Rabu, 25 April 2012

CARA PEMENUHAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN


Saat ini banyak sekolah yang berusaha untuk mengadopsi atau mengadaptasi kurikulum dari luar (cambridge) terutama sekolah yang berlabel RSBI. Kurikulum dari luar tersebut belum tentu sesuai dengan kultur budaya kita.Di samping itu juga sekolah masih banyak yang belum melaksanakan pemenuhan delapan standar pendidikan. Seandainya delapan standar pendidikan tersebut terpenuhi, bisa jadi sebenarnya sekolah tersebut bisa menyamai kurikulum dari luar tersebut.
          Maka diharapkan sekolah-sekolah yang akan melakukan adopsi dan adaptasi kurikulum dari luar haruslah melakukan pemenuhan standar nasional pendidikan terlebih dahulu. Standar nasional pendidikan tersebut harus dipenuhi terutama yang berhubungan dengan guru  misalnya standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, dan standar penilaian. Selanjutnya baru standar yang berhubungan dengan sarana, pendidik dan tenaga kependidikan, pengelolaan, dan pembiayaan.
 Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan di SMA sulit dilaksanakan secara simultan, sehingga pemenuhannnya menggunakan skala prioritas. Pemenuhan SNP dapat mempertimbangkan standar yang memiliki ketercapaian tinggi, dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia baik tenaga, sarana prasarana maupun pembiayaan.  Agar proses pemenuhan SNP dapat terlaksana secara efektif, efisien dan memberi hasil yang optimal perlu adanya peran serta, kolaborasi dan komitmen bersama dari seluruh pihak yang terkait secara berkelanjutan dan sinergis, sesuai dengan tugas pokok dan kewenangan masing-masing.
A.     Strategi Pemenuhan SNP di SMA
Sekolah harus menyusun dan melaksanakan program pemenuhan SNP yang realistis dan sesuai kondisi nyata (berdasarkan hasil analisis konteks) dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia baik di dalam maupun di luar sekolah, melalui berbagai strategi antara lain:
1.    Pemenuhan Standar Isi dapat dilaksanakan melalui pengembangan dan pemberlakuan KTSP sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang berlaku; mensosialisasikan KTSP baik internal maupun eksternal; mengevaluasi dan memvalidasi dokumen KTSP secara periodik.  

Minggu, 22 April 2012

INSTRUMEN PENILAIAN RANAH KOGNITIF DAN PSIKOMOTOR


Instrumen penilaian  yang dapat dipakai dalam sistem penilaian berbasis kompetensi dapat terkait dengan ranah kognitif ataupun psikomotor, antara lain yaitu sebagai berikut.
1.    Kuis: Waktu yang diperlukan relatif singkat, kurang lebih 15 menit dan hanya menanyakan hal-hal yang prinsip saja dan bentuknya berupa jawaban singkat dengan tingkat berpikir rendah. Biasanya kuis diberikan sebelum pelajaran baru dimulai, untuk mengetahui penguasaan pelajaran yang lalu secara singkat. Namun bisa juga kuis diberikan setelah pembelajaran selesai, yaitu untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap bahan ajar yang baru diajarkan. Bila ada bagian pelajaran yang belum dikuasai, sebaiknya guru menjelaskan kembali dengan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda.
2.    Pertanyaan lisan di kelas: Materi yang ditanyakan berupa pemahaman terhadap konsep, prinsip, atau teorema. Teknik bertanya yang baik adalah mengajukan pertanyaan ke kelas, memberi waktu sebentar untuk berpikir, dan kemudian memilih peserta didik secara acak untuk menjawab. Jawaban peserta didik benar atau salah selalu diberikan ke peserta didik lain atau minta pendapatnya terhadap jawaban peserta didik yang pertama. Kemudian guru menyimpulkan tentang jawaban peserta didik yang benar. Pertanyaan lisan ini bisa dilakukan di awal pelajaran, di tengah,  atau di akhir pelajaran. Dalam arti  kata bahwa pertanyaan bisa diberikan sepanjang kegiatan pembelajaran berlangsung.

