Jumat, 28 Maret 2014

TIPE PEMBELAJARAN GRADE SKIPPING UNTUK KELAS CERDAS ISTIMEWA



Se Indonesia, terdapat ribuan siswa CI yang ada di kelas yang dilabelkan dengan kelas akselerasi, namun kemampuan, keunggulannya serta kebutuhannya sangat jarang diketahui sehingga layanan pendidikan bagi mereka banyak yang tidak sesuai. Keharusan untuk menggunakan prinsip diferensiasi jarang bahkan sedikit sekali dipenuhi, akibatnya ketika muncul POS UN 2013 terutama butir 5 tidak sedikit kelas CI repot dibuatnya. Banyak siswa yang dikategorikan CI berguguran sebab ternyata mereka tidak kategori CI. Banyak sekolah penyelenggara CI mundur tidak berani menyelenggarakannya lagi. Fenomena demikian di USA mulai terasa sejak tahun 2003 dan diulangi lagi penegasan malpraktik ini oleh Gary A. Davis tahun 2011 ketika dia melihat malpraktik terjadi di sekolah.
            Ada kekawatiran bahwa telah terjadi bahwa yang ada di kelas CI bukan siswa CI dan yang diselenggarakan kelas CI bukan pula sebenarnya kelas penyelenggaraan tetapi kelas regular saja. Selama ini memang belum diketahui melalui riset khusus CI tentang berapa banyak siswa CI yang bosan dan terganggu oleh siswa non CI di kelas CI yang belajar materi lebih lambat. Demikian pula berapa kelas yang mengaku CI tetapi sebenarnya mereka hanya kelas biasa saja. Akibat dari malpraktik yang demikian siswa CI yang murni/sebenarnya menjadi tertekan dan sangat terbebani karena belajar materi pelajaran di bawah kemampuannya serta berpura-pura belajar atau melakukan sesuatu untuk menghindari materi pelajaran yang tidak penting. Itulah sebabnya pembelajaran harus menantang, penting dan cepat, namun tuntutan tersebut sulit dipenuhi, akibatnya sekarang ini sekolah penyelenggara CI mengalami krisis yang serius dan kelas menjadi quiet crisis sebab siswa memilih diam diri. (Joseph Renzulli & Park S. 2002). Pada saat itu siswa CI mengalami underachievement yaitu siswa CI cerdas tetapi prestasinya rendah.

            Kesadaran untuk menyesuaikan keunggulan siswa CI dengan habitat belajarnya tidak mudah untuk diciptakan sehingga banyak orang tua bahkan banyak para pendidik memandang pemberian layanan yang sesuai dengan keunikannya dan keunggulannya sebagai tindakan elitis dan mengabaikan keadilan pada siswa. Kritik lain yang muncul juga dari aspek tambahan biaya penyelenggaraan pendidikan bagi CI seperti halnya menganggap bahwa model pull out telah menggantikan model kelas regular yang selama ini berjalan. Namun jika dirasakan dan dilogikakan lebih mendalam ternyata tidak demokratis dan diskriminatif bila anak yang jelas berbeda potensi dan keunggulannya diperlakukan sama dengan siswa reguler yang jelas beda. Disinilah dibutuhkan payung hukum tentang hak siswa CI untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai.
Gerakan penyelenggaraan layanan pendidikan bagi siswa CI semakin meluas walaupun perkembangannya tidak merata, ada beberapa Negara terutama di Eropa yang membatasi layanan siswa CI bukan dalam bentuk kelas atau sekolah CI tetapi hanya dalam bentuk grade skipping saja. Dalam perkembangan layanan CI ini akhirnya ada beberapa corak layanan Ci bahkan ada layanan CI semua yaitu layanan pendidikan CI yang hanya papan nama namun di dalam praktek pembelajaran sama dengan regular karena pelajarannya, mengajarnya dan gurunya sama dengan reguler. Sebenarnya dilihat dari segi biaya dan efektivitas maka layanan pendidikan bagi siswa CI dapat menempuh model grade skipping (Colangelo, N. Assouline S.G & Cross M. 2004:  77).
            Penyelenggaraan layanan pendidikan bagi siswa CI akan selalu terjadi kekacauan ketika mereka tidak dengan senagaja dilakukan pengelompokan. Siswa CI ada yang dilayani dengan separuh waktu melalui program khusus tetapi ada yang diselenggarakan dengan full time dalam kelas khusus dan diperkaya dengan kurikulum khusus. Pengelompokan siswa CI yang dilakukan ternyata dalam kajian Kulik  (2003 :268-281) mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkat akademik siswa. Pendidikan bagi CI memiliki masalah yang serius apabila tidak dikenakan pengelompokan, sehingga pengelompokan harus dipandang sebagai bagian strategi yang tidak dapat dipisahkan. Dalam kajian ini diberikan beberapa kesimpulan penelitian yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan CI serta pengaruhnya pada tingkat akademik siswa CI.



Catatan: rentangan 35-70 maknanya efek pengaruh akademiknya cukup tinggi, sedang rentangan lebih 70 efek akademiknya tinggi.
Berdasarkan pada tabel diatas memperlihatkan bahwa tipe penyelenggaraan layanan pendidikan CI model grade skipping merupakan layanan yang pengaruh akademiknya tinggi bagi siswa CI. Dalam model grade skipping ini siswa CI diperbolehkan mengikuti pelajaran di atasnya ketika siswa dipandang mempunyai kemampuan tinggi dan layak belajar lebih cepat melalui kelasnya. Karena itu guru perlu menvariasikan layanan CI bukan hanya menerapkan model percepatan tetapi dapat pula mengkombinasikan berbagai tipe layanan pendidikan CI. Dalam pelaksanaan layanan pendidikan CI tuntutan yang harus dipenuhi oleh semua penyelenggara adalah kurikulum modifikasi atau diferensiasi (Wiggins. G.  & Tc Tigue. J. 1998., Rim. S. 2008. A. C. Tomlinson. 2003.)

Pilihan penyelenggaraan pendidikan apakah model pengayaan maupun model percepatan seharusnya didasarkan pada karakter siswa CI. Tentu menjadi kurang tepat ketika siswa Ci yang bertipe/berkarakter pengayaan (enrichment) di sekolah di kelaskan pada kelas percepatan atau sebaliknya yang berkarakter percepatan di kelaskan pada kelas pengayaan. Selama ini di sekolah belum mempertimbangkan hal itu sebab sekolah langsung sejak sebelum adanya penerimaan siswa CI telah dikelaskan ke kelas percepatan pada hal siswa Ci yang berhasil dijaring belum tentu mereka bertipe accelerated. Inilah praktek keliru di sekolah yang menganggap semua siswa bertipe percepatan sehingga semua siswa CI dianggap dan cocok dengan kelas percepatan (akselerasi). Disinilah diperlukan asesmen agar terjadi kesesuaian antara kelas yang disediakan dengan keadaan riil siswa Ci yang masuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar