Senin, 20 Februari 2012

LESSON STUDY, DARI GURU KONSERVATIF MENUJU GURU INOVATIF


Kalau kita mengartikan kata lesson study ke dalam bahasa Indonesia dapat berarti sebagai kaji pembelajaran atau studi  pembelajaran. Namun para ahli pendidikan lebih sering menyebutnya Lesson Study. Dibandingkan dengan Penelitian Tindakan Kelas atau PTK, maka lesson study merupakan hal yang baru di dalam dunia pendidikan Indonesia. Mungkin didalam pikiran sebagian orang yang bergerak di dunia pendidikan akan bertanya apa sebenarnya lesson study? Apa bedanya dengan  PTK? Apa bedanya dengan kegiatan yang selama ini sudah dilakukan oleh guru dalam musyawarah guru mata pelajaran (MGMP)?
Apa Itu Lesson Study?
            Lesson study merupakan suatu pendekatan peningkatan kualitas pembelajaran yang awal mulanya berasal dari Jepang. Di Negara tersebut, istilah lesson study lebih populer dengan sebutan”Jugyokenkyu” (Yoshida, 1999 dalam Lewis, 2002). Lesson study mulai dipelajari di Amerika sejak dilaporkannya hasil Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 1996. Dalam laporan TIMSS tersebut, peserta didik Jepang mempunyai rangking tertinggi dalam bidang matematika. Keberhasilan itu salah satu faktor pendukungnya diduga adalah Jugyokenkyu tersebut. Dan orang Amerika menyebutnya sebagai Lesson Study.
 
            Lesson study adalah suatu bentuk utama peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan keprofesionalan guru yang dipilih oleh guru-guru Jepang. Dalam melaksanakan lesson study guru secara kolaboratif : 1) mempelajari kurikulum dan merumuskan tujuan pembelajaran  dan tujuan pengembangan peserta didiknya (pengembangan kecakapan hidupnya), 2) merancang pembelajaran untuk memncapai tujuan, 3) melaksanakan dan mengamati suatu research lesson (pembelajaran yang dikaji) dan, 4) melakukan refleksi untuk mendiskusikan pembelajaran yang dikaji dan menyempurnakan dan merencanakan pembelajaran berikutnya.
            Menurut Styler dan Hiebert (dalam Sparks, 1999) lesson study adalah suatu proses kolaboratif pada sekelompok guru ketika mengindentifikasi masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran (yang meliputi kegiatan mencari buku dan artikel mengenai topik yang akan diajarkan), membelajarkan peserta didik sesuai skenario (salah seorang guru melaksanakan pembelajaran sementara yang lain mengamati), mengevaluasi dan merevisi skenario pembelajaran, membelajarkan lagi skenario pembelajaran yang telah direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan hasilnya dengan guru-guru lain (mendesiminasikannnya).
Bagaimana Melaksanakan Lesson study Secara Umum?
            Robinson (2006) mengusulkan ada delapan tahap berdasarkan banyaknya kegiatan yang diperlukan dalam pelaksanaan lesson study, yaitu sebagai berikut : Tahap 1 : Pemilihan topik lesson study, Tahap 2: Melakukan reviu silabus dalam upaya mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selanjutnya, bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran, Tahap 3 : Setiap tim yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya. Sementara itu kelompok lain memberikan masukan sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik, Tahap 4: Guru yang ditunjuk oleh kelompok menggunakan masukan-masukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran, Tahap 5: Guru yang ditunjuk mempresentasikan rencana pembelajarannya didepan semua angota kelompok lesson study untuk mendapatkan balikan, Tahap 6: Guru yang ditunjuk secara lebih detail memperbaiki  kembali rencana pembelajaran dan mengirimkan pada semua guru anggota kelompok, sehingga mereka mengetahui bagaimana pembelajaran akan dilaksanakan dikelas, Tahap 7: Para guru dapat mempelajari kembali rencana pembelajaran tersebut dan mempertimbangkannya dari berbagai aspek pengalaman pembelajaran yang mereka miliki, Tahap 8: Guru yang ditunjuk melaksanakan rencana pembelajaran di kelas. Sementara itu, guru yang lain bersama dosen/pakar mengamati sesuai dengan tugas masing-masing untuk member masukan kepada guru. Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya setelah kegiatan pelaksanaan pembelajaran, untuk memperoleh masukan dari guru observer, dan akhirnya komentar dari dosen atau pakar luar tentang keseluruhan proses serta saran sebagai peningkatan pembelajaran, jika mereka mengulang dikelas masing-masing atau untuk topik yang berbeda.
Bagaimana Perkembangan Lesson Study?
            Perkembangan lesson study dimulai dari Jepang ketika sekelompok guru matematika aktif menyelenggarakan lesson study pada tahun 1970-an. Kemudian ahli pendidikan Amerika, Lewis  mengadakan penelitian di Jepang dan diterapkannya di Amerika. Dan sekarang berkembang juga di Australia, New Zeland dan Malaysia.
            Di Indonesia lesson study dilaksanakan sejak tahun 2006 malalui Program SISTTEMS (Strengthening In-Service Teacher Training of Mathematics and Science Education at Secondary Level) yang didukung Direktorat PMTK, DIKTI dan JICA. Lesson study awalnya dilakukan, terutama di tiga kota, yaitu Sumedang, berkolaborasi dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Bantul berkolaborasi dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Pasuruan berkolaborasi dengan Universitas Negeri Malang (UNM). Pelaksanaannya ditekankan pada tiga tahap, yaitu plan (merencanakan), do (melaksanakan), dan see (mengamati dan sesudah itu merefleksikan hasil pengamatan) (Sutopo dan Ibrohim, 2006). Selanjutnya lesson study dikembangkan di tiga provinsi yaitu Sumatera Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara.
            Lesson study yang ada di Indonesia dapat dibagi berdasarkan bentuk kegiatannya: Pertama, Lesson study berbasis MGMP, yakni lesson study yang dilaksanakan pada setiap hari pertemuan MGMP. Kegiatan yang dilakukan meliputi plan pada minggu pertama diikuti do dan see pada minggu ketiga. Kedua, Lesson study berbasis sekolah (LSBS), yakni lesson study yang dilakukan di suatu sekolah dengan kegiatan utama berupa open lesson atau open class oleh setiap guru secara bergiliran pada hari tertentu. Pada saat salah satu guru “membuka kelas” (open class) guru-guru yang lain disekolah bertindak sebagai observer. Setelah itu semua guru, baik guru model atau observer melakukan diskusi refleksi untuk membahas berbagai hal yang terkait dengan fakta atau fenomena proses belajar peserta didik yang ditemukan dalam pembelajaran tersebut.
            Dari pengalaman SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang yang telah sukses melaksanakan LSBS, maka untuk melaksanakan LSBS diperlukan hal-hal sebagai berikut. Pertama, Pembentukan tim pengembang akademis dan evaluasi yang bertugas:  1)menyusun jadwal LSBS, 2) mengoreksi perangkat pembelajaran hasil kegiatan plan ditingkat rumpun bidang studi, 3) menyiapkan format, deskripsi tugas, tata tertib yang diperlukan pada kegiatan LSBS, dan mengikuti kegiatan do, see dan refleksi. Kedua, Setiap rumpun bidang studi mempunyai ketua rumpun, yaitu rumpun IPA, rumpun IPS dan rumpun bahasa. Ketiga, format terdiri dari format untuk observer dan angket untuk siswa yang diberikan setelah selesai pembelajaran. Keempat, tata tertib terdiri dari tata tertib untuk pengamat, tata tertib refleksi, tata tertib moderator dan tata tertib notulen.
            Dengan melaksanakan LSBS guru dapat belajar satu sama lain dengan guru lainnya disekolah, misalnya berlatih memberi dan menerima masukan dalam mengembangkan RPP. Guru juga dapat belajar bagaimana melakukan berbagai inovasi pembelajaran tanpa dibebani dengan pemikiran bagaimana pembelajaran yang dilakukan itu dapat mengatasi masalah pembelajaran seperti yang biasa diindentifikasi dalam PTK. Melalui LSBS guru juga dapat belajar  mengamati bagaimana peserta didik belajar. Dengan demikian, tidak difokuskan pada bagaimana guru mengajar sehingga jika ada masukan mengenai apa yang terjadi di kelas, guru sudah terlatih mendengarkan komentar tanpa harus tersinggung atau sakit hati.
            Berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, dapat dikatakan bahwa bila guru telah melakukan LSBS di sekolahnya, maka akan lebih mudah baginya untuk melakukan PTK. Karena lesson study mempunyai kemiripan dalam hal siklus dengan PTK. Jadi dapat disimpulkan bahwa lebih baik menerapkan proses lesson study lebih dulu baru guru tersebut melaksanakan PTK.
            Sebagai penutup untuk tulisan ini, maka penulis mengajak semua guru untuk mengadakan lesson study karena banyak keuntungan yang kita peroleh. Misalnya dengan berjalannnya lesson study, kita sebagai guru akan selalu belajar karena selalu merasa kurang didalam proses pembelajaran atau akan selalu refleksi diri, dan juga akan menutupi kekurangan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas. Sehingga pada akhirnya terbentuk masyarakat belajar (learning community). Amien!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar