Senin, 16 Februari 2026

Bukan Sekadar Hormon: Memahami "Renovasi" Besar di Balik Otak Remaja yang Misterius

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa remaja yang cerdas bisa tiba-tiba membuat keputusan yang sangat ceroboh? Atau mengapa drama emosional karena hal sepele bisa berakhir dengan bantingan pintu? Sering kali, kita sebagai orang dewasa dengan cepat menyalahkan "hormon" atau menganggap mereka sedang dalam fase malas dan membangkang.

Namun, sebagai seorang praktisi neuropsikologi, saya ingin mengajak Anda melihat lebih dalam. Apa yang kita anggap sebagai perilaku "sulit" sebenarnya adalah manifestasi dari transformasi biologis yang luar biasa. Remaja tidak sedang "rusak"; otak mereka sedang dalam proses renovasi besar-besaran. Otak mereka sedang bertransisi dari mesin yang dirancang untuk absorpsi (menyerap informasi) menjadi mesin yang dioptimalkan untuk pemahaman mendalam (understanding) dan efisiensi. Ini adalah masa transisi dari otak anak yang bertanya "apa" menjadi otak dewasa yang memahami "mengapa".

Sampai baru-baru ini diasumsikan bahwa hanya sedikit perkembangan lebih lanjut yang terjadi di otak setelah berakhirnya masa kanak-kanak. Namun sekarang kita tahu bahwa otak terus berubah dan berkembang sepanjang masa remaja. Bahkan, ada lebih banyak perubahan di otak selama masa remaja daripada pada waktu lain dalam perkembangan manusia selain tiga tahun pertama kehidupan.

Ini berarti bahwa masa remaja adalah periode kritis. Apa yang terjadi selama periode ini memiliki implikasi besar bagi perkembangan selanjutnya. Tentu saja otak tidak berkembang secara terisolasi. Otak dan lingkungan berinteraksi, masing-masing memengaruhi yang lain.

Silakan simak video berikut bagi remaja untuk memahami seperti apa otak remaja itu bekerja!

Dalam pengantar singkat ini, kami akan menjelaskan perubahan yang terjadi di otak remaja. Kami akan menunjukkan bagaimana perubahan ini memengaruhi perilaku. Terakhir, kami akan menguraikan bagaimana orang dewasa termasuk guru dapat menggunakan pengetahuan ini untuk mendorong perkembangan otak yang sehat. Semakin banyak orang dewasa termasuk guru memahami apa yang terjadi pada otak pada saat ini, semakin kita dapat membantu remaja mengelola periode transisi ini.

1.  Ketidakseimbangan Mesin: Mengapa Remaja Menjadi "Pencari Sensasi"

Bayangkan sebuah mobil sport dengan mesin yang sangat bertenaga, namun sistem pengeremannya belum terpasang sempurna. Itulah gambaran akurat otak remaja. Di dalam sana, terjadi ketidaksinkronan antara dua sistem utama: Limbic System (pusat emosi dan imbalan) dan Prefrontal Cortex (pusat kendali dan logika). Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini dengan sistem limbik sudah sempurna, namun korteks prefrontal masih dalam proses menuju kesmepurnaan.

Secara kimiawi, otak remaja dibanjiri oleh Dopamine, neurotransmitter yang memicu rasa senang dan dorongan untuk mencari imbalan instan. Di sisi lain, Serotonin si "kimia penenang" yang berfungsi sebagai rem alami untuk meredakan ketegangan dan impulsivitas masih belum bekerja secara stabil. Ketimpangan ini membuat remaja sangat sensitif terhadap sensasi baru dan risiko.

Pada remaja, bagian otak yang mengontrol ucapan dan menafsirkan ekspresi wajah serta emosi (amigdala) juga merupakan bagian otak yang kita gunakan ketika kita berada dalam bahaya. Ini berarti mereka menjadi bingung!

Ada sebuah eksperimen untuk melihat apakah remaja dan orang dewasa mengenali suatu ekspresi dengan cara yang sama seperti yang dilihat pada gambar di bawah ini.

Pakar perkembangan remaja, Laurence Steinberg, merangkumnya dengan sangat tajam:

"Remaja memiliki mesin yang sangat kuat, namun sistem pengeremannya belum tersedia secara memadai."