3.    Ulangan harian : Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih. Bentuk soal yang digunakan sebaiknya bentuk uraian objektif atau yang non-objektif. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya mencakup sampai ke tingkat berpikir tinggi.
4.    Tugas individu : Tugas individu dapat diberikan setiap minggu dengan bentuk tugas/soal uraian objektif atau non-objektif. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya aplikasi, analisis, bila mungkin sampai sintesis dan evaluasi. Tugas individu untuk mata pelajaran tertentu dapat terkait dengan ranah psikomotor, seperti menugasi peserta didik untuk melakukan observasi lapangan dalam Geografi atau menugasi peserta didik untuk berlatih tari dan musik pada pelajaran Seni Budaya.
5.    Tugas kelompok : Tugas kelompok digunakan untuk menilai kemampuan kerja kelompok. Bentuk soal yang digunakan adalah uraian dengan tingkat berpikir yang tinggi yaitu aplikasi sampai evaluasi. Bila mungkin peserta didik diminta untuk menggunakan data sebenarnya, melakukan pengamatan terhadap suatu gejala, atau merencanakan sesuatu proyek. Proyek pada umumnya menggunakan data sesungguhnya dari lapangan. Seperti halnya tugas individu, tugas kelompok dapat terkait dengan ranah psikomotor.
6.    Laporan kerja praktik atau laporan praktikum : Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya, seperti Fisika, Kimia, dan Biologi. Peserta didik bisa diminta untuk mencatat dan melaporkan hasil praktik yang telah dilakukan.
7.    Responsi atau ujian praktik : Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya, seperti Fisika, Kimia, dan Biologi yaitu untuk mengetahui penguasaan akhir baik dari ranah kognitif maupun psikomotor. Ujian responsi bisa dilakukan diawal praktik atau setelah melakukan praktik. Ujian dilakukan sebelum praktik bertujuan untuk mengetahui kesiapan peserta didik melakukan praktik di laboratorium, sedang bila dilakukan setelah praktik, tujuannya untuk mengetahui kompetensi dasar praktik yang dicapai peserta didik dan yang belum.
Tingkat berpikir peserta didik yang terlibat dalam mengerjakan tugas-tugas dalam sistem penilaian yang berbasis kompetensi meliputi: tingkat berpikir yang berkait dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berisi tentang konsep, prinsip, dan fakta-fakta, sedang prosedural mencakup proses, strategi, aplikasi, dan keterampilan.
Sumber: Rambu-Rambu Penilaian SMA

Rabu, 18 April 2012

KUMPULAN BUKU GENERAL CHEMISTRY

AP CHEMISTRY FOR DUMMIES, PDF, 7,77 MB
LINK DOWNLOAD : MEDIAFIRE
Keterangan Buku : 
Buku ini berisikan panduan untuk mengikuti ujian kimia, ringkasan materi, soal dengan penjelasan jawabannya.

 PROBLEM SOLVERS CHEMISTRY, PDF, 35,88 MB
LINK DOWNLOAD : MEDIAFIRE
Keterangan Buku :
Buku ini berisi kumpulan soal dengan cara penyelesaiannya untuk setiap konsep yang terdapat dalam pembelajaran kimia.

CHEMISTRY SUCCESS IN 20 MINUTES A DAY, PDF, 12,12 MB
LINK DOWNLOAD : MEDIAFIRE
Keterangan Buku :
Buku ini dilengkapi dengan soal pretest untuk mengukur kemampuan awal sebelum mempelajari konsep-konsep kimia lebih mendalam. Konsep-konsep kimia yang ada dalam buku ini juga dilengkapi dengan tips atau cara singkat untuk menyelesaikannya dan pada akhir buku ini dilengkapi dengan kunci jawaban dari soal latihan.

GENERAL CHEMISTRY, PDF, 150 MB
LINK DOWNLOAD : MEDIAFIRE
Keterangan Buku :
Buku ini merupakan salah satu pegangan untuk belajar kimia di universitas. Buku ini dilengkapi dengan banyak gambar yang memudahkan kita memahami konsep kimia. Buku ini juga memuat contoh soal dengan cara penyelesaiannya tahap demi tahap yang dilengkapi dengan strategi penyelesaian dan soal latihan untuk menguji kemampuan anda.

