Supervisi pendidikan dalam
paradigma lama seringkali diidentikkan dengan kunjungan mendadak, penilaian,
dan pencarian kesalahan. Supervisi diidentikkan dengan penilaian dan inspeksi
pengawas kepada guru. Karena munculnya stigma negatif terlebih dahulu dimana
supervisi dianggap sebagai sebuah inspeksi dalam rangka “mencari-cari” kesalahan,
maka aktivitas supervisi tidak dianggap sebagai sebuah momentum untuk melakukan
perbaikan. Dari perspektif objek yang disupervisi, kegiatan ini tidak dimaknai
secara substantif, namun dianggap sebagai upaya mencari kekurangan yang tidak
substansial dan hanya bersifat formalitas administratif saja. Inilah yang menyebabkan
kualitas supervisi menjadi tidak maksimal sehingga menghasilkan rekomendasi dan
output yang tidak maksimal juga. Seharusnya, budaya kerja yang berorientasi
pada mutu menjadi pemahaman bersama sekaligus standar yang harus dipegang dalam
melaksanakan supervisi.
Minggu, 18 Januari 2026
Panduan Supervisi Klinis untuk Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru
Minggu, 04 Januari 2026
Bukan Sekadar Kerja Kelompok: 7 Kebenaran Mengejutkan Tentang Belajar Aktif yang Wajib Guru Tahu
Anggap saja teknik-teknik
dalam pembelajaran aktif sebagai 'stetoskop' bagi pengajar; mereka
memungkinkan diagnosis pemahaman kelas secara real-time, sehingga 'resep'
pengajaran dapat disesuaikan sebelum 'penyakit' kebingungan menjadi
kronis. Ini adalah lingkaran umpan balik yang dinamis dan responsif.
Pendahuluan: Mengapa Belajar yang Membosankan Harus
Jadi Masa Lalu?
Pernahkah
Anda duduk di ruang kelas, menatap guru yang sedang bersemangat menjelaskan,
namun pikiran Anda melayang entah ke mana? Anda mencatat atau hanya duduk,
mengangguk, tetapi tidak ada satu pun materi yang benar-benar meresap.
Pengalaman ini adalah gejala klasik dari pembelajaran pasif sebuah model di
mana siswa hanyalah bejana kosong yang menunggu untuk diisi.
Sabtu, 03 Januari 2026
228 Teknik Pembelajaran Interaktif untuk Mengaktifkan Peserta Didik dalam Kelas
Teknik-teknik
ini memiliki banyak manfaat: Guru dapat dengan mudah dan cepat menilai
apakah siswa telah benar-benar menguasai materi (dan berencana untuk
mendedikasikan lebih banyak) waktu untuk itu, jika perlu), dan proses
pengukuran pemahaman siswa dalam banyak kasus juga merupakan latihan untuk
materi seringkali siswa tidak benar-benar belajar materi
sampai diminta untuk menggunakannya dalam penilaian seperti ini. Akhirnya, sifat
penilaian ini mendorong interaktivitas dan membawa beberapa manfaat.
Siswa dibangkitkan dari kepasifan hanya mendengarkan ceramah dan
alih-alih menjadi penuh perhatian dan terlibat, dua prasyarat untuk efektif sedang
belajar. Teknik-teknik ini sering dianggap “menyenangkan”, namun seringkali lebih
efektif daripada ceramah dalam memungkinkan belajar siswa.
Rabu, 31 Desember 2025
Cara Merancang dan Melaksanakan STEM Sebagai Kokurikuler Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu
Jumat, 26 Desember 2025
Revolusi Kelas: Panduan Strategis Model Flipped Classroom untuk Pembelajaran Era Digital
Sesuai dengan dimensi profil
lulusan kemandirian pada Pendekatan Pembelajaran Mendalam berfokus pada kemampuan
peserta didik untuk bertanggung jawab atas proses belajar, mengambil
inisiatif, mengatur diri (regulasi diri), dan menyelesaikan tugas tanpa
tergantung orang lain, yang diwujudkan melalui kesadaran diri (refleksi diri)
dan kemampuan adaptasi, menjadikannya pribadi yang proaktif dan mampu belajar
mandiri sepanjang hayat. Berdasarkan dimensi ini seharusnya melatih lulusan
untuk menjadi pembelajar aktif yang mampu menghadapi tantangan dan terus
mengembangkan diri secara mandiri. Maka yang paling tepat strategi atau model
pembelajarannya adalah Model Flipped Classroom. Maka melalui
artikel ini penulis akan menjelaskan pengertian, peran guru, langkah
pembelajaran, tantangan atau kendala, dan strategi untuk pertama kali
penerapannya di dalam kelas. Artikel ini dilengkapi dangan gambar, tabel, dan
video untuk memaparkan tentang Model Flipped Classroom.