 

Secara evolusi, desain "berisiko" ini sebenarnya diperlukan. Tanpa dorongan untuk mencari sensasi dan keberanian menghadapi ketidakpastian, remaja tidak akan pernah memiliki kekuatan untuk "meninggalkan sarang" dan menjadi mandiri.

2.  Bukan Malas: Sains di Balik Jam Tidur yang Bergeser

Label "pemalas" sering disematkan pada remaja karena mereka sulit bangun pagi. Namun, ini adalah masalah neurobiologi murni. Tubuh kita memproduksi Melatonin untuk memberi sinyal waktu tidur. Pada remaja, kadar melatonin ini naik lebih lambat di malam hari dibandingkan orang dewasa.

Secara alami, jam biologis mereka bergeser sekitar dua jam lebih lambat seperti pada gambar di atas. Masalahnya menjadi rumit karena paparan layar gawai. Cahaya dari ponsel atau laptop meniru cahaya siang hari, yang menipu otak untuk menunda produksi melatonin lebih lama lagi. Ketika sekolah dimulai pukul 7 pagi, remaja sebenarnya dipaksa beraktivitas saat otak mereka secara biologis masih dalam fase istirahat total. Kurang tidur kronis (kurang dari 9-10 jam) bukan sekadar membuat mereka mengantuk, tapi secara nyata meningkatkan iritabilitas, impulsivitas, dan risiko depresi.

Remaja membutuhkan lebih banyak tidur daripada anak-anak dan orang dewasa. Jika remaja Anda menginginkan lebih banyak tidur, kemungkinan besar mereka membutuhkannya! Psychology Today menjelaskan bagaimana remaja membutuhkan 8-10 jam tidur setiap malam untuk memenuhi kebutuhan kinerja mereka setiap hari. Kadar melatonin dalam darah meningkat di malam hari dan menurun di pagi hari pada remaja. Hal itu dapat menjelaskan mengapa remaja cenderung begadang lebih lama dan kesulitan bangun di pagi hari! Otak remaja membutuhkan tidur ini untuk memproses informasi dengan lebih efektif!

Berikut beberapa ide tentang mengembangkan rutinitas tidur yang baik untuk remaja:

    Matikan semua perangkat digital setidaknya setengah jam sebelum tidur;

    Redupkan lampu, putar musik yang menenangkan;

    Minum minuman hangat (tanpa kafein);

  Yang terpenting, kembangkan rutinitas. Orang dewasa dapat membantu dalam hal ini. Rutinitas membuat perbedaan besar.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada alasan lain mengapa tidur sangat penting bagi remaja. Tidur adalah waktu konsolidasi memori. Jam tidur memungkinkan otak untuk mengulang pembelajaran yang telah terjadi di siang hari dan menanamkannya dalam memori jangka panjang.

3.  Prinsip "Gunakan atau Hilangkan": Bagaimana Otak Membangun Jalan Tol

Mungkin Anda berpikir otak remaja sedang tumbuh membesar. Faktanya, volume otak sudah mencapai 90% ukuran dewasa di usia 6 tahun. Yang terjadi saat remaja bukanlah penambahan ukuran, melainkan peningkatan kompleksitas lipatan dan efisiensi melalui dua proses kunci:

  • Synaptic Pruning (Pemangkasan Sinapsis): Otak membuang koneksi saraf yang jarang digunakan. Ini seperti merapikan peta kota; jalan-jalan kecil yang buntu dihancurkan agar sumber daya bisa dialokasikan ke jalur yang lebih penting. Di sinilah Gray Matter (materi abu-abu) mengalami penurunan volume karena otak menjadi lebih ramping dan efisien.
  • Myelination: Ini adalah proses pelapisan akson saraf dengan lemak yang disebut mielin. Jika pemangkasan adalah menghapus jalan buntu, mielinisasi adalah membangun Superhighway (jalan tol). Informasi yang tadinya berjalan lambat di "jalan setapak" kini melesat cepat di jalur bebas hambatan.