 SCAHUM'S OUTLINES COLLEGE CHEMISTRY, PDF, 22,38 MB
LINK DOWNLOAD : MEDIAFIRE
Keterangan Buku :
Buku ini merupakan buku yang berbentuk ringkasan materi yang dilengkapi dengan puluhan soal untuk setiap konsep yang dibahas dan dilengkapi dengan kunci jawaban. Buku ini baik digunakan untuk belajar secara mandiri untuk memperkuat pemahaman konsep kimia.


SPARK CHARTS CHEMISTRY, PDF, 1,75 MB
LINK DOWNLOAD : MEDIAFIRE
Ringkasan Charta :
Charta ini berisi ringkasan materi kimia dasar yang dilengkapi dengan gambar dan warna yang menarik.


Minggu, 15 April 2012

STRATEGI PENINGKATAN MUTU GURU


Menggantungkan harapan peningkatan kemampuan profesi hanya pada penyelenggaraan penataran bukan strategi melainkan tragedi. Ada beberapa alasan mengapa itu berbahaya, Pertama semakin banyak penataran yang guru ikuti sesungguhnya kontra produktif pada peningkatan efektivitas belajar siswa. Semakin banyak penataran semakin banyak kegiatan belajar siswa terganggu.  Alasan lain jumlah guru pada masa otonomi ini semakin banyak. Karena itu, jika pembinaan peningkatan mutu bergantung pada sistem penataran, maka akan semakin tinggi biaya yang dibutuhkan. Secara empirik terbukti bahwa tidak pernah penataran dapat dinikmati oleh seluruh guru, hanya guru-guru yang memiliki kompetensi tertentu yang banyak mendapatkan peluang.
Pengalaman menunjukkan pula penyebarluasan hasil penataran kepada guru-guru lain di sekolah sebagai produk pemusatan latihan guru secara nasional mapun lokal pada umumnya tidak berjalan efektif. Pelatihan yang selama ini dilaksanakan telah meningkatkan kompetensi guru namun belum tentu berpengaruh pada meningkatnya kompetensi siswa. Selain itu juga, kadang-kadang guru yang mengikuti pelatihan atau  penataran yang mereka cari bukan ilmunya melainkan sertifikat yang akan mereka peroleh.
Kemudian juga masih banyak sekolah yang belum mengidentifikasi standar kompetensi yang perlu dikuasai siswa di samping kompetensi yang berasal dari standar isi. Diharapkan dengan terindentifikasinya kompetensi siswa, maka sekolah juga dapat menentukan kompetensi guru di dalam membimbing siswa untuk mencapai kompetensi siswa tersebut. Setelah kompetensi guru diindentifikasi maka baru dapat ditentukan strategi untuk meningkatkan kompetensi guru tersebut.
Terdapat empat strategi untuk meningkatkan mutu kompetensi guru di sekolah yaitu:
Pertama, peningkatan melalui pendidikan dan pelatihan (off the job training). Guru dilatih secara individual maupun dalam kelompok untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terbaik dengan menghentikan kegiatan mengajarnya. Kegiatan pelatihan seperti ini memiliki keunggulan karena guru lebih terkonsentrasi dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Namun demikian kegiatan seperti ini tidak dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan terlalu sering. Semakin sering pelatihan seperti ini dilakukan, semakin meningkat dampak kontra produktifnya terhadap efektivitas belajar siswa.