Rabu, 24 Desember 2025
NotebookLM: Aplikasi Google Fantastis untuk Pembelajaran yang Wajib Diketahui Pendidik, Pelajar, dan Profesional
Saat ini, guru dan siswa
dapat menggunakan NotebookLM untuk langsung membuat kartu catatan, kuis,
laporan profesional, video, audio podcast, infografis, presentasi, dan
banyak lagi. Mengubah informasi menjadi pengetahuan itu menantang, baik Anda
sedang mempersiapkan ujian, memulai proyek baru, atau mengeksplorasi minat
baru. Itulah sebabnya Google menciptakan NotebookLM sebagai mitra AI
personalisasi Anda untuk riset dan berpikir. NotebookLM membantu Anda membuat
koneksi dan memahami materi kompleks lebih cepat. Aplikasi ini telah
digunakan guru dan siswa di seluruh dunia untuk segala hal mulai dari menyiapkan
sumber belajar, memahami topik dengan cepat hingga mempersiapkan ujian. Pada artikel ini juga dilengkapi dengan video cara menggunakan NotebookLM untuk berbagai kebutuhan baik sebagai pendidik, pelajar, atau profesional.
Minggu, 14 Desember 2025
9 Metode & Strategi Pembelajaran Praktis untuk Pemanfaatan Panel Datar Interaktif (IFP) di dalam Kelas
Tulisan ini menjelaskan metode
atau strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran dengan memanfaatkan Panel
Datar Interaktif atau IFP. Metode atau strategi mulai dengan menggunakan
catatan tempel, integrasi multimedia, gamifikasi, flipped classroom, kunjungan
virtual sampai dengan merekam pembelajaran. Masing-masing metode atau
strategi ini dilengkapi langsung dengan tautan yang dapat diakses langsung.
Jadi semoga dengan adanya Panel Datar Interaktif ini di sekolah bukanlah
dijadikan hanya pengganti papan tulis biasa. Silakanlah Bapak/Ibu guru
memanfaatkan segala fitur yang ada dengan menggabungnya dengan berbagai
aplikasi agar pembelajarannya semakin meningkatkan keterlibatan siswa dalam
pembelajaran. Pada akhirnya akan terwujud tujuan utama pemerintah untuk mempercepat
digitalisasi pembelajaran dan memeratakan mutu pendidikan di seluruh Indonesia.
Minggu, 07 Desember 2025
Mengubah Ruang Kelas: Panduan Lengkap dan Strategi Penerapan dalam Pembelajaran untuk Interactive Flat Panel (IFP) Hisense
Sesuai dengan target keseluruhan
program digitalisasi sekolah adalah mendistribusikan 288 ribu unit IFP (Interactive Flat Panel) ke sekolah-sekolah di
tanah air. Program ini merupakan inisiatif pemerintah melalui Kemendikdasmen
(Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) untuk mempercepat digitalisasi
pembelajaran di Indonesia.
Rabu, 03 Desember 2025
Bukan Sekadar Belajar Mandiri: Peta Harta Karun untuk Guru Modern dengan Model Inkuiri Terbimbing
Pendahuluan: Membimbing, Bukan Menggurui
Ingatkah
Anda saat pertama kali mendapat tugas riset atau makalah di sekolah? Perasaan
bingung, cemas, dan tekanan untuk segera "menemukan jawaban yang benar."
Anda mungkin menatap halaman kosong, tidak tahu harus mulai dari mana, merasa
bahwa kebingungan ini adalah tanda kegagalan. Pengalaman ini begitu universal
hingga hampir menjadi ritual wajib dalam pendidikan. Kita semua pernah
merasakannya: tuntutan untuk memilih topik secara instan, mengumpulkan sumber,
dan menghasilkan sebuah produk akhir yang sempurna.
Minggu, 30 November 2025
5 Fakta Mengejutkan tentang Pendidikan STEM yang Wajib Anda Tahu
Pendahuluan: Membedah Kembali Makna STEM yang
Sebenarnya
Istilah 'STEM'
sering kita dengar, mulai dari kurikulum sekolah hingga diskusi tentang masa
depan industri. Namun, bagi banyak orang, pemahaman tentang STEM masih terbatas
pada robotika, koding, atau pelajaran sains yang rumit. Anggapan ini
menciptakan jarak dan membuatnya terasa tidak terjangkau. Padahal, panduan
resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah justru mengungkap STEM
sebagai sebuah praktik pedagogis yang jauh lebih luas, mudah diakses,
dan sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Sabtu, 15 November 2025
5 Aplikasi Gratis Artificial Intellegences yang Dapat Digunakan Dalam Pembelajaran Mendalam
Pendahuluan
Dunia pendidikan terus
berkembang, dan teknologi Artificial Intelligence (AI)
menawarkan peluang luar biasa untuk meningkatkan proses belajar mengajar. Bagi
para guru, AI bukan lagi sekadar tren, melainkan alat yang ampuh untuk
meningkatkan produktivitas, personalisasi pembelajaran, dan memicu kreativitas.
Atau dengan istilah lainnya, “Guru Zaman Sekarang Bukan Lagi Bekerja
Keras Tapi Bekerja Cerdas”. Artikel ini akan membahas lima aplikasi AI
yang sangat bermanfaat bagi guru dan siswa: Canva AI, NotebookLM, AgnesAI,
ConkerAI, dan MovieFlowAI. Mari kita selami bagaimana masing-masing aplikasi
ini dapat mentransformasi ruang kelas Anda!
Minggu, 05 Oktober 2025
Jeda Ceria, Aktivitas untuk Meningkatkan Fokus dan Mengurangi Strees Siswa dalam Pembelajaran
Siswa memiliki kapasitas belajar
yang luas, tetapi juga membutuhkan istirahat untuk perkembangan
pikirannya. Duduk terlalu lama di sekolah atau di rumah dapat mengakibatkan kebosanan,
frustrasi, dan penurunan fokus. Aktivitas rehat otak memiliki
pengaruh yang signifikan. Singkat, sederhana, dan menyenangkan, rehat ini
memungkinkan anak-anak untuk bersantai, melepaskan stres, dan kembali
belajar dengan segar. Maka untuk mecapai tujuan tersebut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan aktivitas dalam pembelajaran yang disebut dengan "Jeda Ceria". Pada tulisan ini akan dijelaskan apa itu Jeda Ceria, langkah-langkan aktivitasnya, dan kegiatan lain yang dapat digunakan sebagai aktivitas sejenis dengan jeda ceria sebagai variasi kegiatan bagi guru di dalam kelas.
Kamis, 04 September 2025
5 Strategi Pembelajaran Profesional Kolaboratif (Collaborative Professional Learning) di Sekolah
Dengan
penerapan pendekatan pembelajaran mendalam di satuan pendidikan, maka perlu
satuan pendidikan melakukan pengembangan keprofesional guru dan tenaga
kependidikan secara sistematis. Salah satunya disarankan dengan model atau
pendekatan inkuiri kolaboratif yang terdiri dari empat tahap. Namun bukan hanya
dengan inkuiri kolaboratif saja yang dapat dilakukan untuk pengembangan
professional guru dan tenaga kependidikan secara kolaboratif. Pada tulisan ini
ada 5 strategi yang dapat digunakan untuk pengembangan professional guru dan
tenaga kependidikan.
Minggu, 24 Agustus 2025
35 Contoh Strategi Guru untuk Asesmen Formatif Sebagai Umpan Balik dalam Pembelajaran Mendalam
Kita selaku guru masih sering
menggunakan metode pembelajaran yang monoton. Dimulai dengan guru menjelaskan
materi pembelajaran, kemudian ada penugasan, dan selanjutnya ada asesmen
sumatif di akhir pembelajaran. Kalaupun ada perubahan misalnya dengan lebih
aktif siswa mencari sumber informasi supaya kelihatan ada pembelajaran dengan
mengaktifkan siswa. Namun akhirnya akan tetap saja langsung ada asesmen sumatif
dengan biasa dengan tes tulis.
Senin, 18 Agustus 2025
Teori ke Praktik: Bagaimana Guru Dapat Menerapkan Taksonomi SOLO Pada Pembelajaran Mendalam di dalam Kelas?
Sesuai dengan pendekatan
pembelajaran mendalam khususnya pada pengalaman belajar menyatakan bahwa siswa harus memahami dulu baru dapat mengaplikasikan
dan merefleksi pembelajarannya. Maka dengan Taksonomi SOLO ini
merupakan pengembangan dari Taksonomi Bloom dengan tingkat berpikir yang
mudah diamati pada setiap levelnya dan guru dapat menentukan jenis bantuan
yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Minggu, 17 Agustus 2025
Seperti Apa Tingkatan Pemahaman Taksonomi SOLO di dalam Kelas?
Sebelumnya sudah kita bahas
secara umum konsep tentang Taksonomi SOLO mulai dari pengertian, asalnya,
prinsip, tingkat, perbedaan dengan Taksonomi Bloom, dan manfaatnya. Maka pada
tulisan ini khusus menjelaskan seperti apa tingkatan pemahaman Taksonomi SOLO
di dalam kelas?
Silakan pahami materi sebelumnya
melalui tautan di bawah ini:
Taksonomi SOLO (Struktur Hasil
Pembelajaran yang Diamati) menguraikan lima tingkat pemahaman, berkembang dari
pemahaman dasar ke pemahaman yang lebih kompleks: Prastruktural,
Unistruktural, Multistruktural, Relasional, dan berpikir Abstrak yang Mendalam.
Tingkatan ini membantu pendidik memahami dan menilai bagaimana siswa memahami
konsep dan menunjukkan pembelajaran mereka
Mari kita uraikan ini ke dalam
istilah yang lebih praktis untuk lebih memahami seperti apa tingkat pemahaman
ini di dalam kelas.
1. Prastruktural
Biggs berpendapat
bahwa “respons pra-struktural tidak tepat sasaran” dan “menunjukkan sedikit
bukti pembelajaran yang relevan” (Biggs & Tang, 2007, hlm. 87).
Kita dapat
mengamati bahwa seorang siswa berada dalam tahap prastruktural ketika mereka
menanggapi pertanyaan dengan jawaban sederhana seperti:
·
"Saya
tidak mengerti."
·
"Apa
yang harus aku lakukan?"
·
"Saya
belum pernah mendengar hal ini sebelumnya."
·
"Aku
tidak tahu"
·
"Saya
punya satu ide."
·
"Saya
dapat mendefinisikan suatu istilah."
·
"Saya
bisa melakukan prosedur sederhana."
·
“Saya
hanya mengulang apa yang seharusnya saya katakan”, atau dengan komentar yang
tidak relevan.
2. Unistruktural
Biggs menjelaskan: “Respons
unistruktual berurusan dengan terminologi, sesuai jalur tetapi tidak lebih dari
itu” (Biggs & Tang, 2007, hlm. 87).
Pada tingkat ini,
seorang siswa mungkin dapat mengidentifikasi dan menyebutkan beberapa hal dan
mengikuti prosedur sederhana yang telah diajarkan kepada mereka.
Meskipun beberapa
elemen suatu topik mungkin telah dibahas oleh siswa, mereka juga akan
kehilangan banyak bagian penting dari topik tersebut yang dibutuhkan untuk
benar-benar memahaminya.
Seorang siswa yang memberikan jawaban tidak terstruktur terhadap suatu pertanyaan kemungkinan besar akan berkata:
· "Saya punya banyak ide tentang topik ini!"
· "Saya dapat menjelaskan beberapa ide saya."
· “Saya memiliki pemahaman tentang topik ini'
· "Saya tidak mengerti bagaimana ide-ide ini saling berhubungan.
3. Multistruktural
Pengetahuan
siswa masih terbatas pada mengingat, menghafal, dan menirukan apa yang telah
mereka pelajari. Oleh karena itu, siswa hanya memiliki pemahaman tingkat
permukaan. Mereka tidak dapat menggunakan suatu konsep dengan cara yang baru
dan inovatif karena mereka belum memahaminya dengan cukup baik.
