Senin, 11 Januari 2016

Indikator Sekolah yang Melaksanakan Pembelajaran Kurikulum 2013

 Oleh : 
Adi Saputra, M.Pd
Sesuai dengan kurikulum 2013 pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan saintifik yang mengedepankan siswa yang aktif dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik ini dipengaruhi oleh aliran konstruktivisme. Konstruktivisme  ini memantapkan teori-teori belajar sebelumnya dan memberikan pencerahan bagi peralihan dari konsep belajar yang berpusat pada guru  (teacher-centred learning) ke arah konsep belajar yang berpusat pada peserta didik (student-centred  learning). Orientasi yang berpusat kepada peserta didik pada akhirnya diwujudkan dalam pendekatan belajar aktif (active learning  approach).
Kriteria penerapan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dikemukakan dalam bentuk indikator proses belajar. Indikator dirumuskan agar dapat digunakan sebagai pedoman observasi di tingkat sekolah.
1. Indikator Sekolah  yang Melaksanakan Pembelajaran yang Berpusat Pada Peserta Didik
Indikator (tanda-tanda) terjadinya proses belajar yang aktif dan kreatif pada setting sekolah, ditinjau dari aspek sumber daya manusia, ekspektasi/harapan sekolah, tata tertib, fokus kurikulum,  kegiatan sekolah, lingkungan, fasilitas, nilai dan norma, serta kreativitas dan inovasi, adalah sebagai berikut:
a. Ekspektasi sekolah, kreatifitas, dan inovasi 
1) Prestasi  belajar  peserta  didik  lebih  ditekankan  pada  menghasilkan”daripada ”memahami.” 
2) Sekolah menyelenggarakan ajang ‘kompetisi’ yang mendidik dan sehat.
3) Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, pot bunga, tempat sampah).
4) Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis
    kapital untuk dijual.
5) Lebih  baik  jika  ada  pameran  karya  peserta  didik  dalam  kurun  waktu tertentu, misalnya sekali 
     dalam satu tahun.
6) Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah.
7) Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang.
8) Sekolah rapi, bersih, dan teratur.
9) Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah.
10) Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat.
11) Sekolah menerapkan seleksi khusus untuk menerima peserta didik baru.
12) Ada forum penyaluran keluhan peserta didik. 
13) Iklim sekolah lebih demokratis.
14) Diselenggarakan lomba-lomba antarkelas secara berkala dan di tingkat pendidikan menengah 
       ada lomba karya ilmiah peserta didik.
15) Ada program kunjungan ke sumber belajar di masyarakat.
16) Kegiatan belajar pada silabus dan RPP menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif.
17) Peserta  didik  mengetahui  dan  dapat  menjelaskan tentang  lingkungan sekolah (misalnya, nama
      guru, nama kepala sekolah, dan hal-hal umum di sekolah itu).
18) Ada program pelatihan internal guru (inhouse training) secara rutin.
19) Ada  forum  diskusi  atau  musyawarah  antara  kepala  sekolah  dan  guru maupun tenaga
      kependidikan lainnya secara rutin.
20) Ada program tukar pendapat, diskusi atau musyawarah dengan mitra dari berbagai pihak yang terkait 
      (stakeholders).

b.        Sumber daya manusia
       1)        Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari 
              peserta didik maupun guru. 
       2)        Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan 
              orang tua/komite sekolah.
       3)        Guru  berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar.
       4)        Guru mengenal baik nama-nama peserta didik.
       5)        Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian.
       6)        Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik 
              dan verbal kepada peserta didik.
       7)        Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan 
              kegiatan belajar.
       8)        Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik.
       9)        Peserta  didik  banyak  melakukan  observasi  di  lingkungan  sekitar  dan terkadang belajar 
              di luar kelas.
       10)    Peserta didik berani bertanya kepada guru.
       11)    Peserta didik berani dalam mengemukakan pendapat.
       12)    Peserta didik tidak takut berkomunikasi dengan guru.
       13)    Para peserta didik bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, dan 
              agama.
       14)    Peserta didik tidak takut kepada kepala sekolah.
       15)    Peserta   didik   senang   membaca   di   perpustakaan   dan   ada   perilaku cenderung 
                      berebut ingin membaca buku perpustakaan.
       16)    Potensi peserta didik lebih tergali serta minat dan bakat peserta didik lebih mudah terdeteksi.
       17)    Ekspresi peserta didik tampak senang dalam proses belajar.
       18)    Peserta didik sering mengemukakan gagasan dalam proses belajar.
       19)    Perhatian peserta didik tidak mudah teralihkan kepada orang/tamu yang datang ke sekolah.