Minggu, 08 April 2012

Kriteria Guru yang Mengajar pada Program Akselerasi


Siswa berbakat intelektual merupakan sekelompok siswa yang memiliki keunggulan dan karakteristik unik yang berbeda dari siswa biasa.  Sebab itu mereka memerlukan guru khusus yang sesuai untuk mengajar  mereka.  Dan  dalam  menyediakan  guru-guru  untuk  siswa berbakat intelektual harus bertitik tolak dari kondisi dan ciri-ciri khas siswa berbakat intelektual tersebut.
Dalam proses pendidikan siswa berbakat intelektual, semua yang terlibat  harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa tersebut, termasuk juga guru.  Bahkan guru yang merupakan masukan terpenting karena gurulah dalang dalam proses belajar mengajar itu. Mengingat ciri-ciri khas siswa berbakat intelektual yang menuntut pelayanan secara khas pula dari pihak guru, maka seyogyanya jika guru dipersiapkan secara khusus.
Guru untuk siswa berbakat intelektual harus memiliki  karakteristik  khusus.  Karakteristik  yang diharapkan ada  pada  guru  siswa  berbakat  intelektual   dapat digolongkan menjadi  karakteristik   filosofis,   profesional, dan kepribadian.  Karakteristik  filosofis  penting  karena  pandangan  guru mengenai pendidikan ikut menentukan pendekatan terhadap siswa di dalam  atau pun di luar kelas. Guru siswa berbakat intelektual perlu mencerminkan  sikap  kooperatif  dan  demokratis,  serta  mempunyai kompetensi  dan  minaterhadap proses  pembelajaran. Karakteristik professional meliputi strategi untuk  mengoptimalkan belajar siswa berbakat intelektual, keterampilan bimbingan dan  penyuluhan, pengetahuan dan pemahaman psikologi siswa berbakat  intelektual. Karakteristik pribadi meliputi empati, toleransi, kesejatian, aktualisasi diri, dan antusisme atau semangat.

Rabu, 04 April 2012

PROGRAM SISWA CERDAS ISTIMEWA ATAU BERBAKAT ISTIMEWA (AKSELERASI)


Oleh:
Adi Saputra, M.Pd
Program siswa berbakat adalah program pendidikan yang memberikan kesempatan kepada siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata atau cerdas istimewa (CI) atau berbakat istimewa (BI) untuk dapat menyelesaikan program pendidikannya dalam waktu lebih cepat dari siswa lainnya. Program pendidikan yang dimaksud di atas disebut Program Percepatan Belajar atau program siswa berbakat akademik dimana siswa SMA dapat menyelesaikan pendidikannya dalam waktu dua tahun. Landasan hukum untuk melaksanakan program siswa berbakat adalah Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 ayat 4 dan Pasal 12 ayat 1. Di samping itu juga program akselerasi ini lebih murah dari segi biaya dibandingkan dengan kelas reguler, karena hanya membutuhkan waktu 2 tahun untuk menamatkan pendidikan di SMA.

A.       Karakteristik Siswa Cerdas Istimewa/Berbakat Istimewa
Berikut adalah perbedaan karakteristik antara anak CI+BI dengan anak cerdas:
Cerdas/Berbakat istimewa
(Gifted-talented)
Cerdas
(Bright/ High Achiever)
Mempersoalkan pertanyaan
Menjawab pertanyaan dengan benar
Penasaran dengan sesuatu
Berminat dengan sesuatu
Terlibat secara emosional, mental dan fisik
Menunjukkan perhatian
Punya gagasan yang aneh, konyol dan di luar keumuman
Punya gagasan yang bagus, populer
Jarang belajar, hasil ujian bagus
Bekerja keras untuk sukses ujian
Memperluas konteks jawaban
Menjawab soal sesuai dengan yang ditanyakan
Di luar kelompok, berprestasi normal
Di puncak daftar peserta didik berprestasi
Gemar kompleksitas
Suka linearitas
Pengamat yang kritis, bawel
Pemerhati yang baik
Menyimak untuk siap berdebat
Mendengarkan dengan penuh minat
1-2 kali pengulangan untuk menguasai materi
6-8 kali pengulangan untuk menguasai materi
Membentuk gagasan sendiri
Memahami gagasan orang lain dengan baik
Lebih suka bergaul dengan orang dewasa atau lebih tua
Senang berteman dengan teman sebaya
Mempertanyakan keputusan
Menarik kesimpulan
Memulai proyek sendiri
Menyelesaikan tugas yang diberikan
Bagus dalam menciptakan sesuatu yang baru
Pintar menyalin, meniru
Suka belajar
Suka sekolah
(sumber: CGIS-Net Assessment System, 2008 dalam kumpulan makalah Konferensi Nasional ke-1 Pengembangan pendidikan Khusus untuk siswa Cerdas/Berbakat Istimewa, Malang, 5-8 Februari 2010).