengantar singkat ini, kami akan menjelaskan perubahan yang terjadi di otak remaja. Kami akan menunjukkan bagaimana perubahan ini memengaruhi perilaku. Terakhir, kami akan menguraikan bagaimana orang dewasa termasuk guru dapat menggunakan pengetahuan ini untuk mendorong perkembangan otak yang sehat. Semakin banyak orang dewasa termasuk guru memahami apa yang terjadi pada otak pada saat ini, semakin kita dapat membantu remaja mengelola periode transisi ini.
1. Ketidakseimbangan Mesin: Mengapa Remaja Menjadi
"Pencari Sensasi"
Bayangkan sebuah mobil sport dengan mesin yang sangat bertenaga,
namun sistem pengeremannya belum terpasang sempurna. Itulah gambaran akurat
otak remaja. Di dalam sana, terjadi ketidaksinkronan antara dua sistem utama: Limbic
System (pusat emosi dan imbalan) dan Prefrontal Cortex
(pusat kendali dan logika). Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah
ini dengan sistem limbik sudah sempurna, namun korteks prefrontal masih dalam
proses menuju kesmepurnaan.
Secara kimiawi, otak remaja dibanjiri oleh Dopamine, neurotransmitter
yang memicu rasa senang dan dorongan untuk mencari imbalan instan. Di
sisi lain, Serotonin si "kimia penenang" yang berfungsi
sebagai rem alami untuk meredakan ketegangan dan impulsivitas masih
belum bekerja secara stabil. Ketimpangan ini membuat remaja sangat sensitif
terhadap sensasi baru dan risiko.
Pada remaja, bagian otak yang mengontrol ucapan dan menafsirkan ekspresi
wajah serta emosi (amigdala) juga merupakan bagian otak yang kita gunakan
ketika kita berada dalam bahaya. Ini berarti mereka menjadi bingung!
Ada sebuah eksperimen untuk melihat apakah remaja dan orang dewasa mengenali
suatu ekspresi dengan cara yang sama seperti yang dilihat pada gambar di bawah
ini.
Pakar perkembangan remaja, Laurence Steinberg, merangkumnya dengan
sangat tajam:
"Remaja memiliki mesin yang sangat kuat, namun sistem pengeremannya
belum tersedia secara memadai."
Secara evolusi, desain "berisiko" ini sebenarnya
diperlukan. Tanpa dorongan untuk mencari sensasi dan keberanian menghadapi
ketidakpastian, remaja tidak akan pernah memiliki kekuatan untuk "meninggalkan
sarang" dan menjadi mandiri.
2. Bukan Malas: Sains di Balik Jam Tidur yang Bergeser
Label "pemalas" sering disematkan pada remaja karena
mereka sulit bangun pagi. Namun, ini adalah masalah neurobiologi murni.
Tubuh kita memproduksi Melatonin untuk memberi sinyal waktu tidur.
Pada remaja, kadar melatonin ini naik lebih lambat di malam hari
dibandingkan orang dewasa.
Secara alami, jam biologis mereka bergeser sekitar dua jam lebih lambat
seperti pada gambar di atas. Masalahnya menjadi rumit karena paparan layar
gawai. Cahaya dari ponsel atau laptop meniru cahaya siang hari, yang menipu
otak untuk menunda produksi melatonin lebih lama lagi. Ketika sekolah
dimulai pukul 7 pagi, remaja sebenarnya dipaksa beraktivitas saat otak mereka
secara biologis masih dalam fase istirahat total. Kurang tidur kronis (kurang
dari 9-10 jam) bukan sekadar membuat mereka mengantuk, tapi secara nyata meningkatkan
iritabilitas, impulsivitas, dan risiko depresi.
Remaja membutuhkan lebih banyak tidur daripada anak-anak dan orang
dewasa. Jika remaja Anda menginginkan lebih banyak tidur, kemungkinan besar
mereka membutuhkannya! Psychology Today menjelaskan bagaimana remaja
membutuhkan 8-10 jam tidur setiap malam untuk memenuhi kebutuhan kinerja mereka
setiap hari. Kadar melatonin dalam darah meningkat di malam hari dan menurun di
pagi hari pada remaja. Hal itu dapat menjelaskan mengapa remaja cenderung
begadang lebih lama dan kesulitan bangun di pagi hari! Otak remaja membutuhkan
tidur ini untuk memproses informasi dengan lebih efektif!
Berikut beberapa ide tentang mengembangkan rutinitas tidur yang baik
untuk remaja:
• Matikan semua perangkat digital setidaknya setengah
jam sebelum tidur;
• Redupkan lampu, putar musik yang menenangkan;
• Minum minuman hangat (tanpa kafein);
• Yang terpenting, kembangkan rutinitas. Orang dewasa
dapat membantu dalam hal ini. Rutinitas membuat perbedaan besar.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada alasan lain mengapa tidur
sangat penting bagi remaja. Tidur adalah waktu konsolidasi memori. Jam tidur
memungkinkan otak untuk mengulang pembelajaran yang telah terjadi di siang hari
dan menanamkannya dalam memori jangka panjang.
3. Prinsip "Gunakan atau Hilangkan":
Bagaimana Otak Membangun Jalan Tol
Mungkin Anda berpikir otak remaja sedang tumbuh membesar. Faktanya,
volume otak sudah mencapai 90% ukuran dewasa di usia 6 tahun. Yang terjadi saat
remaja bukanlah penambahan ukuran, melainkan peningkatan kompleksitas
lipatan dan efisiensi melalui dua proses kunci:
- Synaptic
Pruning (Pemangkasan
Sinapsis): Otak
membuang koneksi saraf yang jarang digunakan. Ini seperti merapikan peta
kota; jalan-jalan kecil yang buntu dihancurkan agar sumber daya bisa
dialokasikan ke jalur yang lebih penting. Di sinilah Gray Matter
(materi abu-abu) mengalami penurunan volume karena otak menjadi lebih
ramping dan efisien.
- Myelination: Ini adalah proses pelapisan akson saraf
dengan lemak yang disebut mielin. Jika pemangkasan adalah menghapus jalan
buntu, mielinisasi adalah membangun Superhighway (jalan tol).
Informasi yang tadinya berjalan lambat di "jalan setapak"
kini melesat cepat di jalur bebas hambatan.
Proses pemangkasan dan penguatan ini dapat dilihar pada gambar di bawah
dengan membandingkan dengan otak anak-anak. Pada masa anak-anak banyak koneksi tapi
lemah dan ketika remaja mulai dipilih koneksi yang sering digunakan akan
dipertahankan.
Pesan penting bagi kita: apa yang dilakukan remaja saat ini apakah itu
belajar musik, olahraga, atau sekadar scrolling media social secara
fisik sedang membentuk struktur permanen otak mereka. Mereka sedang menentukan
jalur mana yang akan menjadi "jalan tol" dan mana yang akan
dipangkas selamanya.
Karena itu memungkinkan otak untuk "memperkuat"
keterampilan dan pengetahuan yang dipelajari melalui latihan berulang. Mielinisasi pada masa remaja bertindak untuk mengunci keterampilan, sehingga lebih
sulit untuk mempelajari keterampilan baru yang sama sekali berbeda, tetapi sangat
efisien untuk menyempurnakan pengetahuan yang sudah ada.
Begitu juga dengan peningkatan dan penebalan jalur materi putih
(misalnya, di korpus kalosum) saat remaja akan memperkuat komunikasi
antar belahan otak, meningkatkan proses berpikir yang kompleks, seperti
mengintegrasikan emosi dengan logika.
4. Radar Sosial: Mengapa Pendapat Teman Terasa Seperti
"Hidup dan Mati"
Dua area terpenting di otak adalah korteks prefrontal dan amigdala.
Kedua area ini mengalami perubahan yang sangat signifikan pada masa ini. Korteks
prefrontal adalah area yang paling terkait dengan pemikiran, perencanaan,
dan pemecahan masalah. Amigdala adalah area yang terkait dengan emosi,
sensasi, dan gairah. Ada juga area di otak yang terkait dengan pencarian
kesenangan, dan area ini lebih aktif selama masa remaja.
Pusat-pusat di otak ini mengalami perubahan signifikan selama
tahun-tahun ini. Otak sedang matang, tetapi ini tidak terjadi dalam semalam.
Butuh waktu lama bagi semua bagian otak untuk berfungsi dengan baik
bersama-sama.
Pada beberapa remaja, amigdala dapat berkembang lebih cepat daripada
korteks prefrontal, dan ini terkadang dianggap sebagai penjelasan untuk perilaku
berisiko. Mungkin ada saat-saat ketika beberapa remaja tidak berpikir ke
depan dan tidak memperhitungkan konsekuensi dari tindakan mereka. Dalam keadaan
ini, bagian otak yang terkait dengan kesenangan dan penghargaan dapat, untuk
sementara waktu, terbukti lebih kuat daripada area yang terkait dengan berpikir
dan penalaran.
Area otak ketiga yang penting untuk disebutkan adalah hipokampus, bagian
otak yang paling terkait dengan memori. Hipokampus adalah pusat yang memproses
dan mengkodekan jejak memori, dan juga terkait dengan pengambilan memori.
Hipokampus sangat aktif pada masa remaja, dan memainkan peran penting dalam
pembelajaran.
Bagi remaja, hubungan sosial adalah prioritas utama. Bagian otak bernama
Amygdala sangat reaktif selama masa ini, membuat mereka memiliki
sensitivitas sosial yang luar biasa tajam. Menariknya, terdapat perbedaan
perkembangan: remaja perempuan umumnya lebih cepat matang dalam fungsi kontrol
impuls dan empati, sementara remaja laki-laki seringkali lebih cepat dalam
perkembangan area sensorik dan fisik.
Bagi otak remaja, penolakan sosial atau komentar negatif di
media sosial bukan sekadar gangguan kecil. Dr. Dickon Bevington menjelaskan
bahwa otak remaja seringkali tidak bisa membedakan antara "komentar
pedas teman" dan "ancaman harimau" yang mematikan.
Karena rasa cemas yang tinggi, Prefrontal Cortex mereka bisa
mengalami "mati lampu" (shut down). Akibatnya, mereka bereaksi
secara emosional dan impulsif karena otak menganggap mereka sedang dalam mode
bertahan hidup dari predator.
Reaksi intens ini disebabkan oleh beberapa faktor dalam otak remaja yang
sedang berkembang:
· Kelebihan
Beban Mode Bertahan Hidup: Karena
otak sangat sensitif terhadap kedudukan di antara teman sebaya dan isyarat
sosial, pusat emosi (termasuk amigdala) dapat menganggap komentar "sinis"
atau unggahan media sosial yang "canggung" sebagai ancaman
mematikan, mirip dengan "harimau".
· "Penghentian
Fungsi" Korteks Prefrontal: Ketika
tingkat kecemasan meningkat karena ancaman yang dirasakan ini, korteks
prefrontal bagian otak yang bertanggung jawab untuk berpikir rasional, berhenti
sejenak, dan mengambil perspektif tidak dapat berfungsi dengan baik.
· Reaktivitas
Emosional: Tanpa
"sistem pengereman" korteks prefrontal yang sepenuhnya aktif,
remaja bereaksi secara impulsif dan emosional, memprioritaskan perilaku reaktif
yang langsung daripada respons yang dipertimbangkan dan logis.
· Pengaruh
Teman Sebaya: Selama
masa remaja, otak mengalami transisi di mana pengaruh teman sebaya menjadi
sangat penting, membuat evaluasi sosial menjadi intens dan memperbesar
dampak komentar negatif.
Singkatnya, ketika dihadapkan dengan hal-hal negatif di dunia maya, otak
remaja cenderung beralih ke kondisi "melawan atau lari",
memperlakukan isu-isu sosial sebagai situasi hidup dan mati.
5. Jendela Kerentanan dan Kekuatan Tersembunyi
Sifat otak yang sangat plastis (synaptic plasticity)
menjadikan masa remaja sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah
"jendela kerentanan". Kita harus memahami bahwa adiksi atau
kecanduan pada remaja sebenarnya adalah "proses belajar yang salah".
Otak remaja yang sangat fleksibel "belajar" mengonsumsi zat
adiktif jauh lebih cepat, lebih kuat, dan lebih permanen dibandingkan otak
dewasa.
Namun, di sisi lain, ini adalah masa emas. Pada usia 15-16 tahun,
kemampuan untuk Deep Thinking (berpikir mendalam), memahami moralitas
kompleks, dan kreativitas abstrak mulai mencapai puncaknya. Jika
diarahkan dengan tepat, plastisitas ini memungkinkan mereka menguasai
keahlian baru dengan kecepatan yang mustahil dilakukan oleh orang dewasa.
Agar lebih
memahami cara kerja otak remaja, kita selaku orang tua dan guru dapat melihat tayangan
video di bawah ini!
Orang Dewasa dapat Mendorong Perkembangan Otak yang Sehat Bagi Remaja.
Sepanjang tulisan
ini telah ditekankan pada fakta bahwa lingkungan di sekitar remaja membuat
perbedaan. Berikut adalah empat hal yang dapat dilakukan orang dewasa yang
akan berdampak positif pada perkembangan otak.
1. Pemahaman
Jika orang dewasa dapat memahami fakta bahwa remaja sedang mengalami
perubahan besar dan penyesuaian otak mereka, ini akan mempermudah hubungan dan
berkontribusi pada kesejahteraan.
2. Keseimbangan hormon
Keseimbangan hormon yang baik sangat penting agar otak dapat mengelola proses
pemangkasan koneksi yang tidak diinginkan, sambil mengembangkan dan
memperkuat jalur saraf yang bermanfaat. Jika remaja mengalami terlalu banyak
kecemasan atau stres, keseimbangan hormon akan menghambat proses mendasar ini.
Tidak ada cara untuk menghindari tingkat kecemasan dan stres tertentu, tetapi
orang dewasa dapat melakukan semua yang mereka bisa untuk menjaga hal ini pada
tingkat yang wajar. Selain itu, mereka dapat membantu remaja belajar
mengelola emosi yang sulit ini seperti pada gambar di bawah ini dengan
melakukan “koneksi’ dulu baru “koreksi”.
3. Amigdala dan korteks prefrontal.
Semakin banyak yang dapat dilakukan orang dewasa
untuk mendorong perkembangan korteks prefrontal, semakin baik untuk pengaturan
emosi. Semakin kaya lingkungan, dan semakin luas jangkauan aktivitas
yang diikuti oleh remaja, semakin banyak peluang bagi korteks prefrontal untuk
berkembang lebih cepat.
4. Rutinitas yang baik
Bagi remaja, rutinitas sangat berpengaruh. Dalam
hal tidur, efek melatonin dapat diatasi, tetapi hanya dengan rutinitas tidur
yang baik. Hal ini sulit dikelola sendiri, sehingga bantuan orang dewasa dapat
membuat perbedaan yang signifikan.
Otak Remaja
dan Pembelajaran
Remaja lebih mengandalkan korteks prefrontal medial
(mPFC) untuk penalaran sosial. Bayangkan, bagian depan otak Anda, yang membuat
pengaruh teman sebaya dan respons emosional lebih menonjol. Seiring waktu,
aktivitas otak bergeser ke arah jaringan pemrosesan yang lebih efisien,
memungkinkan siswa untuk berpikir lebih kritis dan mandiri.
Guru yang memahami perkembangan otak remaja dapat
memberikan dukungan yang lebih baik untuk pembelajaran, perilaku, dan keterlibatan
siswa.
Perubahan kognitif selama tahap ini berarti bahwa
siswa mungkin kesulitan dalam mengendalikan impuls, mengatur emosi, dan
merencanakan jangka panjang. Hal ini juga menjelaskan mengapa siswa sangat
sensitif terhadap pengaruh teman sebaya dan termotivasi oleh validasi sosial.
Menerapkan Ilmu Saraf di Ruang Kelas.
Saya masih ingat berdiri di kelas, menyaksikan
seorang siswa ragu-ragu sebelum menjawab pertanyaan bukan karena mereka tidak
tahu, tetapi karena teman-teman sebayanya sedang memperhatikan. Remaja
mendambakan persetujuan teman sebaya, dan ilmu saraf mengkonfirmasinya. Dengan
memahami bagaimana otak remaja berkembang, guru dapat membentuk lingkungan yang
mendukung kepercayaan diri, pengambilan risiko, dan pembelajaran yang lebih
mendalam.
Alih-alih menganggap perilaku ini sebagai
ketidakdewasaan, guru dapat menggunakan ilmu saraf untuk merancang pelajaran
yang memanfaatkan cara otak remaja belajar dengan optimal.
Baca Juga: BagaimanaCara Otak Bekerja Saat Kita Belajar?
Membantu Siswa Berpikir Lebih Cerdas.
1. Pembelajaran terstruktur dan penggunaan latihan
mengingat kembali: Otak
remaja masih mengembangkan keterampilan fungsi eksekutif, jadi memecah tugas
menjadi langkah-langkah yang mudah dikelola dan secara teratur meninjau kembali
konten akan meningkatkan daya ingat.
2. Dorong metakognisi: Strategi eksplisit seperti penilaian diri, jurnal
refleksi, dan penetapan tujuan membantu siswa berpikir tentang pemikiran mereka
dan bertanggung jawab atas pembelajaran mereka.
Baca Juga: 27 Strategi, Teknik, dan Aktivitas Pembelajaran untuk Mengembangkan Metakognitif di Dalam Kelas
3. Mendorong pembelajaran sosial: Karena pengaruh teman sebaya sangat kuat, gunakan
pembelajaran kolaboratif, pendampingan teman sebaya, dan kegiatan berbasis
diskusi untuk memperdalam pemahaman dan keterlibatan.
Kesimpulan: Menatap Masa Depan Otak Remaja
Masa remaja
bukanlah sebuah "kerusakan" sistem, melainkan fase adaptasi
yang krusial untuk kemandirian. Sebagai orang dewasa, peran kita bukan untuk
mengendalikan setiap gerak-gerik mereka, melainkan menjadi "Prefrontal
Cortex tambahan". Kita harus memberikan ketenangan, logika, dan
kasih sayang di saat sistem pengereman mereka masih dalam tahap konstruksi seperti dijelaskan pada gambar di bawah ini.
Memahami
neurobiologi ini seharusnya mengubah cara kita memandang mereka. Jika otak
mereka adalah proyek konstruksi yang paling rumit di alam semesta, apakah kita
akan terus meneriakinya karena berantakan, atau mulai menyediakan alat-alat
yang mereka butuhkan untuk menyelesaikannya?
Sumber: Dari berbagai referensi dengan pengolahan Notebook LM.






















0 comments:
Posting Komentar