Contoh:
Siswa multistruktur itu seperti tukang bangunan tanpa alat: semua bagiannya ada, tetapi ia tidak tahu bagaimana menghubungkannya. Anda mungkin pernah merasakan hal ini ketika membongkar beberapa furnitur Ikea dan ternyata tergeletak di lantai berkeping-keping!
Siswa pada tingkat relasional mungkin berkata:
·
"Saya
tahu bagaimana ide-ide ini saling berhubungan."
·
"Saya
dapat menerapkan apa yang telah saya pelajari."
· "Saya
tahu beberapa hal tentang topik ini" atau "Saya telah mengumpulkan
beberapa informasi tentang topik ini".
·
"Saya
dapat menjelaskan MENGAPA ini terjadi."
4. Relasional
Sebagaimana
dikemukakan Biggs: "perubahan kualitatif dalam pembelajaran dan
pemahaman telah terjadi. Ini bukan lagi soal mencatat fakta dan detail"
(Biggs & Tang, 2007, hlm. 87).
Pada
tingkat relasional, siswa mulai melihat bagaimana bagian-bagian suatu topik
disatukan. Mereka dapat:
·
Mengidentifikasi
pola.
·
Jelaskan
bagaimana bagian-bagian suatu topik saling terkait.
·
Bandingkan
dan bedakan berbagai elemen suatu topik.
·
Melihat
suatu topik dari beberapa perspektif.
Inti
dari pengetahuan relasional adalah kemampuan untuk menciptakan struktur dan
sistem untuk memilah pengetahuan. Siswa mulai menjelaskan hubungan antar
berbagai hal dengan menggunakan pemodelan sistemik dan beberapa pemodelan
teoretis.
Siswa pada tingkat
abstrak yang diperluas mungkin berkata:
·
"Saya
dapat menggunakan apa yang saya pelajari dan menerapkannya pada hal lain."
·
"Saya
dapat membuat prediksi berdasarkan apa yang saya pelajari."
·
"Saya
dapat mengevaluasi sesuatu berdasarkan apa yang saya pelajari."
·
“Saya
dapat melihat hubungan antara informasi yang telah saya kumpulkan”.
5. Berpikir Abstrak yang Mendalam
Biggs
berpendapat bahwa esensi dari respons abstrak yang diperluas "melampaui
apa yang telah diberikan" (Biggs & Tang, 2007, hlm. 87). Dengan
kata lain, siswa dapat menciptakan pengetahuan baru dan menerapkan pengetahuan
yang mereka miliki dalam berbagai konteks berkat pemahaman mereka yang mendalam
tentang topik tersebut.
Sebuah
Contoh: Misalnya, seorang siswa dapat mempelajari sesuatu di kelas dan dapat
menerapkannya dalam kehidupan mereka di luar kelas dalam konteks yang sama
sekali berbeda.
Siswa
juga mungkin dapat menghasilkan ide-ide teoritis dan kemudian menggunakannya
untuk membuat asumsi tentang kejadian di masa mendatang.
Siswa pada tingkat
abstrak yang diperluas mungkin berkata:
·
"Saya
dapat menggunakan apa yang saya pelajari dan menerapkannya pada hal lain."
·
"Saya
dapat membuat prediksi berdasarkan apa yang saya pelajari."
·
"Saya
dapat mengevaluasi sesuatu berdasarkan apa yang saya pelajari."
· “Dengan
merenungkan dan mengevaluasi pembelajaran saya, saya dapat melihat gambaran
yang lebih besar dan menghubungkan banyak ide yang berbeda bersama-sama”.
Sumber:
https://www.structural-learning.com/post/what-is-solo-taxonomy
https://learn.rumie.org/jR/bytes/how-do-i-use-solo-taxonomy-to-help-my-students-succeed/
https://www.educationperfect.com/article/solo-taxonomy/
https://helpfulprofessor.com/solo-taxonomy/
https://blog.tcea.org/tag/solo-taxonomy/
http://www.myrossbush.school.nz/solo-taxonomy.html
Taksonomi SOLO, Sebuah Pendekatan untuk Memahami Berbagai Tingkat Pemahaman Siswa Sesuai dengan Pembelajaran Mendalam
Ruang kelas masa kini beragam.
Peserta didik datang ke kelas kita dari berbagai latar belakang dan posisi
yang berbeda dalam perkembangan dan pembelajaran mereka. Sebagai guru, kita
harus berupaya menciptakan dan menyediakan pengalaman pembelajaran di
mana: semua pelajar adalah peserta aktif dalam pembelajaran mereka dan semua
pelajar diberikan dukungan yang menawarkan mereka kesempatan untuk sukses.
Inilah pola pikir untuk praktik
inklusif yang bermakna dan disengaja. Melalui praktik inklusif, kita
berupaya mengidentifikasi apa yang harus diketahui, dipahami, dan mampu
dilakukan peserta didik sebagai hasil dari pengalaman pendidikan ini,
mengartikulasikan tujuan pembelajaran dan kriteria keberhasilan yang jelas,
serta menyediakan perancah yang diperlukan dan tepat agar setiap peserta
didik dapat mencapai kriteria keberhasilan tersebut. Lalu, bagaimana kita dapat
berhasil menyediakan lingkungan inklusif yang secara aktif melibatkan peserta
didik dari berbagai latar belakang dan di berbagai posisi dalam perjalanan
perkembangan mereka?
Rabu, 30 Juli 2025
Cara Satuan Pendidikan Merencanakan Kegiatan Kokurikuler (Pengganti P5) pada Pembelajaran Mendalam
Dengan
keluarnya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2025
tentang Standar Kompetensi Lulusan, maka Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 tentang
Standar Kompetensi Lulusan
pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang
Pendidikan Menengah tidak berlaku lagi. Sehingga dampaknya juga profil
lulusan sebelumnya yang berupa Profil Pelajar Pancasila yang terdiri dari 6
rumusan karakter dan kompetensi (Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan
berakhlak mulia; Berkebinekaan global; Bergotong royong; Mandiri; Bernalar
kritis; dan Kreatif) berganti dengan 8 Dimensi Profil Lulusan yang
terdiri dari: keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; kewargaan; penalaran
kritis; kreativitas; kolaborasi; kemandirian; kesehatan; dan komunikasi. Selain
itu juga sebelumnya ada rapor P5 dan sekarang tidak ada lagi rapor P5 diganti
dengan ada satu kolom untuk deskripsi kokurikuler pada rapor yang memuat
mata pelajaran seperti biasanya. Kegiatan kokurikuler ini dilaksanakan untuk semua
kelas dan bukan hanya kelas level bawah saja.
Minggu, 20 Juli 2025
Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu Sebagai Salah Satu Kokurikuler Pengganti P5 pada Pembelajaran Mendalam
Berdasarkan Permendikdasmen No 13
Tahun 2025 tentang Struktur Kurikulum terdapat pembelajaran yang bersifat kokurikuler.
Kalau pada struktur kurikulum sebelumnya digunakan untuk Proyek P5. Kokurikuler
dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu,
gerakan 7 (tujuh) kebiasaan anak Indonesia hebat, dan/atau cara lainnya. Pembelajaran
kolaboratif lintas disiplin ilmu ini dapat dilaksanakan berupa pembelajaran
berbasis proyek, STEM, STEAM, atau pembelajaran kolaboratif lainnya.
Jumat, 18 Juli 2025
Kumpulan Peraturan, Pedoman, Panduan, dan Sumber Belajar untuk Pembelajaran Mendalam dan Koding/Kecerdasan Artifisial
Sekarang
ini lagi saatnya Kementerian Pendidikan Dasar Menengah melalui Balai/Kantor
Guru dan Tenaga Kependidikan di setiap provinsi di seluruh Indonesia
melaksanakan pelatihan untuk Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding serta Kecerdasan
Artifisial (KKA). Maka untuk itu kami mengumpulkan bahan-bahan yang berupa
peraturan, pedoman, panduan, dan sumber belajar yang berhubungan dengan dua
tema tersebut. Semoga bermanfaat.

































.jpg)
.png)





