Pembelajaran
mendalam
sangat penting untuk meningkatkan pendidikan bermutu untuk semua. Meski
demikian, banyak tantangan yang akan dihadapi dalam menerapkan pembelajaran
mendalam di sekolah. Tantangan utama yang dialami saat menerapkan pembelajaran mendalam
adalah mengubah mindset guru, murid dan orangtua. Masih banyak guru dan
siswa yang masih terbiasa dengan pola pembelajaran lama, sehingga perlu
ada perubahan pola pikir. Kemudian juga keterbatasan kompetensi guru
di sekolah juga bisa menghambat penerapan pembelajaran mendalam di kelas. Maka
berdasarkan berbagai tantangan tersebut Kemendikdasmen melakukan pelatihan
PM dan KKA dengan berbasis komunitas melalui KKG, MGMP, MKKS pada Tahun 2026 ini dengan Pendekatan Teacher Experimental Training
(TET).
Tantangan terbesar dalam reformasi pendidikan adalah kesenjangan antara
teori pedagogi dan praktik nyata di ruang kelas. Pendekatan Teacher
Experimental Training (TET) yang diluncurkan oleh Kemendikdasmen pada
tahun 2026 hadir sebagai intervensi metodologis untuk menjembatani jurang
tersebut.
TET bukan sekadar model pelatihan guru yang baru, melainkan sebuah pergeseran
paradigma epistemologis dalam pengembangan profesional berkelanjutan (Continuous
Professional Development). Pendekatan ini meredefinisi peran guru dari
sekadar "pelaksana kurikulum" (curriculum executor) menjadi "peneliti
kelas" (Teacher as Researcher) atau ilmuwan di laboratorium
pembelajarannya sendiri.
Pendekatan Teacher Experimental Training
(TET)
Teacher Experimental Training
(TET) adalah pendekatan pelatihan dan pengembangan
profesional guru di mana pengalaman nyata menjadi pusat pembelajaran. Guru
merancang strategi baru, menerapkannya langsung di kelas, lalu merefleksikan
hasilnya secara sistematis, menjadikan guru sebagai "ilmuwan"
di kelasnya sendiri.
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, peran kepala sekolah tidak lagi terbatas sebagai pengelola administrasi sekolah, tetapi berkembang menjadi pemimpin pembelajaran (instructional leader) yang mampu menggerakkan perubahan melalui praktik reflektif dan berbasis data. Salah satu pendekatan yang mendukung penguatan peran tersebut adalah Teacher Experimental Training (TET) atau Siklus TET.
Pendekatan ini dirancang untuk memberikan
pengalaman belajar yang bersifat eksperimental,
sehingga guru atau kepala sekolah tidak hanya memahami konsep transformasi
pembelajaran secara teoritis, tetapi juga mengimplementasikan, mengevaluasi,
dan menyempurnakannya secara langsung di lingkungan sekolah.
Pilar Teori Pendidikan Pendekatan Teacher Experimental Training
Secara akademis, efektivitas TET tidak berdiri di atas ruang kosong.
Model ini mengintegrasikan secara kuat tiga pilar teori pendidikan kelas
dunia:
1. Experiential Learning (David Kolb): Teori ini menegaskan bahwa
pengetahuan dikonstruksi secara dinamis melalui transformasi pengalaman
nyata. Guru dilatih untuk belajar dengan cara yang sama seperti siswa
mereka belajar yaitu melalui siklus trial-and-error, observasi aktif,
dan eksperimentasi langsung di kelas.
2. Reflective Practice (Donald Schön): Schön membedakan antara
refleksi-dalam-tindakan (reflection-in-action) dan
refleksi-atas-tindakan (reflection-on-action). TET mewajibkan pendidik
untuk melakukan refleksi kritis secara terus-menerus selama proses
mengajar dan setelahnya, guna mengubah pengetahuan implisit (tacit knowledge)
menjadi pengetahuan profesional yang eksplisit.
3. Action Research (Kurt Lewin): Siklus TET mengadopsi prinsip penelitian
tindakan kelas (Classroom Action Research). Pendidik
mengidentifikasi masalah riil, merancang intervensi, mengamati dampak secara
empiris, dan melakukan iterasi berkelanjutan demi perbaikan kualitas
instruksional secara real-time.
Melalui sintesis ketiga pilar ini, sekolah tidak lagi dipandang sebagai entitas administratif yang steril, melainkan sebagai laboratorium hidup (living laboratory) tempat teori-teori pendidikan diuji dan disempurnakan.
Manfaat dan Tujuan Pendekatan Teacher Experimental Training
· Meningkatkan inovasi dan kreativitas guru dalam merancang metode belajar.
· Menajamkan kemampuan observasi terhadap pola pikir dan dinamika siswa.
· Melatih adaptabilitas guru dalam menghadapi situasi kelas yang aktif dan
eksploratif.
· Menggeser pelatihan konvensional yang hanya berfokus pada teori menjadi
praktik langsung dan bermakna.
Pelatihan PM dan KKA dengan Pendekatan Teacher Experimental Training
Pelatihan PM dan KKA bagi guru atau kepala
sekolah dirancang sebagai ruang belajar bersama yang mendorong guru atau kepala
sekolah untuk bereksperimen dan belajar langsung dari praktik
mengajar di kelas. Eksperimen ini dilakukan melalui siklus
belajar guru menggunakan pendekatan Teacher
Experimental Training, di mana sekolah menjadi laboratorium
pembelajaran dan kepala sekolah menjadi peneliti sekaligus pelaku.
Pendekatan ini menempatkan guru atau kepala sekolah sebagai
pembelajar profesional yang secara aktif melakukan eksperimen, refleksi,
dan peningkatan kualitas praktik pembelajaran. Siklus TET menggambarkan
bagaimana guru atau kepala sekolah merancang, mengimplementasikan,
merefleksikan, dan menyempurnakan praktik pembimbingan di satuan pendidikan
secara berkelanjutan. Agar proses tersebut dapat dilaksanakan secara sistematis
dan terarah, pelatihan ini disusun dalam suatu struktur program yang memuat
rangkaian kegiatan belajar, alokasi waktu, serta tahapan pelaksanaan pelatihan.
Struktur program ini menjadi panduan bagi FKK dan Bapak/Ibu Guru atau Kepala
Sekolah untuk memahami urutan kegiatan yang akan diikuti, keterkaitan
antarsesi, serta capaian pembelajaran yang diharapkan pada setiap tahap
pelatihan. Dengan memahami struktur program, peserta diharapkan dapat mengikuti
seluruh rangkaian pelatihan secara lebih terarah, aktif, dan optimal.
Siklus Teacher Experimental Training (TET)
Pendekatan pembelajaran eksperimental
menekankan partisipasi aktif guru atau kepala sekolah dalam proses
pembelajaran, memungkinkan guru atau kepala sekolah untuk terlibat dalam
pengalaman langsung dan nyata yang memfasilitasi pengembangan keterampilan dan
pengetahuan baru.
Siklus Teacher
Experimental Training (TET) meliputi tahapan:
1.Identifikasi, mengidentifikasi masalah/kebutuhan berdasarkan indikator keberhasilan
murid, pendidik, dan kepala sekolah dalam implementasi PM;
2.Desain, merancang strategi transformasi pembelajaran; dan melakukan
pra-observasi terhadap perangkat pembelajaran (RPM, media, asesmen);
3. Implementasi, penerapan transformasi pembelajaran; melaksanakan supervisi
pembelajaran di kelas; dan mendokumentasikan proses pelaksanaan untuk merekomendasikan
fokus perbaikan;
4. Amati dan refleksi, mengumpulkan dan menganalisis data dan
melakukan refleksi ketercapaian indikator keberhasilan PM.
5. Re-identifikasi (iterasi), mengidentifikasi kebutuhan baru/perbaikan
berkelanjutan dan memulai kembali siklus pengembangan
6. Berbagi praktik baik, membagikan pengalaman dan hasil praktik
kepemimpinan serta pengelolaan PM di komunitas; melakukan diskusi kelompok
belajar; dan mendapatkan umpan balik untuk penyempurnaan
Teacher Experimental Training (TET) merupakan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang menempatkan guru atau kepala
sekolah sebagai pembelajar profesional. Dalam
pendekatan ini, kepala sekolah khususnya secara aktif melakukan eksperimen
terhadap praktik kepemimpinan pembelajaran, mengumpulkan data, merefleksikan
hasil, dan melakukan perbaikan berkelanjutan.
Melalui siklus yang sistematis, kepala sekolah memperoleh kesempatan
untuk mengembangkan kompetensi kepemimpinan, meningkatkan kualitas supervisi
akademik, serta mendorong implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) secara lebih
efektif di satuan pendidikan.
Pendekatan ini juga memperkuat budaya belajar
sepanjang hayat (lifelong learning) karena setiap
pengalaman dijadikan dasar untuk pengembangan praktik berikutnya.
Tujuan Siklus Teacher Experimental Training (TET)
Siklus Teacher Experimental Training (TET) bertujuan untuk:
· meningkatkan kompetensi kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran;
· memastikan implementasi Pembelajaran Mendalam berjalan secara efektif;
·
membangun budaya refleksi dan perbaikan berkelanjutan;
·
meningkatkan kualitas pembelajaran berdasarkan data nyata di kelas;
· mengembangkan komunitas belajar profesional
melalui praktik berbagi pengalaman.
Tahapan
Siklus
Teacher Experimental Training
(TET)
Siklus Teacher Experimental Training (TET) terdiri atas enam tahapan yang saling
berkesinambungan. Setiap tahap menghasilkan informasi yang menjadi dasar
pelaksanaan tahap berikutnya sehingga membentuk proses peningkatan mutu yang
berkelanjutan. Secara ringkas dapat disimak pada gambar infografis berikut:
1. Identifikasi
Tahap pertama dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan dan
permasalahan pembelajaran berdasarkan indikator keberhasilan
yang telah ditetapkan.
Fokus identifikasi meliputi:
·
Capaian belajar murid;
·
Praktik pembelajaran pendidik;
· Kompetensi kepala sekolah dalam implementasi Pembelajaran Mendalam.
Data dapat diperoleh
melalui:
·
Hasil asesmen murid;
·
Observasi pembelajaran;
·
Refleksi guru;
·
Diskusi dengan warga sekolah;
·
Dokumen pembelajaran.
Tahap ini menjadi fondasi dalam menentukan prioritas perbaikan yang
benar-benar dibutuhkan oleh sekolah.
2. Desain
Setelah kebutuhan teridentifikasi, kepala sekolah merancang strategi
transformasi pembelajaran.
Pada tahap ini dilakukan:
·
Penyusunan strategi perbaikan pembelajaran;
·
Penelaahan perangkat pembelajaran;
· Pra-observasi terhadap: Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPM), media pembelajaran, dan asesmen pembelajaran.
Melalui proses desain, kepala sekolah memastikan bahwa strategi yang
akan diterapkan relevan dengan kebutuhan sekolah dan mampu meningkatkan
kualitas pembelajaran.
3. Implementasi
Tahap implementasi merupakan proses menerapkan strategi yang telah
dirancang ke dalam praktik nyata.
Kegiatan utama meliputi:
·
Penerapan transformasi pembelajaran;
·
Pelaksanaan supervisi pembelajaran di kelas;
·
Pendampingan guru;
·
Dokumentasi proses pelaksanaan.
Selama implementasi, kepala sekolah mengumpulkan berbagai bukti praktik
yang nantinya digunakan sebagai dasar evaluasi dan rekomendasi perbaikan.
4. Amati dan Refleksi
Setelah implementasi berlangsung, kepala sekolah melakukan proses
observasi dan refleksi secara menyeluruh.
Aktivitas yang dilakukan
antara lain:
·
Mengumpulkan data hasil implementasi;
·
Menganalisis perubahan yang terjadi;
·
Membandingkan hasil dengan indikator keberhasilan;
·
Melakukan refleksi terhadap efektivitas strategi yang diterapkan.
Refleksi menjadi bagian
penting karena membantu kepala sekolah memahami:
·
Strategi yang berhasil;
·
Tantangan yang muncul;
·
Faktor pendukung maupun penghambat;
·
Peluang peningkatan kualitas pembelajaran.
5. Re-identifikasi (Iterasi)
Transformasi pembelajaran merupakan proses yang terus berkembang. Oleh
karena itu, setelah refleksi dilakukan, kepala sekolah kembali mengidentifikasi
kebutuhan baru.
Tahap iterasi bertujuan
untuk:
·
Memperbaiki strategi sebelumnya;
·
Mengembangkan inovasi baru;
·
Menyesuaikan pendekatan dengan kondisi sekolah;
·
Memastikan peningkatan mutu berlangsung secara berkelanjutan.
Dengan demikian, Siklus TET tidak berhenti pada satu kali pelaksanaan,
melainkan terus berulang sesuai kebutuhan sekolah.
6. Berbagi Praktik Baik
Tahap terakhir adalah menyebarluaskan pengalaman yang telah diperoleh
kepada komunitas belajar.
Kegiatan yang dapat
dilakukan meliputi:
·
Berbagi praktik kepemimpinan pembelajaran;
·
Diskusi dalam kelompok kerja belajar;
·
Presentasi hasil implementasi;
· Memperoleh umpan balik dari sesama kepala sekolah maupun fasilitator.
Melalui praktik berbagi ini, pengalaman yang berhasil tidak hanya memberikan manfaat bagi satu sekolah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam mengembangkan Pembelajaran Mendalam.
Karakteristik
Siklus Teacher
Experimental Training
(TET)
Siklus TET memiliki beberapa karakteristik
utama, yaitu:
·
Berbasis pengalaman nyata di sekolah;
·
Menggunakan data sebagai dasar pengambilan keputusan;
·
Mengutamakan refleksi profesional;
·
Berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran;
·
Bersifat kolaboratif melalui komunitas belajar;
· Menerapkan prinsip perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).
Pendekatan ini menjadikan kepala sekolah
sebagai agen perubahan yang aktif belajar dari praktik nyata, bukan sekadar
menerima materi pelatihan secara teoritis.
Secara epistemologis, enam karakteristik di atas merupakan perwujudan
konkret dari sintesis tiga teori besar yang melandasi TET:
|
Karakteristik TET |
Pilar Teori Pendukung |
Implikasi Akademis |
|
Berbasis
Pengalaman & Orientasi Output |
Experiential
Learning (David Kolb) |
Pengetahuan
profesional guru dikonstruksi secara dinamis melalui transformasi pengalaman
konkret di kelas. |
|
Refleksi
Profesional & Berorientasi Data |
Reflective
Practice (Donald Schön) |
Guru
mengubah pengetahuan implisit (tacit knowledge) menjadi aksi pedagogis
eksplisit yang dapat diukur. |
|
Iteratif
& Kolaboratif |
Action
Research (Kurt Lewin) |
Kelas
dikelola menggunakan siklus penelitian tindakan kelas secara kolaboratif
untuk menyelesaikan masalah pembelajaran secara real-time. |
Manfaat Implementasi Siklus Teacher Experimental Training (TET)
Penerapan Siklus TET memberikan berbagai manfaat, antara lain:
Bagi
Kepala Sekolah
·
Meningkatkan kompetensi kepemimpinan pembelajaran;
·
Memperkuat kemampuan supervisi akademik;
·
Meningkatkan kemampuan analisis data pembelajaran;
·
Membangun budaya refleksi profesional.
Bagi
Guru
·
Memperoleh pendampingan yang lebih terarah;
·
Meningkatkan kualitas perencanaan pembelajaran;
·
Memperoleh umpan balik yang konstruktif;
·
Terdorong melakukan inovasi pembelajaran.
Bagi
Murid
·
Memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna;
·
Meningkatnya keterlibatan dalam proses pembelajaran;
·
Meningkatnya hasil belajar dan kompetensi abad ke-21.
Bagi
Sekolah
·
Terciptanya budaya belajar profesional;
·
Meningkatnya kualitas implementasi Pembelajaran Mendalam;
·
Terbentuknya sistem peningkatan mutu yang berkelanjutan.
Struktur
Program Pelatihan Siklus Teacher
Experimental Training
(TET)
Agar seluruh tahapan dapat dilaksanakan secara
sistematis dan terarah, pelatihan Siklus TET disusun dalam sebuah struktur
program yang memuat:
·
Urutan kegiatan pembelajaran;
·
Tahapan pelaksanaan pelatihan;
·
Alokasi waktu setiap sesi;
·
Aktivitas praktik lapangan;
·
Proses refleksi;
·
Capaian pembelajaran pada setiap tahap.
Struktur program ini menjadi panduan
bagi Fasilitator Kelompok Kerja (FKK) maupun kepala
sekolah dalam memahami keterkaitan antar kegiatan, tujuan setiap sesi, serta
hasil yang diharapkan selama mengikuti pelatihan.
Dengan memahami struktur program tersebut, peserta diharapkan mampu
mengikuti seluruh rangkaian pelatihan secara aktif, sistematis, dan optimal
sehingga setiap tahapan benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan
kualitas kepemimpinan pembelajaran di satuan pendidikan.
Contoh Praktik Nyata Teacher
Experimental Training
Salah satu contoh praktik baik (best
practice) yang sangat representatif mengenai integrasi Siklus TET
dalam implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding &
Kecerdasan Artifisial (KKA) dapat kita temukan pada praktik pembelajaran
anak usia dini dan sekolah dasar yang dirilis oleh Kemendikdasmen pada Juli
2026.
Secara akademis, contoh ini menarik karena membuktikan bahwa KKA yang
sering kali diasosiasikan secara sempit dengan perangkat komputer canggih dapat
diajarkan melalui pendekatan berpikir komputasional (computational
thinking) tanpa gawai (unplugged/screen-free) menggunakan media
kontekstual di sekitar siswa.
Berikut adalah dekonstruksi akademis dari praktik baik tersebut:
Kasus Utama: Eksperimen Numerasi dan Berpikir Komputasional Berbasis Lingkungan
Praktisi: Tri Oktinawati (Guru di TKIT SD Insan Madani)
1. Masalah yang Diidentifikasi
(Fase Identifikasi)
Sebelum menerapkan eksperimen
ini, tantangan yang dihadapi guru PAUD/TK adalah bagaimana mengenalkan konsep
matematika dasar (numerasi) dan fondasi berpikir komputasional (computational
thinking) kepada anak usia dini tanpa membuat mereka bergantung pada layar
gawai (screen time). Guru juga menyadari bahwa sekadar meminta anak
menghitung objek secara mekanis tidak menghasilkan pemahaman yang mendalam.
2. Rancangan Eksperimen (Fase
Desain)
Melalui pelatihan PM-KKA
berbasis TET, guru merancang sebuah modul instruksional yang mengintegrasikan:
- KKA
(Koding):
Berfokus pada konsep berpikir komputasional dasar, yaitu dekomposisi
(memecah masalah menjadi bagian kecil), pengenalan pola, dan abstraksi.
- PM
(Pembelajaran Mendalam):
Menghubungkan konsep numerasi dengan tema kontekstual lokal yang
konkret—dalam kasus ini adalah tanaman bayam yang sedang dipelajari
siswa.
- Afirmasi
Nilai:
Menyelipkan pesan moral dan kesehatan tentang manfaat bayam (kandungan zat
besi) bagi tubuh.
3. Penerapan di Kelas (Fase
Implementasi)
Dalam praktiknya di ruang kelas, guru melakukan eksperimen berikut:
- Alih-alih
menghitung angka secara abstrak atau menggunakan aplikasi komputer,
anak-anak diajak berinteraksi langsung dengan media fisik (daun bayam).
- Anak-anak
belajar melakukan dekomposisi dengan memisahkan bagian-bagian
tanaman bayam (daun, batang, akar).
- Mereka
melakukan pengenalan pola dengan mengelompokkan daun bayam
berdasarkan ukuran (besar ke kecil) atau bentuknya, lalu menghitungnya (numerasi
kontekstual).
- Selama
proses tersebut, guru bertindak sebagai fasilitator aktif yang membangun engagement
dengan memberikan afirmasi positif bahwa mengonsumsi bayam menyehatkan
tubuh karena mengandung zat besi.
4. Analisis Dampak (Fase Amati,
Refleksi, dan Berbagi)
Melalui observasi langsung, guru
mencatat bahwa siswa menjadi jauh lebih aktif, antusias, dan mudah memahami
konsep numerasi dibanding metode hafalan tradisional. Eksperimen ini berhasil
membuktikan secara empiris bahwa pengenalan logika komputasional (coding)
sejak dini dapat dilakukan secara aman dan sehat tanpa meningkatkan screen
time anak.
Hasil dari eksperimen mandiri
ini kemudian dibawa oleh guru ke forum Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk
direfleksikan bersama sejawat dan kepala sekolah guna mendapatkan umpan balik
serta penyempurnaan rancangan pembelajaran berikutnya.
Kasus Pendukung: Kontekstualisasi Matematika Berbasis Budaya Lokal
Praktisi: Muhammad Jiyad Prawira (Guru di SDN Batu Ampar 01 Jakarta Timur)
Pada jenjang sekolah dasar, Jiyad menerapkan eksperimen TET untuk
mengatasi masalah kejenuhan siswa terhadap pelajaran matematika yang teoritis.
· Eksperimen: Ia mendesain pembelajaran matematika yang dikaitkan langsung dengan
kebudayaan lokal dan lingkungan keseharian siswa di Jakarta.
· Hasil: Suasana kelas menjadi jauh lebih hidup. Siswa tidak lagi sekadar
menghitung formula di atas kertas secara pasif, tetapi mampu menganalisis
kegunaan praktis matematika dalam konteks budaya lokal mereka. Keaktifan dan
pemahaman konseptual siswa meningkat secara signifikan karena materi terasa
dekat dengan realitas kehidupan mereka
Penutup
Siklus Teacher Experimental Training (TET) merupakan pendekatan pelatihan yang
menempatkan kepala sekolah sebagai pembelajar profesional yang senantiasa
melakukan eksperimen, observasi, refleksi, dan penyempurnaan praktik
kepemimpinan pembelajaran. Melalui enam tahapan yang saling berkesinambungan Identifikasi, Desain, Implementasi, Amati dan Refleksi,
Re-identifikasi (Iterasi), serta Berbagi Praktik Baik kepala sekolah
mampu membangun budaya peningkatan mutu yang berlandaskan data, kolaborasi, dan
pembelajaran berkelanjutan.
Lebih dari sekadar model pelatihan, Siklus TET menjadi kerangka kerja yang mendorong transformasi pendidikan secara nyata. Dengan menerapkan siklus ini secara konsisten, kepala sekolah dapat memperkuat implementasi Pembelajaran Mendalam, meningkatkan profesionalisme guru, serta menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi setiap murid. Hasil akhirnya adalah terciptanya satuan pendidikan yang adaptif, reflektif, inovatif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.



















0 comments:
Posting Komentar