c.         Lingkungan, fasilitas, dan sumber belajar
   1)      Sumber belajar di lingkungan sekolah dimanfaatkan peserta didik untuk belajar.
   2)      Terdapat majalah dinding yang dikelola peserta didik yang secara berkala diganti dengan karya 
          peserta didik yang baru.
   3)      Di ruang kepala sekolah dan guru terdapat pajangan hasil karya peserta didik.
    4)     Tidak ada alat peraga praktik yang ditumpuk di ruang kepala sekolah atau ruang lainnya hingga 
      berdebu.
5)     Buku-buku tidak ditumpuk di ruang kepala sekolah atau di ruang lain.
6)     Frekuensi kunjungan peserta didik ke ruang perpustakaan sekolah untuk membaca/meminjam
      buku cukup tinggi.
7)     Di setiap kelas ada pajangan hasil karya peserta didik yang baru.
8)     Ada sarana belajar yang bervariasi.
9)     Digunakan beragam sumber belajar.

d.        Proses belajar-mengajar dan penilaian
   1)        Pada  taraf  tertentu  diterapkan  pendekatan  integrasi  dalam  kegiatan belajar antarmata 
          pelajaran yang relevan.
2)        Tampak  ada  kerja  sama  antarguru  untuk  kepentingan  proses  belajar- mengajar.
3)        Dalam menilai  kemajuan hasil belajar guru menggunakan beragam cara sesuai dengan indikator
     kompetensi. Bila tuntutan indikator melakukan suatu unjuk kerja, yang dinilai adalah unjuk kerja. Bila tuntutan indikator berkaitan   dengan   pemahaman   konsep,   yang   digunakan  adalah   alat penilaian  tertulis.  Bila  tuntutan  indikator  memuat  unsur  penyelidikan, tugas (proyek) itulah yang dinilai. Bila tuntutan indikator  menghasilkan suatu produk 3 dimensi, baik proses pembuatan maupun kualitas, yang dinilai adalah proses pembuatan atau pun produk yang dihasilkan.
4)        Tidak ada ulangan umum bersama, baik pada tataran wilayah, pada  tengah semester dan / atau akhir semester, karena guru bersangkutan telah mengenali kondisi peserta didik melalui diagnosis dan telah melakukan perbaikan atau pengayaan  berdasarkan hasil diagnosis kondisi peserta didik.
5)        Model  rapor  memberi       ruang  untuk  mengungkapkan  secara  deskriptif kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik dan yang belum, sehingga dapat diketahui apa yang dibutuhkan peserta didik.
6)   Guru melakukan penilaian ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sekaligus sebagai alat diagnosis  untuk   menentukan  apakah  peserta  didik  perlu  melakukan perbaikan atau pengayaan.
7)        Menggunakan penilaian acuan kriteria, di mana pencapaian kemampuan peserta didik  tidak dibandingkan dengan kemampuan peserta didik yang lain,  melainkan   dibandingkan  dengan  pencapaian  kompetensi  dirinya sendiri, sebelum dan sesudah belajar.
8)        Penentuan  kriteria  ketuntasan  belajar  diserahkan  kepada  guru  yang bersangkutan untuk mengontrol pencapaian kompetensi tertentu peserta didik. Dengan demikian, sedini mungkin guru dapat mengetahui kelemahan dan keberhasilan peserta dalam kompetensi tertentu.

Sumber : 2010. Panduan Pengembangan Belajar Aktif, Kemendiknas, Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar