Sabtu, 09 Juni 2018

Bentuk Kegiatan dan Strategi Pelaksanaan Tahap-Tahap Literasi di Sekolah

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Gerakan Literasi di sekolah merupakan suatu kegiatan yang wajib kita laksanakan dalam rangka implementasi kurikulum 2013. Namun masih banyak sekolah yang belum melaksanakannya secara maksimal. Antara lain masalahnya adalah pemahaman terhadap gerakan literasi ini sendiri. Tulisan ini menjelaskan tahap-tahap implementasi gerakan literasi tersebut yang dimulai penyiapan sarana dan prasarana yang sesuai dengan tahap-tahap pelaksanaannya. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.

Bentuk Kegiatan Literasi di Sekolah
 Tekhnis Konsep Literasi (Harian, Mingguan, Bulanan, Per Semester/enam bulanan) Sekolah :
1.      Kegiatan Harian
a.       Membaca buku-buku (budi pekerti, novel, biografi, pengembangan diri, dll) 15 menit sebelum pelajaran  dimulai di kelas masing-masing.
b.      Menyediakan Pojok Literasi di perpustakaan, taman, atau lokasi manapun yang nyaman di lingkungan sekolah
c.        Menjadwalkan kegiatan literasi (membaca, menulis, mendongeng, bermain drama, menggambar,  kerajinan tangan, dst) bagi setiap kelas di Pojok Literasi
d.      Membuat Majalah Dinding di perpustakaan sekolah sebagai media apresiasi karya anak
e.       Mengaitkan setiap mata pelajaran dengan buku-buku yang mengandung nilai-nilai budi pekerti  luhur
f.       Mengarahkan hukuman siswa (yang bolos, tawuran, tdk mengerjakan tugas, dll) dengan menyumbang buku anak untuk sekolah, membuat rangkuman, dan esai
g.      Membuat form observasi untuk menilai kemajuan anak dalam hal literasi.
h.      Memposting gambar/cerita kegiatan literasi di media sosial (facebook dan whatsap)

2.      Mingguan
a.       Mengadakan quis atau perlombaan kegiatan literasi (lomba membaca, mendongeng, berpuisi, drama cerita rakyat, menari, dst) yang menyenangkan
b.      Meminta dan memotivasi  anak untuk berkunjung ke Perpustakaan atau Taman yang merupakan kegiatan mingguan Perpustakaan
c.       Mendorong dan mendampingi anak untuk membuat karya (mengarang, pusi, gambar, dll) untuk dimuat di media massa
d.      Melakukan Evaluasi dan Observasi terhadap pelaksanaan kegiatan literasi di akhir pekan

3.      Bulanan
a.       Mengadakan kegiatan kunjungan ke pusat-pusat Literasi (toko buku, museum, rumah adat, tokoh masyarakat, dinas Pariwisata, dan seterusnya)
b.      Mengadakan Lomba Karya Literasi Antar Kelas. Lomba Karya Literasi antar kelas juga bisa menjadi salah satu program gerakan literasi sekolah yang menarik. Lombanya bisa berupa lomba mading antar kelas, lomba poster antar kelas, lomba membuat pohon literasi antar kelas, dan lain-lain.
c.       Diskusi Hasil Resensi Buku. Peserta didik membaca buku, buku tersebut diresensi kemudian didiskusikan dalam acara diskusi bulanan.
d.      Lomba Perpustakaan Kelas. Setiap kelas membuat perpustakaan diisi sendiri oleh peserta didik sendiri dan dinilai setiap bulan.
e.       Tantangan membaca. Sekolah membuat tantangan kepada  peserta didik yang berhasil membaca 10 buku dalam satu bulan.

4.      Semester
a.       Memberi reward kepada siswa yang mendapatkan nilai terbaik dalam bidang literasi (reading award dan writing award)
b.      Mendorong orang tua siswa untuk menjadi penyumbang buku anak di akhir semester.
c.       Mengadakan Lomba Duta Literasi Sekolah. Agenda Lomba Duta Literasi sekolah merupakan salah satu program alternatif untuk memotivasi anak dalam ber-literasi. Beberapa kriteria untuk menjadi Duta Literasi Sekolah antara lain adalah siapa peminjam buku perpustakaan terbanyak dalam 1 semester/siapa yang berhasil menyelesaikan banyak buku untuk dibaca dalam 1 semester, dan lain-lain.

Strategi Pelaksanaan Literasi di Sekolah
 1.      Tahap Persiapan
a.       Pentahapan dalam Penyelenggaraan Literasi
1)      Membentuk Tim Literasi Sekolah
2)      Menerbitkan SK Kepala Sekolah tentang tim pelaksana literasi
3)      Pelaksanaan sosialisasi
4)      Implementasi program
b.      Penyediaan dan Penataan Sarana
1)      Tempat yang dapat mengundang minat anak/siswa untuk gemar membaca
2)      Penyediaan buku-buku bacaan ringan yang digemari anak yang dapat menstimulus terhadap pembelajaran akademis
3)      Penyediaan media elektronik; audio & Visual
c.       Rangsangan Minat Baca
1)      Pemasangan slogan/jargon yang menarik minat baca di tempat-tempat anak/siswa biasa berkumpul
2)      Parfum ruangan yang disukai siswa
3)      Petugas/Guru/Pendamping yang Berkepribadian menarik
4)      Berpenampilan simpatik, humoris
d.      Pemberian Reward :
1)      Pemberian Pujian
2)      Memberi Hadiah
3)      Memberi door price, dll.

2.      Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan gerakan literasi sekolah terdiri dari 3 tahap, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.
a.      Tahap 1 : Pembiasaan
Tahap pembiasaan ini merupakan kegiatan penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca (Permendikbud No. 23 Tahun 2015).
Tujuan kegiatan literasi di tahap pembiasaan adalah:
1)      Meningkatkan rasa cinta baca di luar jam pelajaran;
2)      Meningkatkan kemampuan memahami bacaan;
3)      Meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik; dan
4)      Menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan.
Kegiatan membaca ini didukung oleh penumbuhan iklim literasi sekolah yang baik. Dalam tahap pembiasaan, iklim literasi sekolah diarahkan pada pengadaan dan pengembangan lingkungan fisik, seperti:
1)      Buku-buku nonpelajaran (novel, kumpulan cerpen, buku ilmiah populer, majalah, komik, dsb.);
2)      Sudut baca kelas untuk tempat koleksi bahan bacaan; dan
3)      Poster-poster tentang motivasi pentingnya membaca.
Prinsip-prinsip kegiatan membaca di dalam tahap pembiasaan dipaparkan berikut ini.
1)      Guru menetapkan waktu 15 menit membaca setiap hari. Sekolah bisa memilih menjadwalkan waktu membaca di awal, tengah, atau akhir pelajaran, bergantung pada jadwal dan kondisi sekolah masing-masing. Kegiatan membaca dalam waktu pendek, namun sering dan berkala lebih efektif daripada satu waktu yang panjang namun jarang (misalnya 1 jam/ minggu pada hari tertentu).
2)      Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku nonpelajaran.
3)      Peserta didik dapat diminta membawa bukunya sendiri dari rumah.
4)      Buku yang dibaca/dibacakan adalah pilihan peserta didik sesuai minat dan kesenangannya.
5)      Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini tidak diikuti oleh tugas-tugas yang bersifat tagihan/penilaian.
6)      Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh diskusi informal tentang buku yang dibaca/dibacakan. Meskipun begitu, tanggapan peserta didik bersifat opsional dan tidak dinilai.
7)      Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini berlangsung dalam suasana yang santai, tenang, dan menyenangkan. Suasana ini dapat dibangun melalui pengaturan tempat duduk, pencahayaan yang cukup terang dan nyaman untuk membaca, poster-poster tentang pentingnya membaca.
8)      Dalam kegiatan membaca dalam hati, guru sebagai pendidik juga ikut membaca buku selama 15 menit.
Prosedur kerja dalam tahap pembiasaan ini adalah sebagai berikut:
1)        Tanda bel kegiatan gemar membaca
2)        Secara bergantian masing-masing siswa mengambil bacaan dan buku laporan bacaan di almari kelas.
3)        Siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing
4)        Guru mempersilakan siswa membaca buku bacaan selama 10 menit
5)        Siswa membaca buku bacaan selama 10 menit dan siswa menulis ide pokok bacaan selama 5 menit.
6)        Siswa mengembalikan buku bacaan dan laporan bacaannya ke dalam almari kelas secara bergantian.
7)        Siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing.

b.      Tahap 2: Pengembangan
Pada prinsipnya, kegiatan literasi pada tahap pengembangan sama dengan kegiatan pada tahap pembiasaan. Yang membedakan adalah bahwa kegiatan 15 menit membaca diikuti oleh kegiatan tindak lanjut pada tahap pengembangan. Dalam tahap pengembangan, peserta didik didorong untuk menunjukkan keterlibatan pikiran dan emosinya dengan proses membaca melalui kegiatan produktif secara lisan maupun tulisan. Perlu dipahami bahwa kegiatan produktif ini tidak dinilai secara akademik. Mengingat kegiatan tindak lanjut memerlukan waktu tambahan di luar 15 menit membaca, sekolah didorong untuk memasukkan waktu literasi dalam jadwal pelajaran sebagai kegiatan membaca mandiri atau sebagai bagian dari kegiatan kokurikuler. Bentuk, frekuensi, dan durasi pelaksanaan kegiatan tindak lanjut disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan di tahap pembiasaan, kegiatan 15 menit membaca di tahap pengembangan diperkuat oleh berbagai kegiatan tindak lanjut yang bertujuan untuk:
1)         Mengasah kemampuan peserta didik dalam menanggapi buku pengayaan secara lisan dan tulisan;
2)         Membangun interaksi antarpeserta didik dan antara peserta didik dengan guru tentang buku yang dibaca;
3)         Mengasah kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif; dan
4)         Mendorong peserta didik untuk selalu mencari keterkaitan antara buku yang dibaca dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Dalam melaksanakan kegiatan tindak lanjut, beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan dipaparkan sebagai berikut:
1)         Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku selain buku teks pelajaran. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah.
2)         Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh tugas-tugas presentasi singkat, menulis sederhana, presentasi sederhana, kriya, atau seni peran untuk menanggapi bacaan, yang disesuaikan dengan jenjang dan kemampuan peserta didik.
3)         Tugas-tugas presentasi, menulis, kriya, atau seni peran dapat dinilai secara nonakademik dengan fokus pada sikap peserta didik selama kegiatan. Tugas-tugas yang sama nantinya dapat dikembangkan menjadi bagian dari penilaian akademik bila kelas/sekolah sudah siap mengembangkan kegiatan literasi ke tahap pembelajaran.
4)         Kegiatan membaca/membacakan buku berlangsung dalam suasana yang menyenangkan. Untuk memberikan motivasi kepada peserta didik, guru sebaiknya memberikan masukan dan komentar sebagai bentuk apresiasi.
5)         Terbentuknya Tim Literasi Sekolah (TLS). Untuk menunjang keterlaksanaan berbagai kegiatan tindak lanjut GLS di tahap pengembangan ini, sekolah sebaiknya membentuk TLS, yang bertugas untuk merancang, mengelola, dan mengevaluasi program literasi sekolah. Pembentukan TLS dapat dilakukan oleh kepala sekolah. Adapun TLS beranggotakan guru (sebaiknya guru bahasa atau guru yang tertarik dan berlibat dengan masalah literasi) serta tenaga kependidikan atau pustakawan sekolah.
Contoh kegiatan pada tahap pengembangan dapat berupa kegiatan di bawah ini:
1)         Melaksanakan gerakan literasi 15 menit sebelum jam pelajaran (dibuktikan dengan jurnal literasi yang dimiliki setiap siswa). Kegiatan pada tahap ini dapat dilakukan seperti pada tabel di bawah ini:
2)         Gerakan literasi dalam satu minggu dapat isi dengan beragam kegiatan, contohnya: dua hari membaca buku bebas, dua hari mendengarkan lagu nasional beserta deskripsinya, dua hari melihat video tentang macam-macam kebudayaan di Indonesia
3)         Pembuatan respons bacaan: graphic organizers, peta cerita, Penilaian non-akademik 
4)         Pengenalan penggunaan berbagai bahan referensi cetak dan digital untuk mencari informasi
5)         Membuat mading kelas yang setiap minggunya ada pergantian pengurus untuk mengganti isi dari mading tersebut sesuai kreativitas masing-masing siswa
6)         Setiap kelas diwajibkan membuat blog yang diisi dengan berbagai hasil kreativitas siswa. Setelah itu untuk blog yang paling unik dan kreatif akan diunggah di web sekolah dan akan mendapat reward dari sekolah

c.       Tahap 3 : Pembelajaran
Tahap pembelajaran merupakan kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran: menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.
Kegiatan berliterasi pada tahap pembelajaran bertujuan:
1)         Mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat;
2)         Mengembangkan kemampuan berpikir kritis; dan
3)         Mengolah dan mengelola kemampuan komunikasi secara kreatif (verbal, tulisan, visual, digital) melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan dan buku pelajaran.
Kegiatan pada tahap ini dilakukan untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 yang mensyaratkan peserta didik membaca buku nonteks pelajaran. Beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam tahap pembelajaran ini, antara lain:
1)         Buku yang dibaca berupa buku tentang pengetahuan umum, kegemaran, minat khusus, atau teks multimodal, dan juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu; dan
2)         Ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran).
Prosedur untuk kegiatan literasi untuk tahap pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut:
1)         Siswa diberi tugas untuk membaca buku pengetahuan apa saja asalkan bukan yang terlarang
2)         Tugas membaca buku bisa dilaksanakan di rumah atau di sekolah
3)         Siswa diberi tugas merangkum apa yang sudah dia baca
4)         Rangkuman di tulis di kertas folio minimal 5 paragraf atau seribu kata
5)         Siswa wajib mengumpulkan rangkuman hasil literasi kepada guru mata pelajaran dan guru mengarsipkan rangkuman hasil literasi siswa untuk penunjang penilaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar