Minggu, 24 Januari 2021

MENJADIKAN PENILAIAN BERBASIS PROYEK SEBAGAI SALAH SATU SYARAT KELULUSAN SISWA PADA SATUAN PENDIDIKAN

     A.    Pendahuluan

Pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 43 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ujian yang Diselenggarakan Satuan Pendidikan pada Bagian Ketiga mengenai Bentuk Ujian pada Pasal 5 ayat 1 menyebutkan bahwa “Bentuk Ujian yang diselenggarakan oleh Satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dapat berupa a.portofolio; b.penugasan; c.tes tertulis; dan/atau d.bentuk kegiatan lain yang ditetapkan Satuan Pendidikan sesuai dengan kompetensi yang diukur berdasarkan Standar Nasional Pendidikan”.

Sedangkan pada ayat 2 nya menyebutkan pelaksanaannya seperti “Bentuk Ujian yang diselenggarakan oleh Satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan pada semester ganjil dan/atau semester genap pada akhir jenjang dengan mempertimbangkancapaian standar kompetensi lulusan”.

Maka berdasarkan Permendikbud di atas pihak sekolah diberikan kebebasan untuk melakukan penilaian ujian sekolah untuk siswa kelas XII dengan berbagai cara dan dapat dimulai pada semester ganjil (semester 5) tanpa harus menunggu pelaksanaannya pada semester genab (semester 6).

Selanjutnya juga pihak sekolah ataupun guru diberikan kebebasan untuk menilai dengan menggunakan berbagai macam bentuk ataupun Teknik penilaian. Jadi sekolah atapun guru bukan hanya menilai pengetahuan saja, namun dapat (dan seharusnya) menilai sikap dan keterampilan juga. Proses penilaian ini sejalan dengan salah satu pokok merdeka belajar yang dicanangkan oleh Kemdikbud.

Guru pada mata pelajarannya akan dapat menilai kompetensi (sikap, pengetahuan, keterampilan) yang harus dimiliki siswa sebelum siswa tersebut menamatkan suatu satuan pendidikan. Misalnya guru Bahasa inggris bisa saja melakukan tes praktek/unjuk kinerja berbicara dalam Bahasa inggris sebagai ujian sekolahnya, guru Bahasa Indonesia meminta siswa untuk membuat tulisan/makalah sebagai penilaian pada ujian sekolahnya, guru kimia bisa melaksanakan penilaian praktek penggunaan alat/bahan kimia ataupun melakukan penelitian sederhana tentang permasalahan kehidupan sehari-hari dengan konsep kimia yang telah dipelajari oleh siswa selama ini, guru agama islam bisa menilai praktek bagi siswa putra untuk menjadi khatib jumat, dan penilaian lainnya sesuai dengan mata pelajaran ataupun lintas mata pelajaran.

Sehingga pada akhirnya nanti ketika siswa tamat dari suatu satuan pendidikan memiliki kompetensi secara utuh baik sikap, pengetahuan, maupun keterampilan yang akan menjadi bekal mereka dalam kehidupannya.

Kemudian berdasarkan alasan di atas penulis sudah mencoba melakukan penilaian ujian sekolah menggunakan penilaian proyek yang dilakukan oleh siswa kelas XII dan merupakan salah satu syarat kelulusan. Sebagai dasarnya penulis akan menjelaskan kenapa penilaian berbasis proyek yang dipilih seperti penjelasan di bawah ini.

 

Namun sebelum membahas pembelajaran/penilaian berbasis proyek ini penulis mengajak kita bersama untuk meresapi pembelajaran di Finlandia sebagai negara tertinggi nilai tes standar PISA-nya. Di negara ini siswa tidak pernah ikut tes standar di sekolahnya dan yang dilakukan guru hanya berusaha mencari pemahaman tentang siswanya dari proses pembelajaran dan hasil pekerjaan siswa serta ini yang menjadi laporan kepada orang tua.

 

Selanjutnya ada penelitian Jo Boaler seorang peneliti bidang pendidikan di Inggris.

Jo Boaler melakukan penelitian untuk siswa usia 13-16 tahun yang akan mengikuti ujian nasional. Para siswa mendapatkan pembelajaran berupa proyek dengan pertanyaan terbuka selama 3 tahun. Hasil kerja mereka tidak dinilai dan mereka tidak mengikuti ujian apa pun di sekolah, kecuali nanti akan di tes pada ujian akhir sebagai tes untuk penelitian tersebut. Satu minggu sebelum ujian nasional baru mereka dikenalkan dengan tes standar. Ternyata hasil tes mereka lebih tinggi dari siswa yang mengikuti sekolah secara biasa serta mengikuti tes standar di sekolahnya.

 

B.    Penilaian Proyek

Project-based learning adalah sebuah pendekatan instruksi pembelajaran yang didesain untuk memberikan siswa peluang untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan secara mandiri melalui keterlibatan dalam sebuah proyek yang di set berkisar antara tantangan dan permasalahan yang ada dihadapi dalam dunia nyata.

Berdasarkan pengertian ini diharapkan seorang siswa akan bisa menerapkan keterampilan ataupun karakter berpikir kritis, pemecahan masalah, kerjasama, cara berkomunikasi, dan karakter lain yang memang dibutuhkan sesuai dengan keterampilan abad 21.

 

Mengapa Project-Based Learning lebih baik dari pada Traditional Classroom Learning?

Project-Based Learning (PBL) memfokuskan siswa pada pengembangan berfikir kritis/critical thinking dan kemampuan menyelesaikan masalah /problem solving. Sebuah proses  inquiri dalam pembelajaran untuk menyelesaikan masalah yang diberikan sebagai sebuah projek kepada siswa dan mengaktifkan siswa dalam pola belajarnya. 