Proses pemangkasan dan penguatan ini dapat dilihar pada gambar di bawah dengan membandingkan dengan otak anak-anak. Pada masa anak-anak banyak koneksi tapi lemah dan ketika remaja mulai dipilih koneksi yang sering digunakan akan dipertahankan.

Pesan penting bagi kita: apa yang dilakukan remaja saat ini apakah itu belajar musik, olahraga, atau sekadar scrolling media social secara fisik sedang membentuk struktur permanen otak mereka. Mereka sedang menentukan jalur mana yang akan menjadi "jalan tol" dan mana yang akan dipangkas selamanya.

Karena itu memungkinkan otak untuk "memperkuat" keterampilan dan pengetahuan yang dipelajari melalui latihan berulang. Mielinisasi pada masa remaja bertindak untuk mengunci keterampilan, sehingga lebih sulit untuk mempelajari keterampilan baru yang sama sekali berbeda, tetapi sangat efisien untuk menyempurnakan pengetahuan yang sudah ada.

Begitu juga dengan peningkatan dan penebalan jalur materi putih (misalnya, di korpus kalosum) saat remaja akan memperkuat komunikasi antar belahan otak, meningkatkan proses berpikir yang kompleks, seperti mengintegrasikan emosi dengan logika.

4.  Radar Sosial: Mengapa Pendapat Teman Terasa Seperti "Hidup dan Mati"

Dua area terpenting di otak adalah korteks prefrontal dan amigdala. Kedua area ini mengalami perubahan yang sangat signifikan pada masa ini. Korteks prefrontal adalah area yang paling terkait dengan pemikiran, perencanaan, dan pemecahan masalah. Amigdala adalah area yang terkait dengan emosi, sensasi, dan gairah. Ada juga area di otak yang terkait dengan pencarian kesenangan, dan area ini lebih aktif selama masa remaja.

Pusat-pusat di otak ini mengalami perubahan signifikan selama tahun-tahun ini. Otak sedang matang, tetapi ini tidak terjadi dalam semalam. Butuh waktu lama bagi semua bagian otak untuk berfungsi dengan baik bersama-sama.

Pada beberapa remaja, amigdala dapat berkembang lebih cepat daripada korteks prefrontal, dan ini terkadang dianggap sebagai penjelasan untuk perilaku berisiko. Mungkin ada saat-saat ketika beberapa remaja tidak berpikir ke depan dan tidak memperhitungkan konsekuensi dari tindakan mereka. Dalam keadaan ini, bagian otak yang terkait dengan kesenangan dan penghargaan dapat, untuk sementara waktu, terbukti lebih kuat daripada area yang terkait dengan berpikir dan penalaran.

Area otak ketiga yang penting untuk disebutkan adalah hipokampus, bagian otak yang paling terkait dengan memori. Hipokampus adalah pusat yang memproses dan mengkodekan jejak memori, dan juga terkait dengan pengambilan memori. Hipokampus sangat aktif pada masa remaja, dan memainkan peran penting dalam pembelajaran.

Bagi remaja, hubungan sosial adalah prioritas utama. Bagian otak bernama Amygdala sangat reaktif selama masa ini, membuat mereka memiliki sensitivitas sosial yang luar biasa tajam. Menariknya, terdapat perbedaan perkembangan: remaja perempuan umumnya lebih cepat matang dalam fungsi kontrol impuls dan empati, sementara remaja laki-laki seringkali lebih cepat dalam perkembangan area sensorik dan fisik.

Bagi otak remaja, penolakan sosial atau komentar negatif di media sosial bukan sekadar gangguan kecil. Dr. Dickon Bevington menjelaskan bahwa otak remaja seringkali tidak bisa membedakan antara "komentar pedas teman" dan "ancaman harimau" yang mematikan. Karena rasa cemas yang tinggi, Prefrontal Cortex mereka bisa mengalami "mati lampu" (shut down). Akibatnya, mereka bereaksi secara emosional dan impulsif karena otak menganggap mereka sedang dalam mode bertahan hidup dari predator.

Reaksi intens ini disebabkan oleh beberapa faktor dalam otak remaja yang sedang berkembang:

·  Kelebihan Beban Mode Bertahan Hidup: Karena otak sangat sensitif terhadap kedudukan di antara teman sebaya dan isyarat sosial, pusat emosi (termasuk amigdala) dapat menganggap komentar "sinis" atau unggahan media sosial yang "canggung" sebagai ancaman mematikan, mirip dengan "harimau".

· "Penghentian Fungsi" Korteks Prefrontal: Ketika tingkat kecemasan meningkat karena ancaman yang dirasakan ini, korteks prefrontal bagian otak yang bertanggung jawab untuk berpikir rasional, berhenti sejenak, dan mengambil perspektif tidak dapat berfungsi dengan baik.

·   Reaktivitas Emosional: Tanpa "sistem pengereman" korteks prefrontal yang sepenuhnya aktif, remaja bereaksi secara impulsif dan emosional, memprioritaskan perilaku reaktif yang langsung daripada respons yang dipertimbangkan dan logis.

·  Pengaruh Teman Sebaya: Selama masa remaja, otak mengalami transisi di mana pengaruh teman sebaya menjadi sangat penting, membuat evaluasi sosial menjadi intens dan memperbesar dampak komentar negatif.

Singkatnya, ketika dihadapkan dengan hal-hal negatif di dunia maya, otak remaja cenderung beralih ke kondisi "melawan atau lari", memperlakukan isu-isu sosial sebagai situasi hidup dan mati.

5.  Jendela Kerentanan dan Kekuatan Tersembunyi

Sifat otak yang sangat plastis (synaptic plasticity) menjadikan masa remaja sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah "jendela kerentanan". Kita harus memahami bahwa adiksi atau kecanduan pada remaja sebenarnya adalah "proses belajar yang salah". Otak remaja yang sangat fleksibel "belajar" mengonsumsi zat adiktif jauh lebih cepat, lebih kuat, dan lebih permanen dibandingkan otak dewasa.

Namun, di sisi lain, ini adalah masa emas. Pada usia 15-16 tahun, kemampuan untuk Deep Thinking (berpikir mendalam), memahami moralitas kompleks, dan kreativitas abstrak mulai mencapai puncaknya. Jika diarahkan dengan tepat, plastisitas ini memungkinkan mereka menguasai keahlian baru dengan kecepatan yang mustahil dilakukan oleh orang dewasa.

Agar lebih memahami cara kerja otak remaja, kita selaku orang tua dan guru dapat melihat tayangan video di bawah ini!

Orang Dewasa dapat Mendorong Perkembangan Otak yang Sehat Bagi Remaja.

Sepanjang tulisan ini telah ditekankan pada fakta bahwa lingkungan di sekitar remaja membuat perbedaan. Berikut adalah empat hal yang dapat dilakukan orang dewasa yang akan berdampak positif pada perkembangan otak.

1.  Pemahaman

Jika orang dewasa dapat memahami fakta bahwa remaja sedang mengalami perubahan besar dan penyesuaian otak mereka, ini akan mempermudah hubungan dan berkontribusi pada kesejahteraan.

2.  Keseimbangan hormon

Keseimbangan hormon yang baik sangat penting agar otak dapat mengelola proses pemangkasan koneksi yang tidak diinginkan, sambil mengembangkan dan memperkuat jalur saraf yang bermanfaat. Jika remaja mengalami terlalu banyak kecemasan atau stres, keseimbangan hormon akan menghambat proses mendasar ini. Tidak ada cara untuk menghindari tingkat kecemasan dan stres tertentu, tetapi orang dewasa dapat melakukan semua yang mereka bisa untuk menjaga hal ini pada tingkat yang wajar. Selain itu, mereka dapat membantu remaja belajar mengelola emosi yang sulit ini seperti pada gambar di bawah ini dengan melakukan “koneksi’ dulu baru “koreksi”.

3.  Amigdala dan korteks prefrontal.

Semakin banyak yang dapat dilakukan orang dewasa untuk mendorong perkembangan korteks prefrontal, semakin baik untuk pengaturan emosi. Semakin kaya lingkungan, dan semakin luas jangkauan aktivitas yang diikuti oleh remaja, semakin banyak peluang bagi korteks prefrontal untuk berkembang lebih cepat.

4.  Rutinitas yang baik

Bagi remaja, rutinitas sangat berpengaruh. Dalam hal tidur, efek melatonin dapat diatasi, tetapi hanya dengan rutinitas tidur yang baik. Hal ini sulit dikelola sendiri, sehingga bantuan orang dewasa dapat membuat perbedaan yang signifikan.

Otak Remaja dan Pembelajaran

Remaja lebih mengandalkan korteks prefrontal medial (mPFC) untuk penalaran sosial. Bayangkan, bagian depan otak Anda, yang membuat pengaruh teman sebaya dan respons emosional lebih menonjol. Seiring waktu, aktivitas otak bergeser ke arah jaringan pemrosesan yang lebih efisien, memungkinkan siswa untuk berpikir lebih kritis dan mandiri.

Guru yang memahami perkembangan otak remaja dapat memberikan dukungan yang lebih baik untuk pembelajaran, perilaku, dan keterlibatan siswa.

Perubahan kognitif selama tahap ini berarti bahwa siswa mungkin kesulitan dalam mengendalikan impuls, mengatur emosi, dan merencanakan jangka panjang. Hal ini juga menjelaskan mengapa siswa sangat sensitif terhadap pengaruh teman sebaya dan termotivasi oleh validasi sosial.

Menerapkan Ilmu Saraf di Ruang Kelas.

Saya masih ingat berdiri di kelas, menyaksikan seorang siswa ragu-ragu sebelum menjawab pertanyaan bukan karena mereka tidak tahu, tetapi karena teman-teman sebayanya sedang memperhatikan. Remaja mendambakan persetujuan teman sebaya, dan ilmu saraf mengkonfirmasinya. Dengan memahami bagaimana otak remaja berkembang, guru dapat membentuk lingkungan yang mendukung kepercayaan diri, pengambilan risiko, dan pembelajaran yang lebih mendalam.

Alih-alih menganggap perilaku ini sebagai ketidakdewasaan, guru dapat menggunakan ilmu saraf untuk merancang pelajaran yang memanfaatkan cara otak remaja belajar dengan optimal.

Baca Juga: BagaimanaCara Otak Bekerja Saat Kita Belajar?

Membantu Siswa Berpikir Lebih Cerdas.

1. Pembelajaran terstruktur dan penggunaan latihan mengingat kembali: Otak remaja masih mengembangkan keterampilan fungsi eksekutif, jadi memecah tugas menjadi langkah-langkah yang mudah dikelola dan secara teratur meninjau kembali konten akan meningkatkan daya ingat.

2.  Dorong metakognisi: Strategi eksplisit seperti penilaian diri, jurnal refleksi, dan penetapan tujuan membantu siswa berpikir tentang pemikiran mereka dan bertanggung jawab atas pembelajaran mereka.

Baca Juga: 27 Strategi, Teknik, dan Aktivitas Pembelajaran untuk Mengembangkan Metakognitif di Dalam Kelas

3. Mendorong pembelajaran sosial: Karena pengaruh teman sebaya sangat kuat, gunakan pembelajaran kolaboratif, pendampingan teman sebaya, dan kegiatan berbasis diskusi untuk memperdalam pemahaman dan keterlibatan.

Kesimpulan: Menatap Masa Depan Otak Remaja

Masa remaja bukanlah sebuah "kerusakan" sistem, melainkan fase adaptasi yang krusial untuk kemandirian. Sebagai orang dewasa, peran kita bukan untuk mengendalikan setiap gerak-gerik mereka, melainkan menjadi "Prefrontal Cortex tambahan". Kita harus memberikan ketenangan, logika, dan kasih sayang di saat sistem pengereman mereka masih dalam tahap konstruksi seperti dijelaskan pada gambar di bawah ini.


Memahami neurobiologi ini seharusnya mengubah cara kita memandang mereka. Jika otak mereka adalah proyek konstruksi yang paling rumit di alam semesta, apakah kita akan terus meneriakinya karena berantakan, atau mulai menyediakan alat-alat yang mereka butuhkan untuk menyelesaikannya?

Sumber: Dari berbagai referensi dengan pengolahan Notebook LM.

0 comments:

Posting Komentar