 

Project-Based Learning membantu siswa mengembangkan keterampilan untuk hidup dalam masyarakat berbasis pengetahuan dan berteknologi tinggi.

Model sekolah lama yang mempelajari fakta secara pasif dan melafalkannya di luar konteks tidak lagi cukup untuk mempersiapkan siswa untuk bertahan hidup di dunia saat ini. Memecahkan masalah yang sangat kompleks mengharuskan siswa memiliki keterampilan dasar (membaca, menulis, dan matematika) dan keterampilan abad ke-21 (kerja tim, pemecahan masalah,  pengumpulan penelitian, manajemen waktu, sintesis informasi, memanfaatkan alat teknologi tinggi).

 

Project-Based Learning berbasis kurikulum dan standar nasional

Pembelajaran berbasis proyek membahas keterkaitan proyek dengan standar konten isi kompetensi yang diperlukan. Dalam PBL, standar numerical, matematika, literasi, Sains, Teknologi hinggal sosial menjadi orientasi dari pelaksanaan proyek. Proses pengerjaan proyek yang mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam kurikulum. Pertanyaan pertanyaan diajukan yang mengarahkan siswa untuk menghadapi elemen utama dan prinsip suatu disiplin keilmuan yang terukur dan terkait dengan kehidupan.

 

Penilaian dan evaluasi otentik memungkinkan kita mendokumentasikan kemajuan dan perkembangan anak secara sistematis. PBL mendorong hal ini dengan melakukan hal berikut:

         1. Guru memiliki banyak alternatif dalam penilaian.

     2. Memungkinkan seorang siswa untuk menunjukkan kemampuannya saat bekerja secara mandiri

    3. Menunjukkan kemampuan siswa untuk menerapkan keterampilan yang diinginkan seperti melakukan penelitian ( kemampuan literasi numerical dan sains).

  4.   Mengembangkan kemampuan siswa untuk bekerja dengan teman sebayanya, membangun kerja tim dan keterampilan kelompok. 

     5.   Memungkinkan guru untuk belajar lebih banyak tentang siswa sebagai pribadi yang unik.

6.   Membantu guru berkomunikasi secara progresif dan bermakna dengan siswa atau sekelompok siswa tentang berbagai masalah.

Project-Based Learning mendorong pembelajaran seumur hidup.

PBL mempromosikan pembelajaran seumur hidup karena :

1.  PBL dan penggunaan teknologi memungkinkan siswa, guru, dan administrator untuk menjangkau pembelajaran di luar gedung sekolah.

2.  Siswa terlibat dalam pembangun basis pengetahuan baru dan menjadi pembelajar aktif seumur hidup.

3.  PBL mengajarkan siswa untuk mengontrol pembelajaran mereka, langkah pertama sebagai pembelajar seumur hidup.

4. Dalam mengejar pengetahuan baru, teknologi memungkinkan siswa mengakses penelitian dan pakar, dari sumber seperti akun orang pertama dari sejarah masa lalu hingga obrolan secara online dengan ahli diluar negeri.


Beberapa Aspek dalam Project-Based Learning

1.        Pengetahuan dan keterampilan

2.        Kaitan tantangan proyek dengan kehidupan nyata

3.        Proses inquiry

4.        Suara Siswa dan pilihan siswa

5.        Kolaborasi antara siswa lokal maupun intenasional

6.        Kemampuan pekerja

7.        Partnership dengan komunitas

8.        Umpan balik dan perbaikan

9.        Presentasi proyek di depan umum

10.     Refleksi diri

Langkah-Langkah Project-Based Learning

Adapun Langkah-langkah Project-Based Learning adalah seperti gambar di bawah ini.

Berikut langkah-langkah penerapan PBL yang dirinci di bawah ini:

1.      Seleksi thema

2.      Pembentukan team/group

3.      Pendefinisian obyektif dan  produk /Jasa yang hendak dikembangkan

4.      Organisisasi dan perencanaan tugas

5.      Rancang Rencana Proyek

6.      Buat Jadwal/skedul proyek

7.      Riset dan kompilasi informasi,  Review Obyektif

8.      Laksanakan pembuatan proyek

9.      Review Project

10.   Presentasikan

11.   Pantau Siswa dan Kemajuan Proyek

12.   Ukur dan Nilai luaran

13.   Evaluasi Presentasi dan penilaian diri sendiri

Inti dan Tujuan Project Based Learning

1.  Pada intinya, PBL memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan inti melalui pengembangan proyek yang menanggapi masalah di kehidupan nyata.

2.  Tujuannya adalah untuk meningkatkan otonomi siswa dan menjadi protagonis dari proses pembelajaran mereka sendiri.

3. Setiap kelompok siswa harus merencanakan, menyusun, membuat/melaksanakan dan mempresentasikan produk yang harus menjawab pertanyaan panduan yang dipilih (lihat infografik di bawah).

4. Sementara itu, guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mendukung siswa selama proyek berlangsung.

 

Demikianlah sekilas informasi tentang penilaian berbasis proyek yang penulis paparkan. Mudah-mudahan bermanfaat.

 Sumber : Ahmad Riza Wahono, STEM Project Base Learning

Sebagai informasi lebih lanjut tentang Panduan Penilaian Proyek sebagai salah satu syarat kelulusan pada suatu satuan pendidikan dapat dilihat pada tautan berikut: panduan-penilaian-proyek-siswa

0 comments:

Posting Komentar